Penyebab Setengah Lebih Penduduk Dunia Belum Terhubung Internet

Menjelang akhir tahun 2016, sebuah lembaga bentukan PBB, Uni Telekomunikasi Internasional (ITU) merilis bahwa hampir setengah penduduk dunia menggunakan Internet. Tren ini seiring dengan perkembangan jaringan seluler dan penurunan harga perangkat telekomunikasi.

Dalam laporan tersebut,  di negara-negara maju sekitar 80 persen dari warganya menggunakan Internet. Namun, hanya sekitar 40 persen warga di negara berkembang dan 15 persen di negara miskin yang telah terhubung dengan Internet.

Di beberapa negara miskin seperti Afrika, hanya satu dari 10 orang terhubung dengan Internet. Yang tidak terhubung dengan Internet adalah kelompok perempuan, tua, kurang berpendidikan, miskin dan tinggal di pedesaan, kata lembaga itu, yang khusus untuk informasi dan teknologi komunikasi.

Terpisah, pada akhir Oktober silam Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) melalui surveynya juga mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Survei itu menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet, dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 256,2 juta orang.

Secara global, kini 47 persen dari penduduk dunia terhubung dengan Internet. Sekitar 3,9 miliar orang, masih lebih dari setengah populasi dunia, belum terhubung dengan Internet.

"Pada 2016, orang tidak lagi mencoba online. Mereka selalu online. Penyebaran jaringan 3G dan 4G di seluruh dunia telah membawa Internet kepada s emakin banyak orang," menurut laporan tersebut.

Perusahaan telekomunikasi dan Internet berkembang pesat sehingga lebih banyak telepon pintar muncul dengan harga terjangkau yang mendorong konsumen untuk berselancar dengan Internet dan menyebabkan pertumbuhan permintaan layanan data-besar. Namun, negara miskin masih tertinggal daripada yang lain.

"Tingkat penetrasi Internet di LDC (negara miskin atau kurang maju) hari ini telah mencapai tingkat penetrasi oleh negara-negara maju pada tahun 1998, yang menunjukkan bahwa LDC tertinggal hampir 20 tahun di belakang negara-negara maju, "kata laporan itu dikutip dari Antara.

Lembaga itu menyatakan bahwa biaya layanan dan kekurangan prasarana untuk pelanggan pedesaan dan terpencil serta biaya tinggi penggunaan telepon pintar sebagai penyebab ketidakmerataan internet.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua APJII Jamalul Izza

“Penyebabnya adalah perkembangan infrastruktur dan mudahnya mendapatkan smartphone atau perangkat genggam," terang Izza saat pers rilis survei APJII di Jakarta oktober lalu.

Untuk melihat detil publikasinya, bisa diunduh disini

Categories: