Warsito, Ketika Inovasi Terhambat Regulasi

Teknopreneur.com- “Saya tak pernah mengundang mereka (para pasien) untuk datang ke klinik ini. Mereka yang datang ke saya, hingga saya kebingungan, saya bukan dokter tapi mereka minta agar diobati,”terang Warsito P Taruno.

Akhirnya di tahun 2012 saya melayangkan surat ke Kementerian Kesehatan agar riset yang kita lakukan diawasi oleh Kemenkes. Menteri kesehatan saat itu justru menyambut baik dan tak ada masalah. Jika mengacu kepada MoU di tahun 2012 tersebut maka tak ada masalah.

Namun Warsito heran mengapa kini secara tidak langsung kliniknya justru disarankan agar ditutup.  Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan surat untuk PT Edward Technology agar tidak melakukan pelayanan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) atau alat pemindai listrik dan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) atau alat pembunuh sel kanker. Padahal Menkes sebelumnya justru Bahkan Menkes periode berikutnya justru menyuruh agar kalangan dokter  turut untuk melakukan riset ini..

Sebenarnya inovasinya dipermasalahkan atau tidak bagi Warsito tidaklah berpengaruh bagi karir Warsito. Bagi saya karier saya selama ini sudah cukup, apalagi kini ada 10 negara yang akan menjalin kerjasama riset mengenai kedua alat ini bersama dirinya. Bahkan di beberapa negara alat pembunuh sel kanker ini justru sudah dikembangkan seperti  Jepang sudah satu setengah tahun, di Polandia enam bulan dan Jeman setahun. Selain itu  alat ini bukan hanya untuk menyembuhkan kanker namun sebagai mata pencaharian  karyawannya yang 70% sudah di PHK karena tidak ada pemasukan

Menanti Jawaban dari Kemenkes dan Kemenristek

Dan meski masih dalam proses review inovasi yang dihasilkan Warsito ini masih ikut serta dalam beberapa pameran Teknologi seperti saat Rapat Kordinasi Kemeristek. Klinik Warsito yang bernama CTECH Laboratories pun masih tetap dibuka meski sejak tanggal 2 Desember tak diperbolehkan menerima pasien baru.

Sedangkan untuk pasien lama disarankan untuk berobat ke delapan rumah sakit yang direkomendasikan oleh Kemenkes dan Kemenristek yang tersebar di 8 wilayah di Indonesia seperti RS Hasan Sadikin, RS Dr Karyadi, RSCM, RS Sanglah, RS Persahabatan, RS Sardjito, RS Soetomo, dan RS Dharmais. Namun untuk pasien yang masih mau berobat di Klinik yang terletak di daerah alam sutera tersebut maka diperbolehkan sambil menunggu hasil review.

Warsito menyadari bahwa inovasinya belum dilakukan uji klinis. Hal ini karena terhambat oleh biaya dan waktu. Uji klinis yang dilakukan bisa mencapai 100 milyar dengan waktu sekitar 10 hingga 20 tahun, itu baru sel lain. Sedangkan untuk uji sel dan uji hewan, itu akan difasilitasi oleh kemenristek dikti  untuk penelitian universitas akan dibentuk konsorsium.

Selain itu Warsito tidak mau melakukan uji klinis jika di Indonesia payung hukumnnya belum jelas. Menurut pria lulusan Jepang ini dirinya seperti diputar.  Pertama aturan (PP/Permenkes) tentang penelitian alat kesehatan sesuai yang diamanahkan pasal 38 UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan belum ada, aturan uji klinis alat kesehatan juga belum ada. Namun jika mengacu

“Jika dibilang belum melapor karena saya bukan dokter dan harus melapor ke Kemenkes atau IDI, itu sudah dilakukan sejak tahun 2012 kami melayangkan suratnya, yang saya keluhkan, begitu banyak orang yang datang ke saya sedangkan saya bukan berprofesi sebagai dokter, mereka minta jalan keluar ke menkes dan mengirim surat ke IDI. Kami minta diarahkan dibimbing dan diawasi, waktu itu dibuat MoU yang mengatakan bahwa tak masalah inovasi tersebut tapi nyatanya  tidak berjalan yang jelas selama hasil review kemarin, aturan itu harus dalam bentuk pemerintah, harus WHO akan bandying jika itu dijadikan peraturan pemerintah atau peraturan menteri, “terang Warsito.

Ketika Si Bukan Dokter Bisa Menyembuhkan

Menurut Kepala Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, Dr Siswanto untuk mengembangkan alat kesehatan seperti terapi, tahapannya cukup panjang, harus ada kaidah-kaidah ilmiah yang harus dipenuhi, dan memiliki tahapannya sendiri, yakni  tahap ada prakilinik dan uji klinik.

Uji praklinik mulai mendesain alatnya sendiri, dan uji vitro jika dia diklaim mengobati kanker payudara maka harus diuji dengan sel lain yang merupakan sel induk payudara. Jika itu alat dengan listrik maka harus diuji coba dengan  listrik. Lalu bagaimana hasilnya jika sel tersebut mati  atau pertumbuhan terhambat berarti alat tersebut memang bisa digunakan untuk menyembuhkan kanker payudara, Setelah itu masuk hewan uji coba, terus dicoba hewan coba dijadikan kanker payudara. Jika alatvtersebut dicoba dan ternyata sel kanker mengecil maka baru menginjak pada fase manusia.

Pada manusia itu ada tahap  fase 1 dilihat pada manusia sehat, lihat pencernaan bagaimana ginjal dan organ lainnya, jika itu lolos uji maka harus melalui fase dua, pada orang sakit. Jika diklaim pada kanker payudara maka diuji coba pada kanker payudara lalu pada fase tiga pada pasien lebih banyak apakah alat tersebut efektif atau tidak.

Setelah itu baru masuk fase tiga, jika sudah masuk pase tiga barulah bisa dikatakan sebagai pelayanan kesehatan. Atau sebelum digunakan izin edar, obat BPOM jika alat kesehatan dirjen famasi dan alat kesehatan.

Sedangkan inovasi yang ditemukan oleh Warsito yang diklaim bisa mengobati kanker  hingga saat ini khasiat tersebut baru tanda tanya.  Jika tidak benar bisa menyebar, maka itu bisa membahayakan pasiennya. Sehingga harus melalui proses pengujian. Setelah melakukan review bersama kemenristek dikti pada warsito itu simultan invitrom uji hewan dan manusia itu bareng. Dan uji klinisnya, bukan orang medis, kan agak sulit ahli fisika melihat kesembuhan kanker, harusnya sinergi. Agak tidak lazim, jika penemu, pengembang pengguna itu hanya pada single agen atau hanya satu orang. Karena jika ujung dipake berarti itu profesi kedokteran,”jelas Siswanto.

Siswanto pun membantah jika pengujian yang dilakukan justru menghambat inovasi Warsito. Menurutnya kemenristek dan kemenkes sangat mendukung inovasi ini dan inovasi apapun yang mendukung kemandirian obat dan alat kesehatan. Namun kita memang harus melalui tahapan panjang dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

”Itu punya waktu bukan polling ini desain eksperimental sehingga perlu waktu jadi perlu bisa mencapai  10-15 tahun. Kira-kira pengujian ini akan selesai dalam jangka waktu lima  dengan perhitungan uji invitro setahun, uji hewan coba 1 tahun, uji fase dua setahun alat pak warsito harus dibandingkan dengan alat terapis lainnya jika sebanding maka boleh digunakan. Karena ini bukan sekedar regulasi tapi menyangkut nyawa manusia bukan seperti inovasi lainnya. yang berupa alat biasa yang jika tak sesuai bisa dibuang atau uninstall,”terang Siswanto.

 

Categories: