Tips Start Up Bisnis dari Surabaya

Teknopreneur, Surabaya - Setelah diselenggarakan di Bandung dan Jakarta, BRI Teknoforum seri roadshow yang terakhir sukses dihelat  di Kota Surabaya pada 25 Mei lalu. Bertempat di Gedung Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, meeting forum ini menggandeng SuWeC (Surabaya Web Community) sebagai salah satu komunitas pegiat teknopreneur di Surabaya.

Meeting forum yang mengeksplorasi lebih jauh mengenai bootstrapper vs fundraiser ini menghadirkan pembicara diantaranya Arief Widhiyasa CEO Agate Studio, Achmad Zulkarnain CEO & Founder Trust Solution, dan Muhammad Makki Perwakilan BRI Cabang Surabaya.

Mereka membagi pengalaman dan tips berharga dalam presentasinya tentang membangun bisnis teknologi sejak awal hingga berkembang seperti saat ini. Sebagai salah satu elemen penting dalam membangun bisnis, faktor modal  finansial memegang peranan yang cukup vital selain faktor lainnya. Dengan dua model investasi bisnis yakni Bootstrapping dan Fundraising, keduanya memiliki keunggulan dan resiko yang sama. Tergantung dari kebutuhan dan tantangan bisnis yang dihadapi oleh para start up. Terlebih, saat ini lembaga perbankan di Indonesia banyak yang memiliki program pendanaan bagi start up dan pelaku di industri kreatif.

Seperti yang diutarakan oleh perwakilan BRI yang dalam forum kali ini merupakan salah satu penyokong utama kegiatan mengatakan bahwa pihaknya telah menyadari sejak lama tentang potensi berkembangnya industri kreatif nasional khususnya di  Surabaya. Lembaganya akan menyokong pendanaan bagi para pelaku industri kreatif yang masih start up namun berpotensi berkembang ke depannya.

“Sejak lama kami telah memberikan support di bidang teknopreneurship. Seperti tahun lalu kami melakukan pendanaan bagi mahasiswa ITS yang mengajukan proposal bisnis teknologi, berjalan dan berkembang hingga sekarang,” tukas Muhammad Makki.

Terpisah, mengenai Bootstrapping Achmad Zulkarnain berpendapat bahwa pendanaan bisa dikumpulkan oleh pebisnis start up dari unit usaha lainnya sementara fokus inovasi bisa berbarengan dilakukan sambil bisnis tersebut berkembang.

“Inovasi terkadang butuh dana yang cukup banyak, para start up dituntut untuk pintar me-manage keuangannya dengan baik. Sumber pendanaan sebaiknya jangan mengandalkan produk, tetapi dari project atau services,” ujar bapak tiga anak yang mulai membuat perusahaan di usia 26 tahun ini.

Achmad menambahkan bahwa menjadi pebisnis pemula yang kemampuannya  berbeda dan terbatas, jangan langsung mematok harapan yang tinggi. Jika gagal, jangan sampai semangatnya turun dan menghilangkan semangat entrepreneur. Lebih baik bertahap namun pasti.

“Start up harus siap untuk berinovasi, implementasi ide dan langsung action. Jangan menunda,” tutupnya.

Categories: