Meneliti Itu Harus Perhatikan Cost and Demand!

Teknopreneur.com-Menjadi peneliti itu memang tak mudah terkadang ingin meneliti sesuai dengan keinginan pribadi. Namun ternyata hasilnya tak diinginkan oleh industri alhasil, penelitian yang sudah dirancang bertahun-tahun gagal dan hanya tersimpan di lemari. Padahal untuk meneliti itu bukan hanya membutuhkan waktu yang panjang tapi banyaknya uang yang dikeluarkan.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir mengatakan ada tiga penyebab mengapa di Indonesia hasil penelitian tak laku di dunia industri. Pertama Peneliti itu harus memperhatikan aspek cost and demand juga. Apakah penelitiannya nanti akan digunakan oleh industri jangan-jangan selisih costnya jauh sekali dengan pendapatan yang akan dihasilkan. Contohnya saja mobil listrik yang beberapa tahun lalu sempat heboh di Indonesia. Bukannya pemerintah tak mau untuk mensubsidi tapi teknologi mobil listrik belum bisa jadi solusi.

Untuk penelitiannya saja bisa menghabiskan biaya hingga dua milyar. Itu jika dijual kira-kira laku tidak siapa yang mau beli. Secara inovasi itu memang bagus namun secara ekonomis belum. Belum bisa dijadikan solusi untuk menghemat bahan bakar minyak. Idealnya inovasi yang ditelurkan masyarakat itu inovasi yang menjadi murah dan menjadi solusi.

Kedua, selain costnya yang tinggi, bisa jadi hasil penelitian tidak laku di industri karena penelitiannya sudah kadaluarsa. Sebelumnya sudah ada inovasi seperti ini jadi bukan lagi hal yang baru. Dan terakhir, bisa jadi inovasi yang ditelurkan peneliti memang bukan menjadi prioritas pelaku industri. Misalnya saja penemuan mengenai pengawet makanan, sebenarnya belum menjadi prioritas jika pasarnya di Indonesia. Karena di indonesia itu makanan itu mudah didapatkan tak mesti diawetkan. Karena lahan di Indonesia memang mudah untuk sebagai tempat untuk bercocok tanam. Jadi makan-makanan segar masih bisa didapatkan.

 

Categories: