MASTEL, APJII dan ATSI luncurkan Riset Indonesia Digital Inclusion Index

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Seperti kesenjangan digital, yang ditandai dengan akses yang tidak merata, kesenjangan keahlian, dan kurangnya infrastruktur. Kesenjangan digital di berbagai wilayah, rumah tangga, individu dan dunia usaha seringkali lebar. Ini terlihat dari konektivitas Internet yang baru bisa dinikmati mereka yang tinggal di belahan barat Indonesia (pulau-pulau Jawa, Sumatera, Bali), sementara jutaan orang di belahan timur memiliki kesulitan bahkan untuk akses mendasar seperti listrik dan telepon.

Saat ini baru 400 dari 514 kabupaten kota di Indonesia yang memiliki akses broadband. Kondisi ini membuat kesenjangan digital di Indonesia masih tinggi. Sementara berdasarkan Survei Indikator TIK Nasional 2015, Walaupun 84,3% Rumah Tangga di Indonesia memiliki Handphone, namun pada kenyataannya hanya 35,1% yang memiliki Internet.

Selain masalah  infrastruktur, pemahaman masyarakat akan peran internet juga masih lemah. Terlihat bagaimana masyarakat kurang memanfaatkan internet untuk menunjang aktivitas mereka baik secara ekonomi maupun pendidikan, 72,3% pengguna hanya memanfaatkan internet untuk social media. Akhirnya jaringan internet yang ada digunakan hanya sebatas pada lifestyle tanpa literasi yang memadai.

Kendati secara infrastruktur pemerintah telah mendorong pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau seluruh provinsi di Indonesia melalui proyek Palapa Ring, namun ada persoalan lain yang membuat masyarakat tidak memanfaatkan internet dan perkembangan digital untuk kehidupannya sehari- hari. Akhirnya menjadi pertanyaan sejauh mana “Digital Inclusion” yang terjadi di Indonesia?

Diperlukan kajian yang komprehensif untuk mengukur Digital Inclusion Index di Indonesia. Riset Digital Inclusion Index, MASTEL bekerjasama dengan APJII, IDEA & ATSI mengadakan Riset Digital Inclusion Index di Indonesia. Riset ini untuk mengukur dan menganalisis level inklusi digital Indonesia, serta level inklusi digital per kelompok wilayah di Indonesia.

Riset ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui level inklusi digital Indonesia dan setiap aspeknya,
  • Membandingkan kondisi inklusi digital setiap kelompok wilayah di Indonesia,
  • Memberikan acuan dasar bagi program-program terkait pengembangan masyarakat di bidang teknologi informasi dan komunikasi,
  • Memberikan rekomendasi yang tepat untuk melakukan meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Menurut Ketua Umum Mastel, Kristiono Riset Digital Inclusion Index ini memiliki peran yang sangat penting baik bagi pemerintah maupun seluruh stakeholder yang berada di ekosistem digital Indonesia.

“Untuk pemerintah hasil riset ini bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi program yang telah berjalan, Bahan pertimbangan penentuan kebijakan TIK nasional, Bahan pertimbangan prioritas program pengembangan TIK, Bahan pertimbangan Pemerintah Daerah dalam melakukan pengembangan TIK di wilayahnya, Bahan pertimbangan penentuan kurikulum pendidikan muatan lokal berbasis TIK. Sementara bagi industri untuk Memahami potensi dan hambatan adopsi TIK di tiap wilayah, Memetakan potensi kebutuhan layanan TIK di masyarakat sebagai bahan penentuan strategi pengembangan bisnis ke depan, Bersama Pemerintah, memperkuat ekosistem digital nasional, sebagai landasan ekonomi digital masa depan,” papar Kristiono.

Sementara Ketua Umum APJII menilai riset ini sangat penting bagi pertumbuhan dunia digital Indonesia. “Riset ini nantinya akan menyajikan fakta tentang bagaimana pemerataan dan pemanfaatan internet di Indonesia yang tentunya sangat penting bagi pertumbuhan dunia digital kita. Apalagi riset ini melibatkan para stakeholder di dunia digital" ucap Ketua APJII, Jamalul Izza.

Terkait dengan affordability, ATSI melihat riset ini bisa menjadi parameter bagi daerah, sejauh mana mereka bisa menjangkau internet dan apa kendalanya.

“Riset ini adalah bagian dari komitmen kami untuk turut memajukan layanan bagi para pelanggan. Riset ini akan memberikan data yang akurat terkait affordability internet di seluruh wilayah Indonesia. Tentu saja kita menginginkan seluruh masyarakat terjangkau internet dengan harga terjangkau dan layanan terbaik. Hanya saja banyak kendala di luar faktor provider yang membuat internet jadi mahal dan buruk” ujar Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Merza Fachys.

Nantinya riset dilakukan dengan metode pengumpulan data primer untuk mengukur aspek Connectivity. Data yang dikumpulkan antara lain dengan tes kecepatan koneksi internet di beberapa lokasi sampel. Pengumpulan data sekunder untuk mengukur aspek Connectivity dan Affordability. Beberapa data yang dikumpulkan antara lain prosentase jaringan internet, prosentase pengguna internet, perbandingan harga jual bandwith dengan PDB, dll. Survei lapangan Untuk mengukur aspek Affordability, Skill & Awareness, Local Related Content, Security & Sovereignity. Dalam riset ini, Indonesia dibagi dalam enam kelompok wilayah besar berdasarkan kelompok pulau-pulau besar: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Maluku-Papua.

Besarnya potensi Indonesia untuk keterbukaan digital diharapkan menghadirkan beragam manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Dengan meratanya penggunaan di beragam wilayah Indonesia pun nantinya mampu mengikis kesenjangan pengetahuan digital antar wilayah di Indonesia. Begitupula dengan sosialisasi yang massif atas penggunaan perangkat penggunaan teknologi digital dapat menciptakan kondisi melek teknologi yang simultan dan komprehensif. (Lin)

Categories: