Portal KUMA, Gagas Pemerataan Pendidikan Indonesia
February 5, 2010 by ria
Berangkat dari keprihatianan terhadap jumlah lulusan sekolah yang tidak merata di Indonesia, Sandy Colondam membuat Portal KUMA. Pria asal Jakarta ini berhasil merealisasikan sebuah Portal Kurikulum Bersama (KUMA) sebagai dasar UAN dan standardisasi pendidikan di Indonesia. Portal KUMA sekaligus meraih penghargaan Indonesian Most Creative Customers dalam ajang Creative Solution Award (CSA).
Portal KUMA merupakan portal khusus yang dibuat sebagai standardisasi materi pembelajaran untuk menghadapi UAN. Sandy menyatakan portal tersebut dilengkapi metode fun-learning yang dapat diakses di Internet. Menurut Sandy, pembuatan portal ini selaras dengan program pemerintah yaitu “Desa Pintar”.
Lalu, apa yang bisa diakses di portal tersebut? Portal KUMA menyajikan fitur Update Kurikulum Pendidikan Standard Indonesia. Dalam fitur tersebut, berisi penjabaran topik yang harus dibawa oleh guru di setiap semesternya secara detail. Selain itu, fitur lain yang ditampilkan adalah Daftar Buku Panduan Standard, Web 2.0 dan Standard Bank Soal.
Semua fitur tersebut dibuat untuk mengatasi kesenjangan pendidikan di kota dan di pelosok. Sandy menyebutkan dalam artikelnya di situs CSA (www.creativesolutionaward.com), akar permasalahan jumlah lulusan yang tidak merata ialah tidak adanya standard buku kurikulum nasional yang dapat diakses oleh pelosok daerah. Sandy menambahkan, disinilah terjadi ‘perbedaan’ antara sekolah yang ‘bagus’ dengan sekolah yang ‘jelek’.
Menurut Sandy, tujuan dibuatnya portal tersebut agar semua persaingan nilai UAN lebih beragam, bukan hanya SMUN yang itu-itu saja. Selain itu, dia supaya tidak ada murid atau guru yang mengeluh lantara soal terlalu susah atau belum diajarkan.
Sandy berharap KUMA dijadikan landasan utama dalam pembuatan soal UAN. Ke depannya, tambah Sandy, pemerataan pendidikan di semua daerah bisa terlihat, sehingga menarik investor untuk berinvestasi di daerah. Sebab, ada pemahaman dari pihak investor tentang keseragaman standard pendidikan bagi semua manusia Indonesia.
Ajang Adu Kreatifitas
Selain Sandy, kreator muda lainnya yang mendapat penghargaan ini adalah Indra Gunawan sebagai pemenang kedua dan Raga Tinto, pemenang ketiga. Mereka bertiga adalah peserta yang berhasil lolos hingga penjurian terakhir mengalahkan 10.000 peserta lainnya. Ajang adu kreatif ini setidaknya menampung 2.000 ide kreatif dari seluruh Indonesia.
Surdiyanto Suryodarmodjo, anggota panel juri CSA mengatakan, ajang CSA sangat positif untuk dikembangkan karena mendorong penciptaan ide-ide dan kreativitas. Hal ini berguna untuk mengaplikasikan dan memanfaatkan berbagai layanan komunikasi berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
"Kami menilai dari aspek orisinalitas, nilai tambah, kemungkinan pengimplementasiannya hingga ke aspek biayanya," imbuhnya. Surdiyanto menjelaskan, ide kreatif harus siap diterima masyarakat baik dari sisi teknologi, regulasi, pola dan norma masyarakat, biaya, maupun sumber daya.
Ajang ini merupakan prakarsa dari PT Aplikanusa Lintasarta yang berlangsung sejak Agustus – September 2009. Rangkaian CSA dilakukan via website dan facebook. Kegiatan ini mencapai puncaknya pada 3 Februari lalu. [Ria]















