Panjang Ekornya, Besar Untungnya
June 5, 2009 by admin
Berapakah hasil penjualan CD sebuah album musik per tahun? Mungkin tak sebanding dengan biaya produksinya. Belum lagi masalah pembajakan yang kian merebak. Berbagai masalah itu menghinggapi industri musik dalam negeri.
Tak hanya industri musik, industri perfilman, dan beberapa lainnya juga mengalami hal yang sama. Banyak dari para kreator tersebut memanfaatkan media broadcast sebagai alat publikasi. Tapi, nyatanya masih banyak pula yang rugi.
Memang, untuk album yang hit, penjualannya bisa terdongkrak dan kebanjiran kontrak manggung. Tapi, bagaimana dengan nasib album-album yang minim peminat? Seperti menemukan jalan buntu, album tersebut bahkan tak sempat terpajang di toko CD atau kaset.
Kebuntuan itu saat ini telah terpecahkan. Alternatif datang dari teknologi informasi yang menawarkan solusi bagi mereka. Sebuah gagasan baru ini tak lagi mengandalkan album hit atau terlaris untuk penjualannya. Di saat ruang dan waktu telah terbuka bebas, media internet menjadi tawaran yang menggiurkan.
Model penjualan tersebut bisa disebut penjualan online. Layanan dalam penjualan ini berupa download berbasis langganan (subscription-based streaming service). Dalam buku The Long Tail, karya Chris Anderson, disebutkan layanan ini digunakan RealNetworks, Rhapsody dalam menawarkan lebih dari 15 juta track.
Sebenarnya, Long Tail telah ada sebelum Amazon dan eBay, bahkan sebelum web. Menurut Chris, hal ini merupakan kulminasi dari serangkaian inovasi bisnis yang telah dimulai satu abad yang lalu.
Dengan menggunakan satu media, yakni internet, sekian banyak lagu bisa dipajang dan di-download oleh para peminat. Untuk lagu hit, jumlah yang di-download mencapai jutaan, tapi pernahkah terpikir untuk lagu-lagu yang tidak hit?
Jika diperhatikan, lagu-lagu yang tidak hit tersebut masih tetap memiliki peminat sekalipun jumlahnya minim. Namun, tak pernah ada angka nol untuk tiap lagunya. Dengan ini, jumlah lagu tidak hit yang di-download masih tetap ada.
Jumlah download-an lagu-lagu tidak hit tersebut ternyata menyumbang hingga 15 persen penjualan di Rhapsody. Bayangkan saja, kolektifitas dari lagu-lagu tidak hit memiliki pasar yang tidak kecil. Inilah Long Tail atau Ekor Panjang.
Sistem bisnis dan penjualan semacam ini belum banyak dilakukan oleh pebisnis di Indonesia. Bisa dibayangkan, dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta, Indonesia merupakan pasar potensial. Jika Ekor Panjang bisa diterapkan lebih baik, keuntungan bisa berlipat karena tak mengandalkan produk laris, tetapi produk tak laris pun merupakan sebuah keuntungan.
Chris dalam bukunya menyebutkan, bisnis dengan ruang panjang tak terbatas ini secara efektif telah mempelajari sebuah ilmu dalam matematika baru : sebuah bilangan sangat-sangat besar dikalikan dengan sebuah bilangan relative kecil sama dengan sebuah bilangan sangat, sangat besar. Dan sekali lagi, bilangan sangat besar itu terus makin besar.
Sepertinya, industri semakin mematahkan keterbatasan ruang dan waktu, sehingga pasar pun semakin meluas. Chris menekankan, dalam waktu dekat, efisiensi digital akan menular ke bagian lain dalam hidup ini. Dan, sebuah lorong yang tak memiliki ujung, membuat segala sesuatu menjadi mungkin. [Ria]














