Interactive Table: Satu Sentuhan Tak Cukup
August 12, 2009 by ria
Brilliant…mungkin kata itu pantas disandangkan bagi pembuat perangkat layar sentuh (multitouch). Hendro Wibowo, mahasiswa tingkat akhir di STMIK Amikom Yogyakarta ini berhasil menciptakan interactive table, perangkat layar sentuh (multitouch). Tak seperti teknologi touchscreen sebelumnya, inovasi buatan Hendro ini mampu mendeteksi lebih dari satu sentuhan.
Mahasiswa asal Pati, Jawa Tengah ini mulai mengotak-atik layar LCD setahun yang lalu. Kala itu, Hendro berniat membuat skripsi yang berbeda dari skripsi pada umumnya. Tercetuslah ide pembuatan Interactive Table ini. Perangkat ini menggabungkan software dan hardware dalam satu produk. Menurut Hendro, di situlah letak kesulitannya.
“Dibandingkan dengan perangkat touchscreen biasa yang hanya bisa mendeteksi satu sentuhan, maka perangkat yang saya buat mempunyai keunggulan mampu mendeteksi lebih dari satu sentuhan, “ tutur Hendro, yang menjuarai ajang Indonesia ICT Award beberapa waktu lalu.
Menurutnya, perangkat ini memungkinkan pengguna (manusia) berinteraksi dengan komputer secara lebih alami. Bayangkan saja, kita tidak memerlukan mouse untuk menggeser atau melakukan aplikasi yang biasa dilakukan di komputer. Dengan sepuluh jari kita, aplikasi bisa dilakukan dengan benar-benar natural.
Untuk membuat inovasi ini memang tidak mudah, lebih dari satu tahun dia melakukan riset. ”Tak hanya mencari artikel dari blog dalam negeri, tetapi saya mencari artikel di blog, ebook, dan sebagainya dari internet yang memang berbahasa asing. Literatur tentang teknologi multitouch screen belum ada di Indonesia,” kenangnya.
Setelah melakukan riset, dia mulai membuat prototype awal dari kertas karton. Prototype ini dibentuk menjadi kubus dan selembar papan akrilik (tanpa LCD) di atasnya sebagai layar sentuhnya. Kemudian, setelah itu, baru ia membuatnya menjadi interactive table (sudah menggunakan LCD) seperti produk yang sekarang ia buat.
Sebagai mahasiswa, memang bukan perkara mudah untuk membuat produk semacam ini. Ia harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit dalam risetnya. Sekitar Rp 4 juta ia keluarkan untuk membuat Interactive Table ini. Hebatnya lagi, dia membuat produk ini sendiri. Bukan tim ataupun kelompok.
Selain biaya, Hendro mengakui kesulitan lainnya dihadapi saat pembuatan perangkat lunak. Mengingat pengetahuan dan ilmu pembuatan software semacam ini belum banyak diketahui. Namun, hal tersebut tak menghambat niat Hendro untuk mengimplementasikan idenya.
Saat ini, produk buatan Hendro ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Interactive Table bisa berguna untuk bidang pendidikan, militer, perhotelan, broadcasting TV, multimedia, dan sebagainya.
”Yang pasti, sekarang saya senang, karena sebelumnya pesimis bisa menang di Inaicta 2009,” ujar Hendro.
Rencananya, Hendro akan mematenkan produknya tersebut dan mulai memasarkannya. Saat mengikuti pameran dalam Inaicta 2009, sebenarnya banyak pengunjung yang tertarik dengan produknya, dan berencana untuk bekerja sama. Tinggal menunggu realisasinya saja.
”Dari Inaicta ini saya mendapatkan pengalaman yang berharga. Sekaligus bisa kenal dengan banyak orang baik dari sesama nominator, pengunjung pameran, dan juga juri. Terlebih lagi saya menjadi The Winner. Hal ini yang menurut saya paling berkesan,” jelas Hendro saat menjuarai ajang bergengsi ini. [Ria]















