Categorized | Best Practice

Pemimpin Harus Memberi Lebih-Betti Alisjahbana

Dunia IT sempat terkaget ketika IBM melepas divisi personal computer (PC)-nya ke Lenovo –perusahaan komputer Cina- dengan nilai 1,75 miliar dolar AS. Padahal PC selalu diidentikkan dengan IBM karena memang perusahaan inilah yang memperkenalkannya pertama kali pada dunia 25 tahun lalu.

Terusik, TEKNOPRENEUR menanyakan pandangan Betti tentang aliansi dua perusahaan besar tersebut. “PC itu sudah lebih mengarah ke arah komoditas. Sementara IBM lebih ingin fokus ke bidang-bidang yang bernilai tambah tinggi, seperti software dan perangkat keras yang bersifat server dan storage,” jelasnya. Betti memaparkan, IBM dan Lenovo mempunyai kekuatan berbeda sehingga aliansi strategis tersebut bisa membangun sinergi yang luar biasa. Tujuannya untuk mencapai produk, layanan, dan jangkauan secara global, serta peluang pertumbuhan baru berskala besar.

Sebagai gantinya, diakui Betti, IBM sejak lima tahun terakhir telah mengakuisisi puluhan perusahaan piranti lunak dan content. Selain itu, dengan membeli PricewaterhouseCoopers Consulting sekitar 3,5 miliar dolar AS pada 2002 lalu, IBM mantap menapaki bisnis jasa, tidak melulu bisnis produk teknologi saja. Secara general, produk IBM juga masih mencakup perangkat keras: storage untuk perusahaan kecil maupun besar, software-software (dengan fokus ke middleware).

“Untuk service (jasa) yang kami berikan bersifat IT consulting, maupun layanan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur IT, termasuk penerapan aplikasi, dan outsourcing,” tambahnya. Di Indonesia, Betti mengaku tidak membidik bidang khusus. Ia menekankan bahwa perusahaannya mempunyai spesialisasi di semua bidang industri, mulai dari telekomunikasi, perbankan, distribusi, manufaktur, serta small and medium business.

Betti menyebut, fokus IBM kini tidak langsung ke consumer, melainkan sebuah kerjasama kolaboratif (technology collaborations solutions) bersama partner. “Sony memanfaatkan power IBM, yaitu chip yang digunakan sebagai motor peralatan game mereka. Kita berkolaborasi dengan pihak-pihak yang mengarah langsung ke consumer, dengan cara memberikan nilai tambah di bidang teknologi.“ Melalui kolaborasi itu, IBM membangun suatu teknologi yang tepat guna untuk dimanfaatkan di berbagai bidang. “Kalau dilihat, barang yang dibawa consumer mereknya memang bukan IBM. Tetapi di dalamnya sebenarnya kan ada komponen IBM. Jadi, secara tidak langsung consumer memperoleh teknologi IBM,” tandas alumni Teknik Arsitektur ITB ini.

Dari segi bisnis, pasar Indonesia memang masih sangat potensial. “Tahun ini IBM Indonesia berulang tahun yang ke-70. Ini menunjukkan, Indonesia memiliki posisi yang penting bagi IBM, sekaligus memiliki banyak potensi. Market-nya masih bisa dikembangkan lebih luas lagi,” paparnya. Faktor penetrasi IT yang masih rendah justru bisa digunakan untuk mengembangkan potensi tadi. Dukung Open Source

Selama 12 tahun berturut-turut, IBM meraih jumlah paten terbesar di Amerika. Ini memperlihatkan, perusahaan yang telah berdiri sejak 1889 itu mempunyai komitmen research dan development yang sangat tinggi. “Terakhir kita mencapai sekitar 3400 paten setahun. Sekitar 500 diantaranya kita buka untuk open source community,” ujar Betti. IBM melihat bahwa inovasi akan berkembang lebih cepat jika dilakukan dengan berkolaborasi. Selain itu, Betti menjelaskan, open source akan mendorong adopsi dari open standard dan juga penerapan interoperabilitas.

Betti menyayangkan kondisi intelectual property Indonesia secara IT yang masih sangat ketinggalan. Ini terlihat dari paten yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri yang sangat sedikit. Hal ini semakin memprihatinkan karena disiplin berkreasi pun juga masih terbatas.

“Kita mesti jeli mencari cara untuk bisa meloncat. Salah satunya adalah dengan mengambil bidang TI lewat area open source, dimana kita bisa memakai kekayaan intelektual secara gratis. Mudah kan? Inovasi orang, tetapi bisa kita ambil cuma-cuma dan bisa kita kembangkan lebih jauh,” tandas istri Mario Alisjahbana itu bersemangat.

Melalui investasi open source itu pulalah sebenarnya IT di Indonesia bisa lebih terjangkau. Keterjangkauan itu akan berdampak positif terhadap penetrasi IT, melek IT pun akan meningkat sehingga Indonesia akan lebih kompetitif secara internasional. Di samping itu, pasar IT juga lebih berkembang lagi. Betti menambahkan, “Kita tidak lagi menjadi masyarakat pengguna, tetapi masyarakat pembangun dan pengembang IT. Sangat mungkin nantinya kita malah bisa mengekspor produk IT .”

“Terkadang saya sedih sendiri melihat kita kok mikirnya jangka pendek sekali, tidak melihat dengan lebih strategis. Saya berusaha memainkan peranan saya (sebagai pemimpin IBM) untuk melihat dari sudut yang berbeda,” tandas perempuan kelahiran Bandung itu. Salah satu caranya, bekerja sama dengan berbagai pemain IT lokal, memberikan open source, dan mempromosikannya agar mereka bisa tumbuh besar.

Teknopreneur Tidak Boleh Berhenti Belajar

Disinggung mengenai technopreneurship, Betti menjawab, Indonesia sudah memiliki banyak teknopreneur terutama untuk bidang IT (lebih spesifik lagi pada segmen software). Segmen ini masih berpeluang besar di Indonesia. Jika untuk membuat sebuah pabrik hardware dibutuhkan modal dan kesulitan yang sangat besar -“Mungkin hanya perusahaan tertentu yang bisa melakukannya, dan Indonesia ketinggalan cukup jauh di bidang perangkat keras,” beber Betti- maka melalui bidang perangkat lunaklah teknopreneur Indonesia mempunyai peluang berkiprah karena modal yang dibutuhkan relatif tidak terlalu banyak

Bagaimana IBM memfasilitasi para teknopreneurnya? Betti menyebut, salah satu keuntungan IBM adalah memiliki sistem operasional perusahaan yang bersifat globally integrated sehingga memungkinkan karyawannya untuk ditempatkan di negara manapun di dunia. Melalui itu, karyawan IBM berkesempatan untuk mengembangkan wawasan dan kemampuan. Tidak heran jika banyak karyawan IBM Indonesia yang ditugaskan di Irlandia, Singapura, Malaysia, Vietnam, dll. IBM juga akan terus memantau kualitas karyawannya. Jika mereka mempunyai jiwa entrepreneurship tinggi, akan ditugaskan membangun market baru dimana IBM belum eksis. “Demikian juga kalau kita melihat orangnya potensial, kita akan promosikan ke posisi yang lebih tinggi, atau memberinya kesempatan untuk mengasah kemampuan entrepreneurship-nya,“ papar Betti panjang.

Training rutin juga umum diadakan oleh IBM. Tidak hanya yang bersifat kelas (tatap muka), tetapi juga berupa program kombinasi e-learning yang diberi nama IBM Global Campuss. Melalui program ini semua karyawan IBM secara interaktif dapat mengakses ribuan modul pendidikan dari berbagai area., termasuk mempelajari berbagai kasus dan pengalaman yang terjadi pada IBM di negara-negara lain untuk dijadikan solusi bagi masalah yang mungkin dihadapi di Indonesia. “Poinnya adalah, setiap orang tidak boleh berhenti belajar, karena sekali berhenti, otak akan tumpul. Otak itu berbeda dengan barang mekanis yang bisa aus. Otak kan semakin dipakai kapasitasnya justru semakin besar,” tegas Betti.

Peduli Pendidikan

Ketika membahas mengenai teknopreneur lokal tadi, kami menjadi penasaran, bagaimana tanggapan perempuan yang sempat mendapatkan ilmu marketing di beberapa negara asing itu terhadap pendidikan di Indonesia? Juga bagaimana perusahaan yang dipimpinnya memberi kontribusi kepada masyarakat?

“Berapa sih sekolah yang mempunyai fasilitas IT? Kalaupun ada, kebanyakan yang diajarkan bersifat purchasing, lebih ke arah menggunakan saja. Padahal seharusnya teknologi dipakai untuk melakukan inovasi di dalam proses pendidikan itu sendiri,” jawab Betti. Ia mendapatkan pemahaman pentingnya pendidikan sejak dini. Bahkan ketika SD, Betti kecil sudah mengikuti kursus Bahasa Inggris. Suatu hal yang dulu masih jarang ditemui di lingkungan perempuan kelahiran 2 Agustus 1960 itu.

Betti sempat mengkritisi sistem pengajaran di sekolah yang dulu memberikan hukuman ketika murid melakukan kesalahan. “Ketika orang melakukan kesalahan, seharusnya dia di-encourage untuk mencoba terus sampai menemukan sesuatu yang benar. Orang yang tidak pernah mencoba memang tidak pernah salah, tetapi orang yang berani mencoba akan mengalami beberapa kali salah sebelum sampai pada yang benar. Dan pada saat dia mencapai itu, dia sudah belajar lebih banyak,” ujar Betti yang kedua orangtuanya berprofesi sebagai pendidik itu, bersemangat. Betti menukas, dengan pendidikan berwawasan teknologi, maka orang dapat terbantu untuk selalu berpikir logis dan kritis. IBM sebagai sebuah perusahaan yang berkaitan erat dengan teknologi merasa memiliki tanggung jawab terhadap kondisi masyarakat Indonesia, terutama di bidang pendidikan.

Salah satu program yang sudah dijalankan adalah Kid’s Smart, program yang memperkenalkan teknologi sejak usia dini. IBM memberikan sumbangan hardware, software, dan pelatihan bagi guru-guru untuk lebih dari 250 sekolah. Melalui program yang dilaksanakan sejak 2002 itu, IBM juga memperkenalkan konsep pendidikan yang merangsang keinginantahuan dan kreativitas, serta cara pendidikan yang bersifat fun dimana kesalahan adalah sesuatu yang normal di dalam proses belajar.

Selain itu, sejak 2003, IBM juga menjalankan program TryScience -tempat dimana orang bisa melakukan berbagai eksperimen sains dan teknologi. Dengan TryScience yang terhubung dengan internet maka orang dapat masuk ke ratusan pusat sains dan museum dari berbagai negara secara real time untuk melakukan eksplorasi dan berkenalan dengan ilmu pengetahuan. Betti menjelaskan, tujuan program ini adalah untuk membangun pengalaman positif: bahwa sains dan teknologi itu relevan, menarik, mengasyikkan, mudah, banyak impact-nya, serta signifikan terhadap kehidupan. TryScience ini sudah diluncurkan di Palembang, Jakarta, Bandung,dan Yogyakarta.

Betti merasakan kurang meratanya gender peminat bidang IT –terutama bidang teknik secara umum. IBM juga melihat itu sebagai sebuah kendala kelak, sehingga akhirnya dibentuklah Exploration Interest in Technology and Engineering (EXITE) pada tahun 2002. Program tahunan berupa camp ini melibatkan siswi-siswi tingkat SMP.

“Kebanyakan siswi mengasosiasikan teknologi itu dunia maskulin. Kita berusaha agar sejak muda siswi-siswi ini terbuka matanya bahwa teknologi itu juga feminin dan relevan buat wanita,” papar Betti. Melalui program yang sudah 4 kali berjalan ini, Betti mengharap akan banyak pemain IT perempuan di kemudian hari. Selalu Membuka Pintu

Hampir 23 puluh tahun lalu ketika anak kedua dari empat bersaudara ini masuk ke IBM Indonesia, sebagai Marketing Trainee. Dari posisi tersebut, Betti menapaki setiap tingkat jabatan di divisi Marketing IBM. Bahkan ia pernah dipercaya untuk memimpin tim IBM di tingkat regional, yaitu menjadi General Manager Marketing untuk Divisi Small and Medium Business ASEAN/ Asia Selatan, yang berpusat di Singapura mulai tahun 1996. Di tangannya, divisi ini menyumbangkan kontribusi mencapai 30-40 persen dari total pendapatan regional. Dua tahun kemudian, Betti dipindahkan ke posisi General Manager e-business IBM untuk wilayah yang sama. Setelah sempat ditarik kembali ke Indonesia untuk menjadi Direktur Sales & Marketing, barulah pada tahun 1999, menantu Sutan Takdir Alisjahbana ini diposisikan sebagai President Director PT IBM Indonesia. Semakin luar biasa karena Betti adalah perempuan pertama yang menempati posisi tersebut (bahkan di kawasan Asia Pasifik).

“Hampir setiap tahun target yang diberikan kepada saya selalu tercapai. Saya pikir itu pola yang bisa dilihat mengapa akhirnya saya sampai pada posisi sekarang ini. Paling tidak, yang bisa saya jaga adalah reputasi dalam menjalankan pekerjaan,” tukas perempuan cantik ini. Demikian juga di posisi barunya, belum setahun menjadi President Director, Betti menorehkan prestasi dengan meningkatkan penjualan lebih dari 100% dibandingkan tahun sebelumnya.

Memimpin lebih dari 300 karyawan, Betti berprinsip untuk selalu berhubungan dekat dengan anak buahnya di perusahaan. “Artinya pintu saya selalu terbuka untuk siapa saja. Orang bebas masuk ke ruangan saya, sehingga tidak terlihat adanya suatu batasan. Dengan demikian, saya bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi,” papar Betti. Dalam pergaulan di kantor, bahkan ia mengaku tidak terbiasa dipanggil dengan ‘ibu.’ Menurutnya, panggilan itu terkesan sangat formal. “Di IBM, kalau tidak panggil nama, lebih banyak mereka memanggil saya dengan ‘Mbak,’” imbuh ibu dua orang anak yang masih terlihat muda ini sambil tertawa kecil.

Masih berkaitan dengan keterbukaan, Betti secara aktif melakukan round table dengan karyawannya untuk mendapatkan aspirasi. Biasanya, seminggu sekali ia memanggil berbagai kru untuk berdiskusi. “Dari situ saya mendapatkan masukan, apa yang menurut mereka baik dan kurang baik, termasuk apa yang mereka lihat di pasar,“ ujar Betti.

Dalam hal pengambilan keputusan, Betti percaya bahwa diversity sangatlah penting. “Yang bagus itu bila ada diversity. Suatu keputusan akan lebih baik bila diambil oleh tim yang cukup beragam, baik dari sisi gender ataupun dari latar belakangnya, karena akan memunculkan beragam sudut pandang,” jelasnya.

Selain itu, seorang pemimpin juga harus merasa senang jika anak buahnya lebih pandai. Betti menuturkan, “Kadang-kadang kita suka pelit ilmu, kan? Saya justru senang kalau tim saya lebih pintar dan mengeluarkan sesuatu yang lebih cemerlang dari saya.” Sebuah poin penting disinggung pula oleh Betti, bahwa pemimpin mutlak memiliki arahan yang jelas. “Artinya, ketika perusahaan mau dibawa ke suatu titik, kita harus bisa jabarkan itu ke level di bawah kita, sehingga bisa dijabarkan ke level di bawahnya lagi, demikian seterusnya,” demikian ujarnya.

Menyinggung statusnya sebagai perempuan, aktivis Women Council untuk kawasan ASEAN dan Asia Selatan ini merasa tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif selama memimpin IBM. “Terus terang, kalaupun ada, saya lebih memilih untuk tidak melihat itu. Prinsip saya, kalau kita maju ke depan dan yang kita lihat adalah halangan, maka yang akan kita dapatkan ya halangan. Tetapi kalau yang kita lihat opportunity, maka yang akan kita dapatkan adalah opportunity,” jelasnya mantap.

Sambil tergelak Betti juga mengatakan, “Kadang-kadang saya lupa bahwa saya perempuan, ha ha! Bahkan harus jujur saya akui banyak mendapatkan kemudahan. Orang kan kalau menolak perempuan kadang-kadang suka nggak enak, ha ha! “ Jadikan Kendala sebagai Tantangan

Salah satu prestasi yang diraihnya termasuk luar biasa, Country General Manager Excellence Award (2000), karena penghargaan ini hanya diberikan pada lima negara terbaik dari 170 negara di mana IBM beroperasi. Raihan tadi menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang sudah tidak diragukan lagi.

Sebagai seorang pemimpin, Betti mempunyai pegangan tentang arti kesuksesan, yaitu ketika perusahaan bisa tumbuh lebih cepat dari pasar, sehingga bisa memberikan kontribusi di dalam membangun pasar itu sendiri. “Lebih penting lagi, sukses adalah bila kita bisa membuat pelanggan kita puas. Atau, bisa membuat partner-partner kita merasa bahwa bekerjasama dengan IBM itu lebih baik daripada dengan perusahaan lain,” imbuhnya. Ukuran sukses lainnya berupa sumber daya manusia yang terus berkembang. “Sejauh ini, mestinya (respon terhadap kinerja saya) positif, karena kalau tidak, saya pasti sudah dipensiunkan atau dipecat, ha ha!” tutupnya.

Namun bukan berarti Betti mencapai kesuksesan tanpa kendala. Sampai saat ini ada kondisi yang sangat ingin ia ubah. Di Indonesia, budaya korupsi yang parah mempengaruhi pandangan terhadap harga. “Orang melihat harga lebih mahal dengan dugaan adanya korupsi di dalamnya, “ujar Betti geram.

“Ketika bicara tentang jasa, misalnya mengenai suatu proyek yang kompleks, kan kita tidak bisa melulu melihat dari segi harga,” tambahnya. Yang harus dilihat dari perusahaan yang menjual produk bersifat non komoditas (jasa) adalah aset -aset yang dimiliki dan bagaimana kredibilitasnya.

Melalui divisi service IBM, Betti justru mendapat kesempatan untuk mengubah kendala itu menjadi tantangan. “Kami (IBM) sangat mementingkan hubungan dengan klien untuk jangka waktu yang panjang. Kami sangat anti korupsi, sehingga memerlukan jalan tengah untuk memberantasnya, yaitu dengan memberikan kualitas dengan harga yang pantas,” paparnya. Secara pribadi, concern Betti terhadap korupsi terlihat ketika sempat menjadi Ketua Tim Dewan Juri Bung Hatta Anti Corruption Award –penghargaan tahunan kepada pribadi yang bersih dari praktik korupsi, termasuk yang berperan aktif memberikan inspirasi memberantas korupsi- pada tahun 2004.

Hal lain yang menantang Betti adalah keinginannya membawa Indonesia untuk ikut berpartisipasi di era global. “Sekarang sudah zamannya suatu pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja. Indonesia harus terlibat dalam mencari posisi main di dunia yang kian datar ini,” tandasnya.

Dua Prioritas Pertimbangan

Membagi waktu menjadi sebuah tantangan juga bagi perempuan bernama lengkap Betti Setiastuti Alisjahbana ini. Setiap hari ia harus bisa menentukan prioritas, baik untuk di rumah, di kantor, berorganisasi, dan bermasyarakat. Ada dua prioritas yang ia kedepankan untuk mengatasinya banyaknya kegiatan yang harus ia jalani, yaitu prioritas berdasarkan kepentingan, dan prioritas berdasarkan jumlah waktu yang diperlukan.

“Dari situ bisa dipilih mana yang kita lakukan sendiri, atau kita minta orang lain untuk melakukannya,” ungkapnya. Untuk urusan rumah, Betti mengakui sering melakukan perjanjian antara dia dan suaminya, siapa yang akan mengurusi suatu hal, misalnya berkaitan dengan pendidikan anak-anak mereka. “Tetapi untuk yang sifatnya bisa dilakukan oleh orang lain, misalnya pembantu, dengan kualitas yang malah lebih bagus daripada saya lakukan sendiri, ngapain dilakukan sendiri?” sambung Betti. Itu ia praktekkan pula untuk urusan kantor, dimana ada pekerjaan yang harus Betti lakukan sendiri ataupun dillimpahkan ke anak buahnya.

Waktu pulalah yang sangat sering diminta oleh Nadia (15), putrinya yang mulai menginjak remaja. “Kadang-kadang Nadia ingin melakukan sesuatu bersama saya, dan maunya anytime mesti tersedia. Kalau weekend saya masih bisa memenuhi, tetapi kalau hari-hari kerja, itu yang agak sulit,” kisah Betti. Sementara hubungannya dengan Aslan (20), si sulung yang sudah kuliah, lebih ke arah konsultasi. “Dia banyak mengajak diskusi tentang. Dia sih sudah tidak protes lagi,“ ujarnya tersenyum.

Ketika ditanya Apa raihan yang belum betty dapatkan, dia menjawab bahwa saat ini ia sedang berada dalam masa ingin berbuat lebih banyak untuk Indonesia, terutama di bidang pendidikan. “Yang kedua, bagaimana caranya membuat manusia-manusia Indonesia lebih kompetitif secara internasional. Terus terang, saya banyak berhubungan dengan orang dari berbagai negara, dan harus diakui bahwa banyak karya kita yang perlu perbaiki untuk bisa bersaing secara global,” tandasnya lagi. Sebuah mimpi yang sangat mulia. Betti kemudian menutup pernyataannya tadi, “Ha ha, itu bagian dari bertambahnya umur!” [Ahmad]

Biodata

Nama lengkap: Betti Setiastuti Alisjahbana Lahir : Bandung, 2 Agustus 1960 Pendidikan : Asia Pacific Global Leadership Development, Tokyo, Japan (2001) Global Leadership Workshop, Armonk, NewYork, USA (1999) Asia Pacific Leadership Workshop, Singapore (1997) Business Management Institute, Armonk, New York, USA {1996) Finance For Marketing, Sydney, Australia (1995) Marketing School, Hongkong (1986)

Leave a Reply