Fase Roadshow, YTech Mencari Female Founders with Silicon Valley Mindset di Universitas Amikom Yogyakarta

Seiring dengan berkembangnya dunia startup di Indonesia dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan industri kreatif digital maka siapa saja berkesempatan untuk menjadi founder startup sepanjang memiliki kemauan. Sayangnya,dunia startup seo;ah masih menjadi dunia yang maskulin, dunianya kaum laki-laki. Berdasarkan data riset Teknopreneur, dari 30 startup yang terkemuka di Indonesia hanya 9% yang memiliki founder atau co-founder wanita. Hal ini juga yang menjadi gagasan US Embassy Jakarta setelah belakangan sangat lantang dalam menyarankan kesetaraan gender. Diinisiasilah YTech, Female Founder with Silicon Valley Mindset.

YTech 2019, Female Founders with Silicon Valley Mindset adalah program dari US Embassy bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia untuk mencari dan membantu membangun startup wanita yang peduli akan permasalahan sosial dan solusinya.

Startup yang dipilih dengan syarat harus memiliki minimal 1 orang CoFounder wanita, nantinya akan dimentoring oleh mentor luar biasa seperti Muhamad Ismail CEO Zahir, Arief Widhiyasa CEO Agate. Serta para founder dan ceo wanita ternama seperti Yunita Anggraini CoFounder Geekhunter, Shinta Nur Fauzia CoFounder Lemonilo, Nilam Sari owner Kebab Baba Rafi dan masih banyak lagi

Dalam rangkaian Roadshow, YTech akan mendatangi 3 kota besar di Indonesia yaitu Jogja, Surabaya, dan Makassar. Untuk Jogja, Roadshow diselenggarakan pada hari Kamis 28 Maret 2019 pukul 13.00 bertempat di Universitas Amikom Yogyakarta dengan dihadiri oleh M. Andy Zaky selaku ceo Teknopreneur Indonesia dan sharing session bersama Rani Soebijantoro, CoFounder of Bookabuku and AMBIZ.

Menurut Rani Soebijantoro, bagi siapapun termasuk kalangan perempuan sebenarnya membangun startup bukanlah persoalan yang sulit. Sepanjang telah mengetahui strateginya dan apa yang harus dilakukan. Banyak yang mengeluhkan soal pendanaan, namun menurut Rani itu bukanlah persoalan terberat. Karena yang peling sulit dari membangun startup adalah telanet.

“Cari pendanaan bagi startup itu mudah, kalau kita tahu strateginya. Tapi, yang sulit dari membangun startup adalah mencari talent” Rani Soebijantoro.

Sementara CEO Teknopreneur Indonesia, M. Andy Zaky, membangun startup bukan sesuatu yang sekonyong-konyong. Harus melalui berbagai tahapan yang tepat. Dengan demikian apa yang dibuat nantinya akan benar-benar dapat diserap oleh pasar. Tahapan-tahapan ini bermanfaat bagi para founder untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan apakah produk miliknya telah memenuhi kebutuhan tersebut baik secara fungsi, kemudahan, maupun biaya.

“Membangun startup bukan seperti bangun tidur lalu dapat ide kemudian merancangnya. Membangun startup yang baik adalah yang dengan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar,” ujar M Andy Zaky.

US Embassy Jakarta menyatakan senang bisa bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia dan para founder startup yang ada di Indonesia. Program ini adalah bukti bahwa hubungan antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat adalah hubungan persahabatan yang erat yang memberikan manfaat positif bagi keduanya.

“Kami sangat senang bisa bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia. Dan dalam rangka 70 tahun hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat, US Embassy Jakarta terus memberikan program program yang ber-impact pada perekonomian dan hubungan baik antara Indonesia dan Amerika Serikat” Aurelia Augustine, Public Affair Section US Embassy Jakarta.

Teknopreneur Indonesia selaku penyelenggara Ytech adalah media data dan analisis seputar bisnis teknologi dan perkembangannya di Indonesia dan dunia, termasuk di dalamnya bisnis digital, bioteknologi, clean technology, dan lain-lain. Ikuti program YTech di www.ytech.id dan ikuti keseruan program ini di sosial media Instagram @ytech.id