Unicorn, Mitologi Yang Dikejar Indonesia

936
Menurut data dari www.cbinsights.com, saat ini terdapat 325 startup unicorn di seluruh dunia. Di urutan paling atas ada Toutiao, sebuah startup digital media asal China dengan valuasi US$75 miliar yang berasal dari investor Sequoia Capital China, SIG Asia Investments, Sina Weibo, Softbank Group. Sementara startup unicorn asal Indonesia Go-Jek berada di posisi ke 20 dengan valuasi US$10 miliar.

Teknopreneur.com – Setelah ramai blunder cuitan CEO Bukalapak dan disebutkan oleh Capres Jokowi, masyarakat menjadi lebih aware dengan istilah “Unicorn”. Sebenarnya tak terlalu salah jika salah satu calon presiden tak paham apa itu unicorn, karena memang istilah ini beum menjadi istilah yang umum. Jika Anda mencari lewat mesih pencari dengan kata kunci unicorn, mungkin yang muncul adalah mahluk mitologi asal benua barat yang berwujud kuda gagah berwarna putih dengan satu tanduk panjang berulir yang tumbuh di dahinya. Atau justru gambar animasi dari serial anak-anak yang sedang banyak digandrungi oleh anak usia 3-8 tahun khususnya anak perempuan.

Ketika dikaitkan dengan startup, barulah kita mendapat penjelasan bahwa unicorn adalah istilah untuk startup atau perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari US$1 miliar. Adalah Aileen Lee yang memperkenalkan istilah ini ke publik pada tahun 2013 silam. Sebagai seorang pendiri Cowboy Ventures, perusahaan venture capital yang berbasis di California, Lee ingin mengetahui potensi investasi di perusahaan-perusahaan rintisan yang ada pada saat itu (2013). Untuk itu ia melakukan riset dan menemukan fakta bahwa 0,07% perusahaan yang didukung oleh venture capital memperoleh valuasi lebih dari US$1 miliar. Oleh Lee hasil riset ini ingin dirilis ke masyarakat luas, namun belum memiliki istilah yang cocok untuk menggambarkan perusahaan dengan valuasi tersebut. Dikutip dari laman www.ibtimes.com, Lee berusaha mencari kata yang mudah diingat dan bisa digunakan secara terus menerus.

“Saya mencoba dengan kata-kata yang berbeda seperti ‘home run’, ‘megahit’ namun itu semua terdengar seperti ‘bla’. Akhirnya saya menggunakan ‘unicorn’ karena perusahaan ini sangat langka dalam artiada ribuan startup di bidang teknologi setiap tahun, dan hanya segelintir yang akan menjadi perusahaan unicorn. Mereka sangat langka,” ujar Lee.

Selain untuk menggambarkan kelangkaan, istilah ini juga digunakan oleh Lee untuk memberikan kesan mistis namun unik yang konon menangkap esensi dari banyak perusahaan startup. “Banyak entrepreneur dan founder memiliki impian besar dan berada dalam misi untuk membangun hal-hal yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya,” jelasnya.

Setelah istilah unicorn dirasa tepat, Lee memublikasikan hasil risetnya di TechCrunch dengan judul  “Welcome To The Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups” pada 2 November 2013, yang kemudian mendapatkan respon yang sangat luar biasa. Semenjak saat itulah istilah unicorn digunakan untuk menyebut startup dengan valuasi lebih dari US$1 miliar.

Menurut data dari www.cbinsights.com, saat ini terdapat 325 startup unicorn di seluruh dunia. Di urutan paling atas ada Toutiao, sebuah startup digital media asal China dengan valuasi US$75 miliar yang berasal dari investor Sequoia Capital China, SIG Asia Investments, Sina Weibo, Softbank Group. Sementara startup unicorn asal Indonesia Go-Jek berada di posisi ke 20 dengan valuasi US$10 miliar yang berasal dari investor Formation Group, Sequoia Capital India, Warburg Pincus.

Lainnya, Tokopedia di posisi 27 dengan valuasi US$7 miliar, yang diperoleh dari SoftBankGroup, Alibaba Group, Sequoia Capital India. Kemudian Traveloka di posisi 104 dengan valuasi US$2 miliar yang diperoleh dari Global Founders Capital, East Ventures, Expedia Inc. Dan yang terakhir Bukalapak di posisi 279 dengan valuasi US$1miliar yang diperoleh dari 500 Startups, Batavia Incubator, Emtek Group. Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kominfo menargetkan untuk menciptakan 20 startup unicorn pada 2025. Dengan demikian memiliki startup unicorn lebih dari 10 bukan lagi sekadar mitologi.  Kita lihat saja, tapi paling tidak jangan lagi bilang tak tahu jika ada yang bertanya soal “Unicorn”. Redaksi