Potensi Bayu Yang Merangkak Maju

687
Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun.

Teknopreneur.com – Kecepatan angin di wilayah Indonesia umumnya di bawah 5,9 meter per detik yang secara ekonomi kurang layak untuk membangun pembangkit listrik. Namun, bukan berarti hal itu tidak bermanfaat. Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun. Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit. Berdasarkan pada Kebijakan  Energi Nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) harus mampu menghasilkan 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

Belakangan ini pemerintah telah mengoperasikan PLTB Sidrap dan akan menyusul PLTB Tolo I di Jeneponto. Selain kedua wilayah tersebut, sebenarnya masih ada beberapa daerah lainnya yang juga memiliki potensi energy angin yang cukup besar. Hal ini diketahui dari analisis potensi energi angin dan pemetaan potensi energi angin yang telah dilakukan oleh Kementerian ESDM, wilayah dengan potensi yang cukup besar antara lain, Sukabumi (170 MW), Garut (150 MW), Lebak dan Pandeglang (masing-masing 150 MW), serta Lombok (100 MW).

Selain kelima wilayah tadi, wilayah lain yang memiliki potensi energi angin di bawah 100 MW antara lain, Gunung Kidul (10 MW) dan Bantul (50 MW) di DIY Yogyakarta, Belitung Timur (10 MW), Tanah Laut (90 MW), Selayar (5 MW), Buton (15 MW), Kupang (20 MW), Timur Tengah Selatan (20 MW), dan Sumba Timur (3 MW) di Nusa Tenggara Timur serta Ambon (15 MW), Kei Kecil (5 MW), dan Saumlaki (5 MW) di Ambon. Di lokasi-lokasi tersebut terdapat beberapa lokasi potensial dan sedang dilakukan pengembangan oleh pengembang listrik swasta.

“Pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan termasuk energi angin sebagai tulang punggung energi nasional akan terus diupayakan pemerintah guna mencapai target bauran energi nasional sebesar 23% yang berasal dari EBT pada 2025 mendatang,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi melalui keterangan resminya, pada September 2018.

Lahan Investasi Yang Seksi

Pembangunan PLTB Sidrap tersebut berasal dari dua pihak yakni  yakni Overseas Private Investment Corporation (OPIC) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBC), sebesar US$150 juta. Ini membuktikan jika proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yang konon dianggap tidak menarik ternyata masih dilirik oleh investor dari luar negeri. Bahkan untuk PLTB di Jawa Tengah tepatnya Kabupaten Tegal sudah dijajaki oleh perusahaan Java Energi Eoliana asal Perancis untuk membangun kapasitas pembangkit 67,2 MW.

Sebelumnya, perusahan yang berdiri tahun 2007 ini sudah melakukan penelitian dan survey ke tiga titik lokasi pembangunan. Project Manager Java Energi Eoliana, Laksita mengatakan, perusahaan ini sedang dalam tahap perizinan ke sejumlah dinas terkait.

“Sejak tahun 2018 lalu, kami sudah melakukan peninjauan ke tiga lokasi di Kecamatan Margasari yang menjadi sasaran kami. Di antaranya, Desa Kalisalak, Desa Pakulaut, dan Desa Marga Ayu,” ujar Laksita, usai Rapat Koordinasi Pembangunan PLTB Kabupaten Tegal, di Ruang Rapat Bupati Tegal, Januari 2019 kemarin.

Berdasarkan hasil survei tersebut, menurut Sita, kecepatan angin di tiga desa tersebut mencapai 6,75 meter per detik dan ini dianggap layak untuk dibangun PLTB.  Sementara, Kabag Pembangunan Setda Kabupaten Tegal, Sholikhin menuturkan, bahwa nilai investasi yang masuk untuk pembangun PLTB ini diperkirakan senilai Rp1 triliun.

“Sesuai surat pernyataan minat yang ditandatangani kedua belah pihak, perkiraan investasinya mencapai Rp1,01 triliun,” sebut Sholikhin.

Semoga dengan berhasilnya PLTB Sidrap menarik minat investasi untuk pembangunan PLTB lainnya di daerah-daerah yang sudah diketahui memiliki potensi energi angin yang besar. Tinggal bagaimana insentif yang diberikan oleh pemerintah. Redaksi