Panas Bumi, Energi Yang Semakin Seksi

366
Berdasarkan data International Geothermal Association, potensi panas bumi Indonesia berada pada urutan kedua setelah Amerika yang memanfaatkan 3591 ribu mega wat. Posisi ketiga Turki dan New Zeland. Kemudian disusul Meksiko, Italia, Islandia, Kenya dan Jepang.

Teknopreneur.com – Indonesia berada di antara tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, akan banyak pergesekan plat tektonik, gempa, letusan gunung berapi, tsunami, dan banyak potensi bahaya lainnya. Selain itu, kita juga berada di jalurRing of fire atau dalam bahasa kita berarti cicin api. Rangkaian gunung berapi sangat rentan meletus dan menimbulkan gempa ini harus diakrabi oleh penduduk Indonesia. Namun Tuhan tentu maha adil, dibalik risiko yang sangat besar, ternyata posisi Indonesia ini justru menjadi keberkahan terendiri. Keberadaan Ring of Fire membuat negara kita memiliki potensi panas bumi yang sangat luar biasa. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM sebagaimana yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Arcandra Tahar di Kampus Universitas Andalas pada Agustus 2018, potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29.215 GWe.

“Dengan total potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia sebanyak 29.215 GWe, menjadikan panas bumi sebagai salah satu sumber daya alam potensial, yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat. Terutama masyarakat sekitar lokasi panas bumi, ujarnya saat itu.

Sementara berdasarkan data International Geothermal Association, potensi panas bumi Indonesia berada pada urutan kedua setelah Amerika yang memanfaatkan 3591 ribu mega wat. Posisi ketiga Turki dan New Zeland. Kemudian disusul Meksiko, Italia, Islandia, Kenya dan Jepang. Pemanfaatan panas bumi Indonesia menjadi negara terbesar di dunia yang menggunakan panas bumi. Potensi panas bumi berada di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, Sulawesi, dan Maluku. Sehingga total semuanya terdapat 342 lokasi.

Maka tak aneh jika Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi produsen listrik dari energi panas bumi terbesar pada 2022 dan akan menggeser Amerika Serikat (AS). Perlu diketahui bahwa saat ini kapasitas total Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Indonesia mencapai 1.948,5 Mega Watt (MW) dan ditargetkan akan terpasang 2.058,5 MW.

Menurut Rida, seiring dengan beroperasinya PLTP di Indonesia, pasokan listrik dari energi panas bumi pun bertambah. Bahkan Indonesia akan menyalip posisi AS pada 2022, sebagai negara produsen listrik dari panas bumi terbesar saat ini, dengan daya pasok listrik 3.500 MW.

“2022 kita akan nomor satu mengalahkan Amerika sebagai produsen terbesar di dunia,” ujarnya.

Rida mengungkapkan, daya pasok dari energi panas bumi saat ini, membuat Indonesia menjadi negara terbesar kedua penghasil listrik energi panas bumi di dunia, menyalip Filipina dengan kapasitas PLTP‎ 1.600 MW.

‎”Tahun ini kita bisa melewati dalam hal kapasitas terinstal dan menggeser Filipina ke nomor 3, kita menjadi ke dua terbesar di dunia,” tandasnya.

Masyarakat Perlu Diedukasi

Dibalik potensinya yang luar biasa, pengembangan energi panas bumi masih menemui kendala, salah satuya pemahaman masyarakat. Saat ini masih banyak penolakan terhadap eksploitasi lingkungan untuk kepentingan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Sebut saja apa yang terjadi pada rencana pembangunan PLTPB di Gunung Talang Bukit Kili, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang diwarnai aksi penolakan dari masyarakat. Pertengahan September 2018 lalu ratusan warga tergabung dalam Salingka Gunung Talang berunjuk rasa ke Kantor Bupati Solok. Masyarakat dari empat kecamatan di 12 nagari yang mengatasnamakan Himpunan Masyarakat Pecinta Gunung Talang itu khawatir pembangunan pembangkit listrik itu berdampak bagi lingkungan dan sektor pertanian.

Masyarakat diliputi kekhawatiran jika lingkungan mereka akan rusak dan tak bisa lagi memberikan mereka penghidupan. Ini tentu saja tidak salah, bagaimanapun juga selama ini masyarakat masih menyandarkan kegiatan ekonominya pada potensi alam. Jika kelestarian alam terganggu maka berarti kehidupan mereka akan terganggu. Masyarakat belum memahami jika PLTPB justru bergantung pada kondisi alam yang sehat dan alami. Karena yang dimanfaatkan oleh PLTPB hanyalah panas bumi dan uap air yang ditampung untuk menggerakan turbin, ketika uap tersebut mencair, maka air akan kembali dimasukkan ke dalam sumber panas bumi sehingga tidak menimbulkan kerusakan lantaran ada proses pembaruan di sana.

Untuk itu perlu pendekatan khusus pada masyarakat agar mereka memahami nilai lebih dari potensi panas bumi yang ada di ligkungannya. Masyarakat perlu diedukasi tentang pentingnya pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energy alternatif yang terbarukan untuk menggantikan energi fosil. Redaksi