Elektrifikasi Nyaris 100%, Peran EBT Masih Rendah

360
Menurut data dai IE2I.or id, sumber energi listrik di Indonesia datang dari batubara (57,22 persen), gas (24,82 persen), minyak (5,81 persen), dan energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 12,15 persen. Yang artinya masih sangat bersandar pada energy fosil. Padahal Indonesia memiliki potensi besar dalam EBKTE, lebih dari 420 GW.

Teknopreneur.com – Dalam keterangan Pers yang diterima Teknopreneur pada Agustus 2018 silam, disebutkan bahwa hingga akhir Juni 2018, rasio elektrifikasi mencapai angka 97,13 persen. Adapun target rasio elektrifikasi dari pemerintah sendiri di akhir tahun ini sebesar 97,50 persen dengan komposisi PLN 94,5 persen, Non-PLN 2,36 persen dan LTSHE 0,12 persen. Namun lantara tidak merasa puas dengan capaian yang ada, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memasang target rasio elektrifikasi sebesar 99,9 persen di tahun 2019, dari target yang sebelumnya hanya 97,5 persen.

Salah satu yang menjadi impian dari masyarakat khususnya di daerah terpencil dan terluar adalah terhubung dengan jaringan listrik. Kondisi geografis kadang menjadi kendala yang paling berat untuk PLN mengaliri listrik di daerah pedalaman. Sebut saja wilayah Jambi, menurut data PLN Jambi, pada awal 2019 ada 74 desa yang belum dialiri listrik sama sekali. Sebagaimana yang dimuat dalam Bangkoindependent.com, Kepala Unit Pelaksana Pembangunan Ketenagalistrikan (UPPK) PT PLN Jambi, Pieter Vence Paleleu mengatakan, jumlah ini telah berkurang dibandingkan dengan tahun 2017 lalu. Di mana pada tahun 2017, jumlah desa yang belum dialiri listrik sebanyak 96 desa. Dari 74 yang belum teraliri listrik, 65 diantaranya memang terkendala medan yang sulit.

Lebih lanjut Pieter menjelaskan bahwa dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun fasilitas listrik di sana. Dibutuhkan anggaran lebih dari Rp 305 miliar. Ini akan mengaliri 33.716 calon pelanggan yang berada di 65 desa tersebut. Dengan jumlah Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 530,41 Kilo Meter Sirkuit (kms). Selanjutnya, Jaringan Tegangan Menengah sebesar 649,61 kms.

Pieter menjelaskan, untuk memasukkan listrik ke desa-desa tersebut terjadi beberapa kendala. Yang paling utama adalah akses jalan atau jembatan yang sulit dilewati. Mayoritas, akses jalan yang dilewati masih jalan tanah, dan berlumpur ketika hujan. Kemudian juga untuk desa yang berada di seberang sungai, untuk menyeberang juga pihaknya mengalami kendala. Selain persoalan geografis, kemampuan pembangkit listrik di Indonesia juga perlu dipertimbangkan. Apakah dengan semua pembangkit yang ada sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan 100 persen penduduk Indonesia?

Jonan menjabarkan pada tahun 2019 target kapasitas listrik terpasang secara nasional sekitar 75.000-80.000 megawatt (MW), di mana kapasitas sekarang sebesar 62.000-63.000 MW. Bahkan, proyeksi penambahan kapasitas listrik hingga tahun 2024-2025 sekitar 40.000-42.000 MW dengan tidak hanya mengandalkan energi fosil saja.

“Kita tetap mempertahankan komitmen bersama terhadap pengendalian perubahan iklim, yaitu 23 persen bauran energi, mudah-mudahan bisa tercapai di tahun 2025,” ujarnya pada pertengahan 2018 lalu.

EBT Untuk Listrik Pedalaman

Terkait dengan daerah-daerah pedalaman atau terluar, mungkin pemerintah bisa mengandalkan pembangkit listrik besar yang membutuhkan infrastruktur yang mahal. Tidak perlu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berkapasitas raksasa, maupun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Akan tetapi mulai beralih dan melirik potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) potensinya sangat besar di Indonesia.

Menurut data dai IE2I.or id, sumber energi listrik di Indonesia datang dari batubara (57,22 persen), gas (24,82 persen), minyak (5,81 persen), dan energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 12,15 persen. Yang artinya masih sangat bersandar pada energi fosil. Padahal Indonesia memiliki potensi besar dalam EBKTE, lebih dari 420 GW. Pembangkit listrik potensial tenaga air sebesar 75 GW sedangkan panas bumi sebesar 29 GW diikuti oleh biomassa/biogas (32,6 GW), tenaga surya (207,8 GWp)  atau 4,80 kWh/m2/hari,  angin (60,6 GW)  atau 3 – 6 m/s), dan tenaga gelombang laut (17,9 GW).

Maka seharusnya potensi-potensi ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik bagi daerah-daerah pedalaman sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan untuk daerah Jambi. Sebagaimana diketahui  Jambi pernah dipilih menjadi salah satu provinsi percontohan Proyek Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector (MTRE3) pada 2017 silam karena potensi sumber daya EBT yang dimiliki seperti biomassa, mikro hidro, dan surya. Pada tahun 2017 saja, telah tercatat adanya Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa dengan kapasitas 10MW yang menghasilkan excess power. Maka seharusnya Jambi bisa memanfaatkan potensi yang ia miliki untuk mengaliri listrik ke desa-desa yang terpelosok.

Tentu sayang jika kelak elektrifikasi di Indonesia telah mencapai angka 100% namun masih menggunakan energi fosil sebagai sumber. Selain tidak lestari, tentu akan menimbulkan masalah lainnya. Padahal Tuhan telah memilih kita untuk diberikan potensi energi yang lebih ramah dan terbarukan. Redaksi