Terbentur Regulasi Transportasi, Go-Jek Akuisisi Fintech Filipina

362
Coins.ph sendiri berdiri sebagai layanan penukaran cryptocurrency yang kemudian merambah layanan mobile payment. Bentuk layanannya termasuk e-wallet untuk pembayaran transportasi umum, pulsa telepon, dan aneka tagihan yang secara umum mirip dengan Go-pay.

Teknopreneur.com – Sukses mengaspal di Vietnam melalui Go-Viet, di Thailand, lewat nama Get yang melayani jasa transportasi dan pengiriman barang di 14 wilayah di Bangkok, hingga di Singapura dengan menggandeng Bank DBS sebagai mitra pembayaran digital. Kini Go-Jek tak mau melewati Filipina. Setelah terbentur regulasi soal perusahaan transportasi, Go-Jek tak mau gas kendur. Aplikasi besutan Nadiem Makarim ini kembali menarik gas di Filipina melalui langkah akuisisi salah satu startup di sana yang bernama Coins.ph. Perusahaan rintisan yang bergerak di ranah teknologi finansial (fintech) ini mengklaim sudah memiliki lima juta pengguna terdaftar di Filipina.

Berdasarkan berita yang beredar, disinyalir Go-Jek melakukan ekspansi dengan menggelontorkan uang senilai USD 72 juta atau setara Rp 1 triliun (kurs Rp 14.500 per USD) untuk mengakuisisi Coins.ph. CEO dan salah satu pendiri Coins.ph Ron Hose, berharap keberadaan Go-Jek menghasilkan seuatu yang hebat.

“Kami merasa seperti pada akhirnya bersama dengan Go-Jek dapat membangun sesuatu yang secara keseluruhan lebih besar dan lebih baik bagi pelanggan kami,” kata Ron. Sebelumnya Ron juga menyatakan bahwa sebelum diakuisisi Go-Jek, startupnya tengah mencari pendanaan.

Coins.ph sendiri berdiri sebagai layanan penukaran cryptocurrency yang kemudian merambah layanan mobile payment. Bentuk layanannya termasuk e-wallet untuk pembayaran transportasi umum, pulsa telepon, dan aneka tagihan yang secara umum mirip dengan Go-Pay.

Sebelum dengan Gojek, Coins.ph telah mengumpulkan dana senilai USD 10 juta dari dua investasi, antara lain termasuk Naspers, Global Brain, Wavemaker, Beenext dan Pantera Capital. Selain itu, Go-Jek bukan satu-satunya fintech di Filiphina, karena ada Grab yang bersiap masuk dengan GrabPay. Kemudian ada perusahaan, fintech lain, Oriente, yang baru saja mendapat pendanaan dari co-founder Skype. Kemudian, ada pula Mynt yang mendapatkan sokongan dari Alibaba serta Tencent yang juga menyuntikkan dana untuk fintech Filipina lainnya, Voyager.

Terkait dengan ijin mengaspal, sebelumnya Menkominfo Rudiantara menyatakan Pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan Filipina. Di antaranya dengan menawarkan keterlibatan perusahaan Filipina terlibat dalam proyek 1 juta rumah di Indonesia. Namun, kata Rudiantara, pemerintah memberikan syarat. “Kita harus berpikir maju, praktis. Sekarang begini, oke mereka boleh masuk ke Indonesia. Persyaratan tinggal satu, (harus) diperbolehkan Go-Jek ada di Manila,” kata dia. Redaksi