Limbah Plastik, Indonesia Setelah China

443
"The ocean currents brought us in a lovely gift of a slick of jellyfish, plankton, leaves, branches, fronds, sticks, etc.... Oh, and some plastic. Some plastic bags, plastic bottles, plastic cups, plastic sheets, plastic buckets, plastic sachets, plastic straws, plastic baskets, plastic bags, more plastic bags, plastic, plastic, so much plastic! Surprise, surprise, there weren't many Mantas there at the cleaning station today... They mostly decided not to bother.” Rich Horner

Teknopreneur.com – Pada Maret 2018 lalu, jagad maya dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang diambil oleh seorang pria berkebangsaan Inggris yang melakukan penyelaman di perairan Bali yang dikenal sebagai “Manta Point”. Bukan lantaran keindahannya, namun video ini menjadi viral karena kenyataan bahwa bahnyak sekali sampah plastik yang melayang di dalam laut di kawasan tersebut. Horner menyebutkan keberdaan lembaran plastik, sachets, sedotan, kantong plastik, kantong plastik, kantong plastik lagi, dan banyak kantong plastik. Buatnya ini hal yang sangat mengejutkan. Horner menyelam di kawasan tersebut demi melihat ikn Pari Manta yang disebutkan banyak beredar di kawasan tersebut. Namun kenyataan banyaknya sampah plastik yang melayang ke sana ke mari bersama ikan membuatnya prihatin.

Tak pelak video ini membuat reputasi Indonesia sebagai pembuang sampah plastik ke lautan semakin populer. Harus diakui reputasi Indonesia soal sampah plastik memang sangat buruk. Indonesia dijuluki sebagai sumber sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia pada 2015 melalui publikasi penelitian ilmuwan Amerika Serikat yang terbit di jurnal ilmiah Science.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa kawasan laut di Asia Pasifik tercemar oleh 11 trilyun potongan sampah plastik. Dengan kajian statistik dan penelitian terumbu karang di 150 lokasi berbeda di Indonesia, Thailand, Myanmar dan Australia selama tiga tahun, ilmuwan itu menyimpulkan pencemaran di Indonesia tergolong yang paling parah.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Jenna R. Jambeck, Asisten Guru Besar di jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Georgia, AS yang menganalisis tingkat pencemaran limbah plastik di lautan dunia. Mereka menemukan bahwa Cina dan Indonesia adalah sumber utama botol plastik, tas dan sampah lain yang menyumbat jalur laut global. Bersama-sama, kedua negara ini menyumbang lebih dari sepertiga detritus plastik di perairan global.

Dari penelitian tersebut, pada tahun 2010, 8,8 juta metrik ton limbah plastik yang tidak dikelola dengan baik berasal dari Tiongkok dengan perkiraan sebanyak 3,53 juta metrik ton sampah berakhir di lautan. Sementara sebanyak 3,2 juta metrik ton limbah plastik yang salah kelola berasal dari Indonesia dan diperkirakan 1,29 juta metrik ton menjadi puing-puing laut plastik. Amerika Serikat juga dianggap tak luput dari kesalahan karena turut mencemari lautan dengan plastik, tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada Cina. Setiap tahun, 0,11 juta metrik ton sampah plastik air datang dari Amerika Serikat.

Indonesia harus mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasi persoalan limbah plastik ini, jangan sampai posisi Indonesia menjadi juara dalam hal mengotori laut dengan limbah plastik. Inovasi teknologi pengolahan mutlak dibutuhkan. Redaksi