Mapping dan Database Startup

Teknopreneur.com—Indonesia yang saat ini menjadi salah satu negara dengan jumlah rintisan startup cukup banyak, bahkan beberapa negara  Asean telah mengakui bahwa 7 startup unicorn, 4 diantaranya ada di Indonesia.

Dalam hal generasi founder, Indonesia juga cukup banyak melahirkan founder ternama yang banyak menjadi inspirasi di kalangan generasi milenial saat ini. Empat founder startup unicorn seperti Nadiem Makariem (Gojek), Achmad Zaky (Bukalakapak), William Tanuwijaya (Tokopedia), dan Fery Unardi (Traveloka) adalah segelitir orang yang lahir di generasi milenial.

Sepintas akan terlihat bahwa para founder generasi milenial begitu agile menguasai lini bisnis startup nasional. Bahkan sebuah survei Database dan Mapping Startup 2018 yang dilakukan oleh Masyarakat Industri Kreatif berbasis Teknologi Informasi (MIKTI) menyebut bahwa 69,20 persen founder startup nasional saat ini didominasi oleh generasi milenial.

Sementara data lainnya menyebut, ada 15,20 persen untuk generasi Gen Z (Tahun kelahiran 1995-2010), dan 15,60 persen untuk generasi X (1981-1994).

Dari segi pendidikan juga diperlihatkan bahwa pendidikan founder startup nasional 67,94 persen berada di jenjang S1. Sementara sisanya terdapat 20 persen berada di jenjang S2, 7,94 persen SMA, 3,82 persen Diploma, dan 0,30 persen yang berpendidikan S3. Dengan dominasi gender laki-laki yang paling banyak ketimbang perempuan sebesar 91,18 persen.

Melihat hal ini Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, masuknya era industri 4.0 menjadi momen penting bagi generasi milenial. Terutama dalam memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM). Sehingga ia menyarankan kedepan diperlukan upaya pengembangan transformasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan kerja saat ini.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talent. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi” ungkapnya saat melansir siaran resminya di acara Creative Industries Movement di Denpasar tiga bulan bulan yang lalu.

Menperin meyakinkan bahwa generasi milenial sangat berperan penting dalam menerapkan dan menentukan era indutri 4.0. terlebih Indonesia dalam waktu denkat akan menikmati “Bonus” demografi hingga di tahun 2030. Artinya, nanti sebanyak 130 juta jiwa yang berstatus produktif akan mendapat kesempatan baru untuk mengembangkan bisnis di era digital.

“Dari pengalaman negara lain, seperti Cina, Jepang, Singapura dan Thailand, ketika mengalami bonus demografi, pertumbuhan ekonominya tinggi. Maka, Indonesia perlu mengambil momentum masa keemasan tersebut dengan terus membangun semangat optimisme,” paparnya.

Menperin mengkui telah memfasilitasi melalui beberapa incubator yang dimiliki untuk menumbuhkan para pelaku industri keratif digital. Bagi Airlangga, hal tersebut adalah faktor yang akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk perekonomian nasional.

“Untuk itu, kita terus mengembangkan pusat startup kreatif” tegasnya.

Potensi ekonomi digital bagi Menperin adalah sebuah kedigdayaan besar bagi Indonesia, pasalnya nilai positif ekonomi digital di tahun 2025 terutama terhadap PDB nasional diprediksi mencapai 150 miliar dollar AS.

“Ini akan menjadi peluang bagi 17 juta tenaga kerja yang tidak buta terhadap teknoogi digital. Dan, inilah yang kami dorong agar ekonomi digital terus berkembang, sehingga bisa ditangkap oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kita,” tutupnya.