Dunia Dalam Kantong Plastik

582
Pembangunan PLTSa ini adalah pelaksanaan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan program Pembangunan PLTSa. Di dalam aturan tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) bisa menugaskan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), BUMN, atau swasta untuk mengembangkan PLTSa dan akan mendapatkan bantuan Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) kepada pemda maksimal Rp500 ribu per ton sampah.

Teknopreneur.com –  Saat ini hampir semua produk di pasaran hadir dalam kemasan plastik, mulai dari produk makanan hingga elektronik, pasti memiliki unsur plastik dalam kemasannya. Sementara produk konsumsi yang berbasiskan material plastik juga semakin banyak dan murah. Tak aneh jika kemudian persoalan limbah plastik menjadi hal yang pelik bagi pemerintahan global.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Max Roser dan Hanna Ritchie yang dipublikasikan pada website ourworldindata.org menyebutkan bahwa pada tahun 1950 dunia hanya memproduksi 2 juta ton per tahun. Namun sejak itu, produksi tahunan plastik terus meningkat hampir 200 kali lipat, mencapai 381 juta ton pada tahun 2015. Tercatat ada sedikit penurunan jumlah produksi pada tahun 2009 dan 2010 sebagian besar merupakan dampak dari krisis keuangan global 2008. Sehingga jika diakumulasikan, pada 2015, dunia telah memproduksi 7,8 miliar ton plastik atau lebih dari satu ton plastik untuk setiap orang yang hidup hari ini. Tentu saja ini bukan jumlah yang sedikit.

Masih dari data yang sama, 42 persen dari total produksi plastik dunia dialokasikan untuk kebutuhan packaging atau mencapai 146 juta ton di seluruh dunia. Angka produksi ini juga secara tidak langsung akan menggambarkan angka limbah plastik karena pengaruh jenis polimer dan masa pakai produk plastik. Lantaran masa pakai plastik untuk kemasan sangatlah pendek—biasanya 6 bulan atau kurang—maka limbah plastik kemasan menjadi sangat dominan jika dibandingkan dengan penggunaan lainnya. Plastik kemasan bertanggung jawab atas hampir setengah dari total global. Perlu diketahui juga bahwa sekitar tiga perempat dari jumlah produksi plastik berakhir sebagai limbah.

Indonesia Dermawan Plastik

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Jika ini sebuah sebuah kebaikan maka kita patut bangga termasuk sebagai penyumbang terbesar. Sayangnya sumbangan kita bukanlah untuk kepentingan social atau kemanusiaan tapi sumbangan limbah plastik. Hal ini pernah diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada agustus 2018 silam. Susi menyatakan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang di laut.

“Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, sampah plastik sangat berbahaya,” ujar Susi dalam sebuah keterangan tertulis.

Susi menambahkan, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun. Di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.  Tidak hanya itu, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan (daratan) sekitar 10 miliar lembar per tahun atau 85.000 ton kantong plastik. Padahal kita semua tahu bahwa ketika sampah plastik masuk ke laut, mereka dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplasctics dengan ukuran 0,3 hingga lima mm. Microplasctics inilah yang sangat mudah dikonsumsi oleh hewan laut. Seperti ikan.

Data dari ourworldindata.org juga menyebutkan bahwa pada tahun 2010 produksi primer global plastik adalah 270 juta ton. Sementara jumlah limbah plastik global adalah 275 juta ton (dan dapat melebihi produksi primer tahunan melalui pemborosan plastik dari tahun-tahun sebelumnya). Limbah plastik yang paling berisiko memasuki lautan dihasilkan pada populasi pesisir (dalam jarak 50 kilometer dari garis pantai); pada tahun 2010 limbah plastik pantai berjumlah 99,5 juta ton. Hanya sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik (salah kelola) yang berisiko tinggi bocor ke lingkungan; pada 2010 ini berjumlah 31,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, 8 juta ton—3%  limbah plastik tahunan global—memasuki lautan (melalui berbagai saluran, termasuk sungai). Diperkirakan 10.000 hingga 100.000 ton plastik berada di perairan permukaan laut (beberapa kali lipat lebih rendah dari input plastik laut. Kita Juga harus bertanggung jawab. Redaksi