Solusi Apik Soal Sampah Plastik

513
"Lebih dari delapan milyar plastik menjadi sampah dan menimbulkan masalah lingkungan luar biasa, khususnya hewan yang menelan partikelnya."

Teknopreneur.com – Baru-baru ini Pemprov DKI Jakarta akan memberlakukan larangan penggunaan kantung plastik pada masyarakat. Hal itu dikatakan oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Muhammad Taufik. Menurutnya, permasalahan sampah plastik yang mencapai sekitar 2.000 ton perhari di Jakarta harus ditangani. Sebab, kata dia, sampah plastik sulit terurai dalam jangka waktu ratusan tahun. Bahkan penggunaan plastik bisa mengancam lingkungan seperti kehidupan biota-biota laut dan plankton.

Bukan hanya Pemprov Jakarta, bahkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menargetkan penerimaan cukai untuk plastic pada 2019 sebesar Rp 500 miliar. Dengan adanya target yang tinggi diharapkan dapat berimplikasi pada penurunan penggunaan plastik yang saat ini cukup meresahkan. Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, rencana penetapan cukai untuk plastik sudah digulirkan sejak 2017 lalu. Bahkan, pada 2017 pemerintah telah menetapkan target penerimaan cukai sebesar Rp1 triliun, namun menurun menjadi Rp500 miliar pada 2018 dan 2019.

Harus diakui persoalan sampah plastik ini memang tidak bisa dianggap remeh. Sudah sejak lebih dari 10 tahun, para peneliti mencoba untuk mengungkap masalah pengotoran laut berdasarkan burung laut yang mati. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ikatan Perlindungan Alam Jerman (NABU) sebagaimana dimuat dalam DW.com ini, rata-rata ditemukan 31 partikel plastik di lambung bangkai hewan yang biasanya terdampar di pesisir pantai. Dari data ini para peneliti memperkirakan pada setiap kilometer persegi permukaan air ada sekitar 18.000 partikel plastik. Kadang ukurannya sangat kecil, kadang sebagai kantong plastik utuh.

Disebutkan bahwa banyak plastik yang baru terurai setelah 450 tahun, kata Benjamin Bongardt, pakar sampah dari ikatan perlindungan alam Jerman (NABU). Sebagian besar pengotoran berasal dari plastik yang diproduksi abad ini.

“80 persen plastik datang dari darat dan tidak dari laut. Artinya, plastik tidak dibuang dari kapal, melainkan dari turis, penduduk yang dibawa sungai dan angin ke lautan,” ujarnya.

Khususnya plastik yang tipis dan ringan dan setelah dipakai sekali langsung dibuang, mudah terbang dari lokasi pembuangan sampah.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah ini bukan hal yang baru. Karena Negara-negara lainnya di dunia juga melakukan hal yang sama, sebut saja Komisi Eropa di Brüssel yang kini memutuskan untuk mendesak negara anggota mengurangi secara drastis penggunaan kantong plastik. 100 milyar kantong plastik digunakan di Uni Eropa setiap tahun. Komisaris urusan lingkungan Janez Potocnik menyatakan bahwa plastik membawa masalah yang luar biasa.

“Lebih dari delapan milyar plastik menjadi sampah dan menimbulkan masalah lingkungan luar biasa, khususnya hewan yang menelan partikelnya,” jelas Potocnik.

Namun masalah kantong plastik tidak sama bagi setiap negara. Denmark dan Finlandia hanya membutuhkan empat kantong plastik per orang setiap tahunnya. Sementara Polandia, Portugal dan Slowakia perlu lebih dari 450 kantong. Di Jerman per orangnya menggunakan 70 kantong plastik.

“Beberapa negara anggota telah sukses mengurangi jumlah kantong plastik. Jika negara lain mengikutinya, maka konsumsi di Uni Eropa bisa berkurang 80 persen,” tambah Potocnik.

Apa yang diusulkan oleh komisaris lingkungan Uni Eropa ini memang belum tentu disetujui, karena harus diterima terlebih dahulu oleh Parlemen Eropa dan dewan menteri Uni Eropa yang diwakili pemerintahan negara anggota. Bisa jadi negara-negara dengan industri plastic yang kuat seperti Perancis dan Jerman akan keberatan, dan berusaha mengurangi tuntutan dari usulan komisi tersebut.

Plastik Untuk Energi

Selain pelarangan atau peraturan penggunaan, seharusnya ada solusi lain untuk mengurangi dampak sampah plastik terhadap lingkungan apakah pemanfaatan limbah plastik atau bahan alternatif lainnya. Seperti yang gagas oleh Dimas Bagus Wijanarko, bersama komunitasnya pria kelahiran Surabaya ini berhasil menciptakan alat yang mampu mengubah sampah plastik menjadi BBM.

Sebagaimana yang dilansir dari Mongabay.com, Dimas menjelaskan bahwa alat perubah limbah plastik ke BBM yang diberi nama GP07 dibuatnya dari material-material yang mudah dijumpai, seperti pipa paralon dan tabung bekas. Mungkin terlihat receh, namun Dimas mengaku berdasarkan uji laboratorium, nilai cetane yang terkandung dalam BBM buatannya lebih tinggi dari Pertamina Dex.

Menurut Dimas, minyak yang dihasilkan dari pengolahan GP07 dapat menjadi sumber energi alternatif selain fosil. Satu kilogram sampah plastik, dapat menghasilkan satu liter bahan bakar minyak mentah. Tak tanggung-tanggung, minyak ini memiliki nilai oktan RON 84.

“Bisa digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor, mesin diesel, dan kompor minyak. Paling bagus untuk mesin diesel,” tambahnya.

Sebuah inovasi yang luar biasa, selain bisa menjadi solusi atas persoalan sampah plastik, temuan Dimas ini juga jadi solusi kebutuhan BBM yang terus meningkat. Mungkin teknologi made in Dimas bisa disebar ke masyarakat, sehingga akan muncul kilang-kilang mini BBM berbasis sampah plastik di komunitas masyarakat untuk mengolah sampah yang terlanjur ada. Sementara pembatasan dan pengolahan limbah plastik berjalan semoga muncul inovasi plastik yang murah dan ramah lingkungan. Redaksi