Mapping Startup Nasional: 80% Startup Indonesia Berskala Usaha Mikro-Kecil

Teknopreneur.com—Hasil survei mengenai seperti apa Mapping Startup Indonesia, telah dirilis oleh Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI). Survei yang bertajuk “Mapping and Database Startup Indonesia 2018” menekankan bahwa level skala usaha startup Indonesia, 80 persen masih berskala mikro dan kecil.

“Dengan survei ini akhirnya kita tahu, ada berapa jumlah startup Indonesia sekarang, dan diketahui juga startup tersebar dominan di Jabodetabek. Kemudian lebih dari 80 persen startup Indonesia itu masih mikro dan kecil” ungkap Sekertaris Jenderal MIKTI Andy Zaky saat merilis hasil surveinya bersamaan dengan merayakan momen 10 tahun MIKTI berdiri.

Menurutnya hasil dari “Mapping and Database Startup Indonesia 2018” ini bertujuan untuk menjadi acuan dalam membangun program yang tepat bagi stakeholder dan bagi startup yang baru memulai awal kariernya.

Tak hanya itu, Andy juga mengatakan bahwa di iklim bisinis startup saat ini MIKTI menemukan adanya masalah tersendiri dari level skala usaha startup mikro-kecil dan menengah-besar. Yang pada akhirnya hal itu membuat perbedaan dari segi kebutuhan.

“Saat kami dalami masalah, secara umum kendala startup di skala mikro-kecil itu permodalan, dan di skala menengah-besar rupanya terletak pada ketersediaan talenta, regulasi dan pemerintahan” lanjutnya.

Sementara untuk skala usaha startup menengah dan besar kurang lebih diketahui hanya 20 persen, dimana untuk startup di level ini adalah mayoritas startup besar yang bisa dibilang sudah akrab dan dekat dengan aktifitas pendanaan funding dari para investor lokal maupun asing.

Kemudian fakta lain yang dapat ditemukan dari survei ini adalah terkait modal awal yang digunakan founder untuk mendirikan startupnya. Dimana hasilnya hampir didominasi untuk modal awal kurang dari Rp 100 juta, yakni sebesar 85,81 persen responden menjawab demikian.

Selebihnya untuk modal awal di Rp100-500 juta sebanyak 9,46 persen, Rp500 juta-1 miliar 2,03 persen, dan modal awal yang lebih dari 1 miliar terlihat hanya 2,70 persen. Dari persentase ini, terlihat memang tren modal awal kurang dari Rp100 juta nampaknya menjadi porsi yang ideal bagi perusahaan startup awal.

Sekelumit kisah founder Bukalapak Achmad Zaky adalah salah satu yang memperkuat data tersebut, dimana ia memulai bisnis startupnya dengan modal awal hanya Rp500 ribu yang digunakan untuk membeli domain dan hosting situsnya. Zaky melihat peluang bisinis berbasis online memiliki peluang besar, dan seiring dengan peningkatan jumlah pengguna internet juga dapat ditangkap bahwa orientasi masyarakat saat ini sudah mulai hobi dengan aktifitas belanja virtual.

“Bukalapak mulai dengan teman saya, ini artinya kami mendirikan hanya dua orang. Dan modalnya hanya Rp500 ribuan baut beli domain dan hosting yang kecil saat itu. Sampai satu tahun setengah itu semua benar-benar modalin sendiri selama itu” kenang Zaky.

Menyikapi hal ini Ketua Umum MIKTI Joddy Hernady berkesimpulan bahwa sudah sewajarnya industri kratif di bidang digital mengalami pertumbuhan positif di Indonesia. Namun yang perlu diupayakan ialah seberapa besar impact yang akan diberikan untuk membawa masa depan perekonomian nasional.

Dalam hal ini pemerintah juga telah menyatakan secara eksplisit untuk memberikan dorongan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan industri digital terbesar, dengan visi Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia.

Pada data survei Database dan Mapping Startup Indonesia 2018 lainnya juga menyebut bagaimana peforma perusahaan startup selama ini. Yakni sepanjang di tahun 2017 terdapat 73,42 persen responden mengatakan perusahaan startup yang dirintisnya mengalami keuntungan, dan hanya 26,58 persen  yang mengalami kerugian.