Mapping dan Database Startup Indonesia 2018. Startup Tumbuh Subur, Indonesia Butuh Data Akurat

570
Terkumpul data 992 startup di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang usaha yang telah terverifikasi baik domisili, data founder, hingga kontak yang bisa dihubungi.

Teknopreneur.com – Berdasarkan riset yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), pengguna internet mencapai 143 juta orang di tahun 2017 lalu. Angka ini jelas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tengah menikmati perkembangan teknologi digital, termasuk pertumbuhan industri digital secara pesat di beberapa tahun terakhir. Salah satu indikasi geliat tersebut adalah keberadaan empat digital berstatus unicorn di tanah air, terbanyak di Asia Tenggara. Yang bahkan secara total hanya memiliki tujuh unicorn, termasuk empat dari Indonesia, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan untuk terus mendorong laju positif industri digital nasional ini. Presiden Joko Widodo menyatakannya dalam sebuah visi menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Pemerintah misalnya meluncurkan kebijakan-kebijakan terkait e-Commerce dan industri 4.0, serta berbagai program, seperti BEKRAF for Pre-Startup, 1.000 Startup, BEKRAF Developer Day, UKM Go Online, Pendanaan Startup, dan lain-lain. Selain pemerintah, pemangkukepentingan lain pun turut berinisiatif untuk mendukung pengembangan startup di Indonesia, beragam program diselenggarakan BUMN, swasta nasional dan multinational company, perguruan tinggi, hingga asosiasi dan komunitas.

Indonesia boleh bangga, lantaran pertumbuhan startup di Indonesia dianggap sangat pesat. Jadi sebuah tren di kalangan milenial saat ini untuk “Berkolaborasi membangun startup”. Jika sebelumnya kebanyakan sarjana yang baru diwisuda lebih suka mengunjungi situs-situs penyedia informasi lowongan kerja, kini mereka lebih memilih untuk membangun startup sebelum lulus kuliah. Tren inilah yang membuat pertumbuhan startup di Indonesia menjadi terlihat begitu berkembang. Namun, jika ditanyakan berapa jumlah sejatinya startup di Indonesia, niscaya tidak ada yang bisa menyebutkan angkanya dengan akurat atau minimal dibuktikan dengan data yang ada. Ini persoalan. Karena dibalik klaim pertumbuhan starup yang meningkat, ternyata tidak ada yang memiliki data yang akurat terkait jumlah startup di Indonesia.

Menurut Ketua Umum MIKTI, Joddy Hernady, saat ini belum ada acuan yang valid terkait data startup di Indonesia, kalaupun ada data yang beredar dan banyak dijadikan referensi sebenarnya masih belum valid.

“Kami menemukan fakta bahwa belum ada acuan valid mengenai data startup di Indonesia, memang ada beberapa referensi yang kerap digunakan untuk merujuk jumlah startup di Indonesia, namun setelah diteliti lebih lanjut ternyata sangat tidak valid,” papar Joddy.

Bukan “pepesan kosong” apa yang dikatakan oleh Joddy telah dibuktikan oleh Teknopreneur. Kami mencoba memverifikasi data yang disajikan oleh sebuah website yang disebut-sebut sebagai referensi jumlah startup di Indonesia, alhasil kami harus merasa kecewa. Alih-alih data startup, kami menemukan berbagai jenis usaha konvensional dan bahkan blog pribadi yang disebut sebagai web berita. Banyak dari—yang disebut sebagai –startup yang ada di website tersebut ternyata tidak memiliki informasi yang jelas baik alamat website resmi maupun alamat kantor.

Dari titik inilah kemudian Teknopreneur bersama MIKTI berinisiatif untuk melakukan pengumpulan data startup di Indonesia yang melibatkan beberapa komunitas startup. Terkumpul data 992 startup di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang usaha yang telah terverifikasi baik domisili, data founder, hingga kontak yang bisa dihubungi. Tidak berhenti sampai di situ, kami juga melakukan survey yang melibatkan startup-startup yang ada di dalam database untuk mengetahui kondisi real yang mereka alami selama ini.

Dari survey tersebut, kami menemukan bahwa saat ini ada 992 startup di seluruh Indonesia yang telah terverifikasi oleh Teknopreneur. Mayoritas startup di Indonesia bergerak di bidang e-Commerce, ada sekitar 35,48% startup yang bergerak di bidang e-Commerce, sementara sisanya tidak sampai 10 persen terkecuali pada kelompok lainnya yang mencakup IoT, software house, animasi, dll yang mencapai angka 53,63%. Ini sejalan dengan perilaku pengguna internet di Indonesia yang memang sedang menggandrungi belanja online terlebih dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan industri UKM yang membuat beraneka ragam produk yang bisa didapatkan dengan mudah lewat layanan e-Commerce. Dunia pendidikan adalah bidang yang terbesar kedua setelah e-Commerce. Berbagai aplikasi, software dan jasa pendidikan online memang mulai tumbuh dan menarik minat masyarakat. Penyedia jasa guru les atau aplikasi belajar online mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tambahan—selain pendidikan formal di sekolah—bagi keluarga. Sementara startup pariwisata seperti travel agent, pesan hotel, sampai tour organizer menduduki peringkat ketiga terbanyak. Bukan hanya membeli tiket secara online dan memesan kamar hotel, saat ini sudah banyak juga layanan yang menyediakan pemesanan tiket atraksi wisata. Selain meningkatnya angka kunjungan wisata, kesadaran pemerintah untuk mengembangkan industri pariwisata juga membuat bidang ini menjadi sangat menarik bagi para pelaku startup.

Untuk lebih lanjut, simak serial artikel tentang Mapping dan Database Startup Indonesia 2018 yang akan kami sajikan sepanjang awal Januari 2019. Redaksi