"Kami menemukan fakta bahwa belum ada acuan valid mengenai data startup di Indonesia, karena itu MIKTI berinisiatif melakukan pendataan dan verifikasi. Kami berharap keberadaan database ini dapat mejadi acuan awal semua pihak untuk pengembangan startup,"

Teknopreneur.com–Jumlah pengguna internet di Indonesia bertumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari separuh penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Tren tersebut menjadi salah satu faktor terjadinya arus cepat digitalisasi di berbagai sektor di Indonesia, yang selanjutnya membawa arus lain, yaitu pertumbuhan industri digital secara pesat di beberapa tahun terakhir.

Salah satu indikasi geliat tersebut adalah keberadaan empat digital berstatus unicorn di tanah air, terbanyak di Asia Tenggara. Yang bahkan secara total hanya memiliki tujuh unicorn, termasuk empat dari Indonesia, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan untuk terus mendorong laju positif industri digital nasional ini. Presiden Joko Widodo menyatakannya dalam sebuah visi menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia.

Selain pemerintah, pemangkukepentingan lain pun turut berinisiatif untuk mendukung pengembangan startup di Indonesia, beragam program diselenggarakan BUMN, swasta nasional dan multinational company, perguruan tinggi, hingga asosiasi dan komunitas.

Salah satu kepingan yang diperlukan untuk melengkapi berbagai inisiatif tersebut adalah keberadaan data yang komprehensif mengenai sebaran dan kondisi startup di Indonesia, yang akan membantu berbagai pihak dalam menentukan kebijakan dan program agar lebih optimal dan sinergis dengan inisiatif lain.

Untuk itu, MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia) dan Teknopreneur Indonesia, didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif RI, meluncurkan Database Startup Indonesia 2018 dalam rangkaian World Conference on Creative Economy di Bali pada Selasa, 6 November 2018.

“Kami menemukan fakta bahwa belum ada acuan valid mengenai data startup di Indonesia, karena itu MIKTI berinisiatif melakukan pendataan dan verifikasi. Kami berharap keberadaan database ini dapat mejadi acuan awal semua pihak untuk pengembangan startup,” papar Ketua Umum MIKTI, Joddy Hernady.

Dalam laporan ini, startup didefinisikan sebagai perusahaan di bidang industri digital yang telah memiliki badan usaha atau memiliki produk digital yang sudah dirilis ke pasar. Bidang industri digital yang dimaksud meliputi e-Commerce, financial technology, pengembangan game, dan pengembangan aplikasi digital di berbagai sektor.

Penyusunan dilakukan dengan pengumpulan daftar mengenai institusi yang dinyatakan sebagai startup dari berbagai sumber. Selanjutnya dilakukan verifikasi ulang terhadap seluruh data tersebut melalui akses langsung ke situs dan aplikasi resmi setiap startup, kontak langsung ke startup, dan masukan dari komunitas-komunitas startup di berbagai kota.

Sebagai kelanjutan Database Startup Indonesia 2018 ini, saat ini sedang dilakukan survei startup Indonesia, yang nantinya akan dirilis sebagai Mapping Startup untuk melengkapi Database Startup Indonesia 2018. Di dalamnya akan disajikan lebih jauh mengenai kondisi startup, demografi founder startup, permasalahan, hingga ekspektasi startup terhadap dukungan berbagai pihak. (Red)