Hadapi Era Digital, Ini Upaya Kominfo Fasilitasi Industri Pos dan Telekomunikasi

Teknopreneur.com—Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menyiapkan beberapa upaya untuk mendukung industri pos dan telekomunikasi (Postel), agar ideal sesuai perkembangan digital yang saat ini selalu berubah ekosistemnya.

Sekertaris Jenderal Kominfo Farida Dwi Cahyani menjelaskan bahwa eksosistem digital sebenarnya tidak hanya untuk pos dan telekomunikasi saja, melainkan juga untuk dunia penyiaran.

Maka dalam hal ini, Kominfo melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) telah mengupayakan kesenjangan digital dengan membangun infrastruktur industri, diantaranya adalah pembangunan proyek Palapa Ring.

Sementara untuk proses sejauh mana pembangunan itu berjalan, berdasarkan data terakhir Kominfo menjabarkan bahwa di bagian barat Indonesia kini jaringan sudah tersedia. Kemudian di bagian tengah 98 persen, lalu di bagian timur sudah mencapai 65 persen. Kominfo pun meyakinkan bahwa proyek ini akan rampung di tahun 2019, sehingga harapannya kedepan seluruh Indonesia bisa menikmati layanan Internet.

Tidak hanya itu, Kominfo juga tengah berupaya membangun BTS Universal Service Obligation (USO). Dimana Koiminfo telah menargetkan 5 ribu pembangunan unit BTS terhubung tahun ini, serta membangun satelit multifungsi (High Troughput Satelit/HTS) yang berkapasitas 150 Gbps.

HTS tersebut juga digadang-gadang bakal mampu melayani 93.900 sekolah, 47.9000 kantor pemerintahan, 3.900 kantor polisi/TNI, dan 3.700 Puskemas, dengan kualitas kecepatan internet hingga 30 Mbps.

Menyikapi hal tersebut Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono mengungkapkan hal yang senada. Bahwa industri postel harus mampu menyesuaikan diri dengan eksosistem digital saat ini, bahkan sampai ke bisnis model perusahaan. Ia juga mencontohkan pada sistem bisnis kurir yang dulu mengacu pada kepentingan barang, namun sekarang dengan adanya e-Commerce, justru perusahaan kurir tersebut fokus pada si penerima dan pembeli.

“Industri ini bisa investasi di 4.0 tetapi kalau kultur dan bisnis model tidak kompatibel, itu akan imbas ke fulfilled,” katan Gilarsi.

Gilarsi juga menunjukan bahwa kini data Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor informasi dan telekominikasi yang berdasarkan harga yang berlaku mencapai Rp134,6 triliun pada triwulan pertama di tahun 2018.  Berbeda dengan tahun lalu yang hanya berkontribusi 5 persen terhadap PDB nasional, dan kemudian tumbuh 9.81 persen di setiap tahunnya. (Wes)