Diskusi Ngaji Teknologi #5, Savic Ali Menjelaskan Opininya.

Teknopreneur.com—Menyikapi iklim perkembangan teknologi di era Industri 4.0, dunia pendidikan pesantren dinilai perlu banyak evaluasi dalam hal kesiapan menjawab tantangan zaman untuk menciptakan inovasi teknologi terkini.

“Ya secara umum si belum siap-lah ya, jangankan pesantren, untuk kelas Universitas saja pun masih masih banyak yang dinyatakan belum siap” ucap Direktur NU Online, Savic Ali saat menghadiri diskusi Ngaji Teknologi bertema Pesantren dan Inovasi Teknologi, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Menurutnya apa yang sudah menjadi keunggulan dari sistem pendidikan pesantren, jangan melulu mudah mengklaim akan bisa memberikan sumbangsih ide inovasi di bidang teknologi. Pasalnya, untuk di negara lain Indonesia masih kalah jauh tertinggal.

“Perkembangan teknologi di negara lain itu sudah jauh melesat, dan kita memang masih tertinggal jauh. Orang sudah bisa meluncurkan roket, dan balik sendiri kemudian mendarat dengan berdiri” lanjutnya.

Sehingga ia menekankan ada baiknya untuk mengakui “kelemahan” ini, bahwa negara Indonesia masih banyak belajar dan meniru. Namun, ada titik harapan yang bisa digunakan secara maksimal. Seperti menggunakan inovasi-inovasi teknologi yang sudah ada di sekitar masyarakat untuk digunakan dengan optimal.

“Misal, untuk hal ini kita bisa belajar soal Coding atau Programming itu sudah tidak perlu biaya yang besar. Tapi hanya butuh ketekunan, terlebih kini sudah banyak forum-forum tertentu untuk dimanfaatkan berbagi hal yang berguna” kata Ali.

Kemudian khusus untuk pesantren, Ali menilai sebenarnya sudah bisa membuat sebuah aplikasi. Ini dibuktikan dengan Data Base jumlah pesantren NU yang cukup banyak, dan bisa dimanfaatkan untuk membuat layanan aplikasi seperti Air BnB atau mirip dengan Traveloka.

Dengan adanya layanan aplikasi tersebut, setiap orang tua nantinya tidak melulu dipusingkan dengan dimana lokasi pesantren terbaik untuk putra putrinya. “Untuk membuat itu kan, yang dibutuhkan Skill Coding, untuk ukuruan level ini baru kita mampu.”

Bahkan ia juga meyakinkan, jika memang serius SDM khusus kalangan santri NU sudah ada. Walaupun Ali masih belum bisa membuktikan secara data akurat.

“Dengan model seperti ini inovasi-inovasi yang kita butuhkan, jadi ukurannya adalah bagaimana kita bisa memecahkan masalah yang ada di sekitar masyarakat” tutup Ali. (Wes)