Ilustrasi Iklim Bisnis Startup
Ilustrasi Iklim Bisnis Startup

Teknopreneur.com—Kekhawatiran Amerika Serikat (AS) atas dominasi pasar Asia mulai memanas saat terbitnya Undang-undang Committee on Foreign Investment in The United States (CFIUS). Akibatnya gejolak iklim binis makin tak karuan lantaran isi Undang-undang tersebut, pemerintah AS memblokir investasi asing termasuk Venture Capital.

Di dalam UU CFIUS terdapat satu poin penegasan bahwa pemerintah AS sepakat berniat memutuskan dari berbagai macam transaksi, bahkan menghilangkan ambang batas kepemilikan di sektor perusahaan. Dampaknya UU tersebut dinilai dapat merusak iklim bisnis startup Asia seperti negara Cina yang saat ini tak sedikit investasi yang ditanamkan pada AS.

Stephen Heifetz mantan anggota CFIUS yang dilaporkan Routers mengatakan, dari sisi persepsi banyaknya transfer teknologi telah menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi AS, dan ini sangat terkait efeknya terhadap perkembangan bisnis startup.

Posisi Silicon Valley sebagai “kiblat” startup memang belum tergeser, namun penerbitan UU CFIUS oleh pemerintah AS dinilai cenderung ceroboh yang imbasnya dapat berakibat buruk di Silicon Valley. Saat ini, setidaknya sudah lebih dari 20 perusahaan modal Ventura Silicon Valley memiliki hubungan erat dengan produk BUMN pemerintah Cina.

Kekhawatiran hal tersebut kuat ditegaskan oleh Chris Nicholson seorang  Co Founder Al Skymind salah satu perusahaan yang mendapatkan suntikan dana oleh Tencent Holdings. Menurutnya, UU CFIUS ini akan berakibat menutup ruang kesempatan perkembangan ekonomi AS. Kemudian ia juga mempertanyakan bagaimana UU CFIUS dapat mengawasi dari sistem investasi startup yang ada.

Bahkan hasil temuan Survey Report Startup Genome Ecosystem 2018, jurnalis BBN Times Salman Jaher menuliskan peta kewirausahaan dalam skala global kini telah berubah. Hal itu dilihat dari iklim bisnis Asia yang cenderung menngalami peningkatan, sementara dominasi keunggulan “Barat” justru mengalami penurunan.

Menurutnya negara AS dengan Silicon Valley-nya memang masih menjadi nilai teratas dalam ekosistem startup global. Namun dalam kurun waktu enam tahun terakhir, penurunan aliran modal di wilayah barat nampak signifikan. Hal ini terlihat dari periode 2016-2017, walau AS masih sedikit di depan wilayah Asia, namun negara-negara wilayah Asia seperti Cina di periode tahun yang sama justru mengalami tren pertumbuhan positif.

Skema Grafik Hasil Survey Startup Genome 2018

Pertumbuhan tersebut terlihat dari negara Cina yang dahulu (periode tahun 2014) hanya memiliki 13.9 persen aliran dana VC, kemudian naik nilai investasinya diperiode tahun 2016-2017 menjadi 35 persen. Sementara AS pada tahun 2014 semula memperoleh nilai investasi 60 persen kini turun menjadi 41.3 persen pada di periode tahun 2017-2017. (Wes)