Startup Unicorn Go-Jek, Foto @MLDSPOT

Teknopreneur.com— Ekspansi Go-jek mulai merambah di negara-negara Asia seperti Vietnam dan Thailand, hal ini tak lepas dari makin “gemuknya” nilai investasi mereka sejak salah satu perusahaan startup Unicorn tersebut berdiri.

Pintar dalam menganalisa demand pasar ride sharing, Go-jek menjadi satu-satunya startup lokal yang berhasil menyentuh pasar Asia. Ini adalah langkah awal yang dilakukan Go-jek, kemudian mekanisme proses pengembangan perusahaan Go-jek akan dikelola oleh tim menejemen lokal disertai dengan skill kemampuan dan pengetahuan dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masing-masing negara yang mereka jajaki.

“Kami percaya masing-masing tim lokal memiliki pengetahuan dan keahlian untuk memastikan kesuksesan bisnis di Vietnam dan Thailand. Mereka memang menggunakan merk yang berbeda, namun mereka tetap beroperasi sejalan dengan nilai-nilai Go-Jek. Bagi kami ini bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis, namun bagaimana kami dapat menghadirkan dampak positif kepada sebanyak-banyaknya orang,” ujar Nadiem dalam siaran pers-nya, 27 Juni 2018.

Bahkan belum lama ini produk besutan dari PT. Karya Anak Bangsa tersebut mulai dikenal oleh sebagian masyarakat Vietnam dan Thailand, masing-masing produk tersebut bernama Go-Viet untuk Vietnam, dan GET untuk Thailand. Namun, dua merk produk itu salah satu diantaranya masih dalam uji coba dan siap diluncurkan secara penuh pada awal Juli 2018.

Dari skema layanan yang dikembangkan, beberapa media nasional mencatat tak ada perbedaan terkait penawaran layanan. seperti di Indonesia layanan Go-jek masih diseputar pada ride sharing, pengiriman logistik, layanan pesan antar makanan, serta pembayaran elektronik.

faktor “gemuknya” nilai investasi yang mereka dapatkan, adalah tiang utama CEO Nadiem dalam menyebarkan langkah bisnisnya. sebelumnya Teknopreneur berhasil mengumpulkan informasi terkait siapa saja investor dibalik upaya ekspansi Go-jek. Dimulai pada medio Febuari 2018 lalu, Teknopreneur menyebutkan Go-jek telah mendapatkan suntikan dana sebesar $150 juta atau setara Rp. 2 Triliun kepada Nadiem.

Wacana itu menurut Nadiem ialah bentuk keinginannya untuk mengembangkan bisnis di sektor UMKM dan upaya Nadiem dalam meningkatkan kesejahteraan para Drivernya. Kemudian investasi itu diiringi dengan investor prestisius lainnya seperti Warburg Pincus, KKR, Meituan, Tencent, Google, Temasek, Go-jek berhasil memperoleh total investasi sebesar $500 juta yang kemudian dijadikan sebagai modal.

Dengan demikian maka Go-jek merupakan pesaing terberat Grab yang dinilai cukup sukses sebelumnya mengakuisisi Uber sebulan setelah Go-jek mendapatkan suntikan dana. Ini menandakan iklim layanan ride sharing di wilayah Asia makin ketat dan telah memunculkan dua “raksasa” startup dibalik iklim perekonomian yang masih lesu.

 Grab Pesaing Ketat

Langkah akuisisi Grab merupakan tanda serius bagi Go-jek untuk bersaing ketat dalam layanan ride sharing yang sedang on demand saat ini. Seperti yang dikatakan Presiden Landor dalam Marketing Interactive, bahwa jika melihat wilayah lain seperti halnya Singapura, Go-jek sudah bisa dipastikan akan mudah diterima lantaran dua kandidat Grab dan Uber sudah bersatu. Maka dengan adanya Go-jek, persaingan harga akan lebih kompetitif dan ini baik untuk iklim bisnis.

“Supaya perusahaan Indonesia berhasil di pasar seperti Singapura, penawarannya perlu disesuaikan karena gaya hidup dan pilihan konsumennya berbeda,” jelas Landor, KataData, (26/6).

Analisis Landor pun sepertinya berlaku di Indonesia, ini terlihat persaingan Grab-Gojek begitu terasa oleh masyarakat Indonesia dalam bentuk perang tarif atau pun promo yang berlaku dikeduanya. Untuk hal ini finansialku merinci besaran tarif dari masing-masing  perusahaan.

Dalam skala per 1 Kilometer Grab memasang tarif Rp.1.750 untuk 12 Km pertama dan tarif itu akan naik menjadi Rp.3.000 per Km jika sudah diatas 12 Km pertama, plus ditambah Rp.2.500 pada kondisi jam sibuk (Pagi, 06.00-09.00, dan Sore, 16.00-19.00). Kemudian Go-jek menerapkan tarif Rp.2.500 per Km untuk 12 Km pertama, dan untuk tambahan tarif pada jam sibuk Go-jek terlihat lebih besar dalam mematok harga, yakni Rp.10.000.

Walaupun kisaran harga yang diterapkan tersebut selalu aktif berubah-ubah, terlihat Grab nampak begitu “tahan banting” terhadap market Go-Jek dengan memasang tarif lebih murah.

Grab juga tidak hanya aktif dalam menawarkan layanan dengan harga miring, namun juga memiliki jumlah kekuasaan bisnis yang cukup besar. Diantaranya negara Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar, yang menjadi zona merah bagi Go-jek.

Bahkan berdasar penelusuran Teknopreneur baru-baru ini, Grab telah menjangkau layannya di wilayah Jayapura, Papua. Produk asal Malaysia tersebut sudah bertengger di 75 kota besar Indonesia, berbeda dengan Go-jek yang masih terseok di 50 kota besar tanah air. (Wes)