Teknopreneur.com—Indonesia adalah negara yang agraris, nampaknya hal itu masih bertolak belakang dengan pemerintah yang kerap melakukan impor beras dalam skala yang besar. Untuk itu, berbagai cara dan inovasi dilakukan guna mengimbangi era industri 4.0, salah satunya ialah dengan menghadirkan platform digital pertanian.

Melihat peluang yang cukup baik, Muhammad Nanda Putra seseorang yang aktif di dunia pertanian. Memandang saat ini petani sering kali menemukan kendala modal untuk mengembangkan lahan pertaniannnya. Tidak hanya itu, kendala iklim yang kerap membuat komoditas harga produk pertanian anjlok dipasaran, pun menambah deraita petani yang kian tercekik hutang lantaran gagal panen.

Maka dengan mengkolaborasikan sektor pertanian dalam produk digital, Nanda berhasil mendirikan startup bernama Tanijoy pada April 2017 lalu guna membantu petani keluar dari lilitan hutang modal pada tengkulak.

“Kami coba kasih alternatif ke petani karena tujuannya ingin membantu komunitas petani yang melek dengan teknologi” terangnya.

Dengan hadirnya Tanijoy, seorang Landowner akan dibantu menghubungkan dengan petani kecil yang tak memiliki lahan untuk bisa diolah secara profesional. Dengan demikian, peningkatan taraf hidup dari sorang petani akan semakin baik, bahkan Tanijoy juag memeberikan transparansi semua aktifitas pertanian.

Cara Kerja Tanijoy

Startup Tanijoy yang merupakan salah satu finalis YTech, memiliki cara kerja cukup ideal untuk meningkatkan kualitas petani Indonesia. Dengan melakukan kerjasama dengan para petani daerah, Tanijoy aktif dalam melakukan pelatihan, yakni dimulai dari memilih salah satu orang dari kelompok petani untuk dijadikan Field Manager yang berguna untuk pengawasan aktifitas pertanian dilapangan.

Selain itu, Tanijoy juga memberikan rekomendasi untuk tanaman apa yang cocok sesuai musim yang berjalan dan pasar.

“Kita berikan transparansi pada Landowner untuk mendapatkan laporan setiap harinya secara real time. Sehingga Landowner juga mengetahui perkembangan tanaman yang ditanam, dan petani mengembangkan lahannya” terang Nanda dalam siaran web miliknya.

Untuk skema bagi hasil, Tanijoy menerapkan pembagian petani dan investor masing-masing 40 persen dari penjualan, dan 20 persen untuk Tanijoy.

Namun, tegas Nanda, dari keuntungan 20 persen tidak seluruhnya pendapatan tersebut digunakan untuk oprasional. Melainkan, 10 persen setengahnya adalah sisihan dana untuk asuransi guna meminimalisir apabila terjadi gagal panen. Sehingga dana ini disimpan sebagai jaminan untuk investor.

“Karena harga kan naik turun. Contohnya komoditas cabai, saat bulan Oktober lalu harganya Rp6.000 di tengkulak. Kami jual Rp11.000 juga masih rendah harganya. Sekarang harga cabai Rp40.000 ke atas. Saat harga Rp40.000, kami untung banyak,” lanjutnya.

Selain menyisihkan 10 persen untuk asuransi, Tanijoy mengalokasikan 25 persen dari pendapatannya untuk mitra lahan. Yang rata-rata dalam satu orang mitra lahan yang dimiliki memiliki luas 30-40 hektar.

“Pemilik lahan ini, di luar sistem perjanjiannya, ada yang sistem bagi hasil dan ada juga yang sewa lahan” pungkasnya.

Bersaing untuk Program YTech

Tanijoy kini telah memasuki tahap 5 besar dalam program YTech dan akan menuju Grand Final pada Rabu, 16 Mei 2018. Support Tanijoy untuk terus berkembang dan menjadi juara pada ajang YTech dengan vote untuk mereka.WES