Ilustrasi Peer to Peer (P2P) landing

Teknopreneur.com—Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Aji Suleiman memprediksikan, model transaksi pinjam meminjam melalui Peer to Peer Lending(P2P), di tahun 2018 bisa meningkat lebih besar dari tahun sebelumnnya.

Hal tersebut dikatakan Aji usai melakukan penandatangan MoU kerjasama coworking space antara Indonesia dengan Australia, pada jumat lalu (23/2). Menurutnya, peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2017, disebabkan oleh terbitnya peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK Nomor 77/POJK01/2016, sebagai dasar aturan tata cara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

“Yang pasti untuk P2P, sejak tahun 2016 setelah terbitnya POJK 77, terlihat peningkatan usage-nya sangat baik dan begitu pesat. Akibatnya peningkatan di tahun 2017 mencapai delapan kali lipat” ucap Aji menyikapi iklim penggunaan P2P yang cenderung positif.

Sehingga berdasar tren positif di tahun 2017, di periode 2018 peningkatan penggunaan P2P bisa lebih besar dari tahun sebelumnya. Terlebih, tegas Aji, untuk saat ini jenis P2P pun sudah makin terspesialisasi sesuai segment market yang ada. Seperti, penggunaan P2P pada segment Agriculture, Usaha Micro Kecil dan Menengah (UMKM), serta usaha distributor yang makin eksis saat ini.

Aji pun melanjutkan, berdasarkan fakta tersebut membuktikan bahwa landing secara umum kini sifatnya cenderung terpisah, yakni sesuai dengan kebutuhan bidang pasar. Positifnya, dengan menganut sistem P2P tidak akan ada satu atau dua perusahaan dengan jenis yang sama menguasai seluruh market, mudahnya dengan sistem P2P akan tidak ada lagi konglomerasi antar perusahaan.

Namun berbeda jika konteksnya soal transportasi online, menurut Aji untuk di bidang ini tak mungkin ada banyak perusahaan startup yang aktif di market ride sharing. Artinya, hanya sedikit perushaan yang me-leading market, dan ini dibuktikan cuma tiga perusahaan ride sharing yang aktif di Indonesia.WES