Hasil Survey APJII 2017; Penetrasi Pengguna Aplikasi Berbayar dan Berlangganan

Teknopreneur.com—Nampaknya kesadaran untuk membayar aplikasi yang digunakan masih sangat minim di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh Survey Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet 2017 yang dilakukan oleh APJII bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia.

Dari hasil survey yang dirilis pada Senin (19/2) dari 143 juta pengguna, hanya terdapat hanya 29.8 juta masyarakat yang berani membeli layanan aplikasi berbayar. Masyarakat Indonesia nampaknya cukup puas dengan berbagai aplikasi gratisan kendati fitur yang disediakan tidak selengkap versi berbayar. Mulai dari pesan instan, game, hingga aplikasi yang menunjang pekerjaan sehari-hari, semuanya adalah aplikasi free download yang memang banyak terdapat di Play Store atau App Store.

Menanggapi hal tersebut Ketua Umum APJII, Jamalul Izza mengatakan bahwa rendahnya penetrasi aplikasi berbayar memang masih perlu menjadi perhatian. Bahkan, lanjut Izza, jikapun penetrasi pengguna internet di beberapa tahun ke depan diprediksikan meningkat, namun peningkatan di berbagai kategori perilaku masih memerlukan waktu.

“Memang soal aplikasi berbayar ini masih perlu perhatian. Namun saya kira, jika proyek tulang pungung internet telah rampung, maka akan memberikan dampak pada semuanya termasuk soal aplikasi berbayar” ujarnya di sela acara press conference hasil survey tersebut.

Sementara, Sekretaris Jenderal APJII Henri Kasyfi mengatakan pihaknya belum memiliki data mengenai alasan di balik rendahnya penetrasi pengguna aplikasi berbayar dan berlangganan tersebut. Namun, APJII tengah berkoordinasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk hal tersebut.

“Itu jadi pekerjaan rumah selanjutnya, isu-isu yang terkait Bekraf kami koordinasikan dengan mereka,” ujarnya.

APJII juga mencatat, berdasarkan level ekonomi, komposisi pengguna internet didominasi oleh Socio-Economy Status (SES) bawah dengan porsi mencapai 74,62%. Hal ini mengindikasikan mayoritas pengguna internet di Indonesia memiliki daya beli yang cenderung rendah. WES