Ilustrasi Gopay

Teknopreneur.com—Ekspansi Go-Jek sebagai startup Unicorn makin menggeliat dibeberapa layanan bisnis nasional, hal ini ditunjukan dari artikel yang sempat dipublikasikan oleh pihaknya terkait layanan pembayaran andalannya Go-Pay. Mereka pun mengklaim telah berkontribusi sebanyak 30 persen dalam transaksi non tunai nasional.

Perhitungan tersebut dimulai per bulan Oktober 2017, yang secara rata-rata pertumbuhannya positif sebanyak 25 persen untuk setiap bulannya. Pada jumlah pengisian Top-up saldo layanan Wallet digitalnya pun naik 15 persen, akhirnya secara terang artikel yang dimuatnya tersebut menyebutkan kenaikan jumlah pengguna Go-Pay meningkat tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sepintas indikasi perubahan pembayaran tunai ke non tunai pun mulai nampak, terlebih saat ini startup Ride Sharing besutan Nadiem begitu digandrungi oleh beberapa Venture Capital ternama luar maupun lokal. Pada 12 Senin Februari lalu 2018 misalnya, Go-Jek sekali lagi berhasil mendapatkan suntikan yang cukup besar dari PT Astra International.

Seperti yang dilansirkan Kompas pada beberapa waktu lalu, bahwa masuknya Google, Astra, dan Djarum membuat valuasi Go-jek meningkat dikisaran $4 miliar atau setara dengan Rp53 triliun. Maka dengan suntikan dana yang didapatkan, Go-Jek mulai percaya diri untuk selangkah lebih maju untuk mendominasi bisnis layanan Fintech dengan produk Go-Pay mereka.

Pengakuan pengguna pun mulai akrab, alasannya pun tak sedikit mengakui bahwa dengan menggunakan layanan Wallet digital saat ini giat transaksi terasa lebih mudah dan ringkas dalam satu tempat. Terlebih, banyaknya promo berupa potongan harga turut menjadi alasan utama. Bahkan dengan cara ini pengguna digadang bakal menghemat lebih optimal dari penggunaan transaksi tunai pada umumnya.

Hasil Riset APJII 2016 pun menegaskan, peluang bisnis layanan Fintech terlihat menjanjikan dari persentase jumlah transaksi Online. Tercatat sudah ada 84.2 juta atau 63.5 persen, setiap orang sudah pernah dalam melakukan transaksi non tunai. Begitu pun dengan jumlah pertumbuhan jumlah pengguna internet Indonesia, yang terus meningkat setiap tahunnya. Mengukuhkan bisnis Fintech begitu “manis” sebagai Landmark untung yang menjanjikan.

Melihat peluang ini, Nadiem pun memanfaatkannya secara maksimal dengan gayanya yang irit bicara. Didukung dengan postur modal yang bisa dikatakan “gemuk”, ia pun berhasil mengakuisisi tiga perusahaan rintisan teknologi finansial.

Seperti yang sudah banyak diketahui, tiga perusahaan rintisan finansial tersebut ialah; kartuku, Mapan, dan Midtrans. Yang kemudian turut menyokong eksistensi Go-Pay di mata masyarakat.

Kendati demikian, Bank Indoensia masih mendalami lebih jauh soal akuisisi yang Nadiem terhadap tiga perusahaan rintisan finansial tersebut. hal ini didasari dari sistem Go-Pay ialah penyelenggara jasa sistem keuangan (PJSP).

Direktur Departemen Pengawasan dan Kewajiban Sistem Pembayaran BI, yakni Punky Purnomo Wibowo pun sempat mengatakan. Untuk kedua rintisan bisnis seperti Midtrans dan Kartuku, saat ini prosesnya masih dalam pengajuan izin Payment Getway, kepada pihaknya selaku otoritas sistem pembayaran nasional.

“Sedangkan kalau seperti Mapan itu wewenang OJK” ucapnya, Kompas, pada tahun lalu (18/12).