Startup Unicorn Go-Jek, Foto @MLDSPOT

Teknopreneur.com—Viral dibeberapa hari terakhir ini, Go-jek dan Astra kini sepakat dalam membangun kerjasama bisnis, hal ini diperlihatkan dengan pihak Astra International telah menggelontorkan dana sebesar $150 juta atau setara dengan Rp2 triliun kedapa Go-jek yang kini digadang-gadang sebagai startup primadona untuk menjalankan bisnis.

Pada senin lalu tepatnya 12 Februari 2018, Founder Nadiem Makariem mengakui telah mendapatkan dana suntikan tambahan dari pihak Astra. Yang menurutnya, pada tahap pendanaan ini tak begitu berbeda dengan suntikan Google dan Temasek (Singapura), namun untuk nilai besaran dana Astra International-lah yang terbesar.

Akibatnya kini Go-jek terlihat “gemuk”, lantaran sering mendapatkan suntikan dana segar dari beberapa Venture Capital ternama. Memanfaatkan postur “gemuk” dari segi modal Go-jek pun mulai percaya diri untuk mengembangkan Inovasi konsumen Go-Food, yang kemudian kedepannya dari layanan Go-Food yang berbasis Online akan beralih Offline.

Menurut Nadiem wacana tersebut dimaksudkan untuk menyentuh para penggiat UMKM, dan para driver yang begitu kesulitan mencari pendapatan. Sehingga Go-Jek akan membuat platform tersendiri untuk kalangan menengah keatas.

Seperti apa platform yang dimaksudkan?, sayangnya Nadiem masih enggan mengungkapkan apa yang diutarakannya. Namun yang harus menjadi titik perhatian adalah apa membuat para Venture Capital begitu tertatrik terhadap Go-Jek ketimbang startup Unicorn lokal lainnya.

Berdasar hasil riset Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, terkait jumlah pengguna internet Indonesia. Tercatat, ada 132 juta jiwa pengguna internet yang aktif di Indonesia. Begitu pun Badan Statistik Indonesia yang telah mengeluarkan jumlah sepeda motor nasional sudah mencapai 105 juta unit di tahun 2016.

Dengan alasan tersebut, hadirnya Go-Jek pun meningkatkan dirinya berstatus On-Demand, yakni aplikasi yang menjadi kebutuhan dasar untuk mobilitas masyarakat.

Alasan lain yang menyebabkan meningkatnya status Go-Jek menjadi On-Demand pun terlihat dari indeks Gini Ratio nasional, yang menggambarkan pendapatan masyarakat secara ekonomi.

Merujuk kembali pada Badan Pusat Statistik, ketimpangan pendapatan ekonomi nasional belakangan ini cenderung memburuk. Hal itu ditandai dengan indeks Gini yang mendekati 0,5 atau Gini Ratio pengeluaran pada 2015 sekitar 0,413 dan 2017 sedikit menurun menjadi  0,397. Sebaliknya, angka kemiskinan pada 2017 meningkat menjadi 27,77 juta orang dari 2016 yang mencapai 27,76 juta.

Untuk itu, sudah menjadi adagium umum jika masyarakat saat ini erat membutuhkan pemasukan tambahan untuk menghidupkan asap dapur mereka dengan menjadi driver. perihal ini pun sesuai dengan jumlah driver Gojek yang terus meningkat, seperti dilansir oleh Kompas, layanan yang dimiliki Go-Jek dipakai secara aktif oleh 15 juta orang setiap minggunya. Data weekly active user ini dilayani sekitar 900 ribu mitra pengemudi Go-Jek.

Sehingga tak aneh jika beberapa Venture Capital ternama seperti Google dan Temasek turut aktif menyumbangkan uangnya aplikasi besutan Nadiem Makariem tersebut. Diketahui angka dana yang dikeluarkan Google dan Tamsaek yang dimuat dalam Reuters, masing-masing diharapkan $1,2 miliar atau senilai dengan Rp15 triliun. Yang kemudian mengukuhkan Go-jek sebagai landmark bisnis menjajikan untuk dikembangkan.WES