Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com—Sifat konsumtif bahan bakar gas di sektor perindustrian, membuat energi nasional kian mencekik. Hal ini disebabkan prediksi kenaikan jumlah penggunaan bahan bakar gas di tahun 2018 naik dari 829.338 Million Metric British Thermal Unit (mmbtu) menjadi 867.071 mmbtu.

Kenaikan angka konsumsi bahan bakar gas ini tak lain disebabkan mulai masifnya pembangunan perindustrian di berbagai wilayah. Dari kenaikan tersebut dapat diperhitungkan setara, dari jumlah konsumsi energi nasional yakni 35 persen.

Sadar akan kendala yang tak ada habisnya, membuat pemerintah mulai menetapkan konsep industri hijau. Perihal ini didapatkan Teknopreneur dari Kementerian Perindustrian RI, dengan mendorong konsep tersebut setidaknya bisa menghemat biaya energi yang setara Rp2,8 triliun.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar, menerangkan. hadirnya konsep industri hijau dapat menimbulkan efek positif bagi perusahaan yang mengunakan bahan bakar tak terbarukan, dan dengan konsep ini dapat menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian lingkungan.

Haris melanjutkan, berdasarkan data perusahaan yang telah mengikuti program industri Hijau, tercatat dalam kurun waktu tiga tahun nyata telah terjadi penghematan energi dan penghematan air setara dengan Rp96 miliar per tahun.

Menurutnya, ini akibat dari keikutsertaan 34 industri di berbagai sektor. Seperti di sektor semen, pupuk, besi baja, keramik, pulp dan kertas, gula, serta tekstil. Dan berdasar fakta yang positif, konsep ini dikembangkan pada bidang lain selain di perindustrian.

Teknopreneur menelusuri, konsep Industri Hijau ini tercantum kuat pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 51/M-IND/PER/6/2015. Yang menjelaskan, Standar Industri Hijau merupakan acuan para pelaku industri dalam menyusun secara konsensus terkait dengan bahan baku, bahan penolong, energi, proses produksi, produk, manajemen pengusahaan, pengelolaan limbah dan/atau aspek lain yang bertujuan untuk mewujudkan industri hijau.

lain pihak seperti dilansirkan dalam situs resmi Kemenperin, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan, dalam konsep Industri Hijau menunjukan akan pentingnya mengutamakan efisiensi dalam proses produksi. Dengan karakteristik; penggunaan material, energi, dan air dengan intensitas yang rendah. Yang kemudian mendorong menggunakan energi alternatif, seperti melakukan minimalisasi dan pemenuhan baku lingkungan mutu lingkungan, dan menggunakan teknologi yang sudah rendah karbon, serta SDM yang berkompeten.

“Dengan penerapan industri hijau melalui penggunaan teknologi rendah karbon, tentunya akan memberikan dampak penghematan energi, air dan bahan baku. Selain itu juga akan meningkatkan produktivitas dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit,”Ucap Saleh, Kemenperin, Jumaat (30/12).WES