Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com—Kendala defisit energi fosil yang diprediksi untuk beberapa tahun kedepan akan habis ketersediaannya, pemerintah dengan skala kebijakannya mulai membuka keran regulasi untuk menjalin kerjasama oleh berbagi pihak swasta mau pun negara luar.

Hal ini dapat dibuktikan pada beberapa minggu lalu, Indonesia akrab menggandeng negara Perancis untuk bersama membangun infrastruktur Energi Baru Terbarukan (EBT). Seperti yang sudah dilansirkan pada pemberitaan Teknopreneur sebelumnya, negara dengan sebutan kota mode telah serius mengucurkan dana sebesar USD339,9 juta atau sekitar Rp4,53 triliun. Hal ini membuktikan bahwa dari beberapa negara besar di Eropa nampak sadar akan pentingnya energi terbarukan di masa mendatang.

Untuk itu, Indonesia yang kemudian akrab di sandang sebagai negara kaya akan sumber potensi energi terbarukan. Pemerintah dirasa tepat untuk menentukan kebijakan membangun infrastruktur EBT dengan menjalin oleh berbagai pihak, akibatnya bisa dipastikan masifnya pembangunan infrastruktur pembangkit akan tersebar di berbagai wilayah.

Berdasarkan penelusuran Teknopreneur, Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral (ESDM) menargetkan, untuk investasi di sektor EBT di tahun 2018. Naik menjadi Rp32 triliun atau 81,2 persen dari prediksi realisasi tahun ini yang berkisar Rp17,66 triliun. Dengan naiknya anggaran yang ditargetkan, pembangunan di sektor EBT bisa maksimal untuk meningkatkan ketersediaannya sumber energi.

Dikatakan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana. Data melonjaknya investasi di sektor EBT disebabkan oleh masifnya investor membangun Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di tahun 2018.

“Tahun depan tinggi mencapai Rp32 triliun karena mulai banyak pembangunan pembangkit,” ungkap Rida, Metro TV, Rabu (27/12).

Rida menambahkan, untuk di tahun depan investor asal timur tengah sudah tertarik dengan kondisi sumber daya alam energi Indonesia. Dengan membangun PLTS terapung, pihak yang tak disebutkan asal negaranya tersebut, menjamin kisaran harga energi yang ditawarkan akan kompetitif.

Sekedar untuk diketahui, kini PT PLN (Persero) telah melakukan penandatanganan Letter Of Intent (IoL) untuk tiga pembangunan pembangkit. Yakni PLTB tanah Laut 70 mega watt (MW) dengan kisaran nilai USD153 juta, dan PLTS Bali 1 di wilayah Kubu dan Jembrana yang masing-masing memiliki kapasitas 50 MW pun memiliki nilai investasi USD91,6 juta.

Berkaitan dengan masifnya pembangunan infrastruktur energi, Rida melanjutkan saat ini pembangunan PLTB Sidrap unit 2 pun tengah dikerjakan. Namun soal sejauh mana progres kemajuannya, Rida menyampaikan pembangunan PLTB Sidrap kini masih pembahasan dengan PLN terkait jadwal pengoperasiannya guna menyesuaikan kebutuhan di wilayah Sulawesi Selatan. WES/LIN