Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com—Krisis Sumber Daya Alam (SDA) Fosil yang saat ini sudah mencapai pada titik defisit, pemerintah mulai serius dengan menetapkan kebijakan peningkatan produksi bauran energi 23 persen di tahun 2025, hal ini dilakukan bahwa penetapan ini tepat untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan secara maksimal.

Walau masih harus dihadapi dengan kendala administratif, seperti masih tingginya bunga pinjaman yang diberikan Bank nasional. Keseriusan pengembangan energi pemerintah telah masuk pada tahap menjalin kerjasama “mutualisme”. Perihal ini belum lama dilaporkan oleh Finance Detik, bahwa kali ini Indonesia telah menggandeng negara Perancis dalam keseriusan mempertahankan ketahanan energi.

Dengan mengucurkan dana sebesar USD339,9 juta atau sekitar Rp4,53 triliun, sebutan kota mode nampak sangat sadar akan pentingnya ketahanan energi di masa mendatang. Dengan kerjasama ini pun, Indonesia diuntungkan dengan penambahan energi sebesar 170 mega watt (MW). Dari ketersediaan energi listrik nasional 1.186 MW menjadi 1.356 MW.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan menerangkan, walau sempat pesimis dengan kondisi sumber daya energi nasional yang ditargetkan mencapai 23 persen di tahun 2025, masih bisa dimungkinkan untuk produksi energi terbarukan bisa mencapai 20 persen dengan upaya pengembangan kerjasama bidang energi dengan beberapa negara.

Lain pihak Direktur Utama PLN, Sofyan Basir pada kesempatan yang berbeda menambahkan, saat ini memang kondisi ketersediaan energi terbarukan hanya berkisar 12,9 persen; dari total pembangkit PLN yang tersedia saat ini. Dengan demikian, pihaknya menekankan sangat yakin bahwa untuk target yang sudah ditetapkan pemerintah 23 persen di tahun 2025 masih tetap terpenuhi.

Konsumsi bahan bakar minyak menurun

Fakta positif datang dari konsumsi bahan bakar minyak nasional yang diyakini terus menurun, ini didasari dari porsi bauran energi primer di kuartal-III 2017. Untuk bahan bakar minyak (BBM) sudah mencapai dititik 6,06 persen, dari periode tahun sebelumnya 7,10 persen.

Laporan ini dilansirkan dari Bisinis Liputan6 di bulan penghujung tahun, bahwa penurunan persentasi konsumsi bahan bakar minyak nasional merupakan sikap aware masyarakat soal ketahanan bahan bakar minyak yang kian tahun makin berkurang. Nampak, ini momen yang pas guna menggencarkan paradigma baru soal energi terbarukan, bahwa sumber daya alam fosil tidaklah melimpah.

Perhitungan jumlah persentase penurunan bahan bakar minyak tersebut, sudah termasuk dalam penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN), Gas, dan Batu bara (Komoditi Fosil). Di laporan penutup tahun PLN, disampaikan untuk jumlah total produksi listrik nasional sudah mencapai 186.699 giga watt per hour (GWh). Dalam perhitungannya, total tersebut sudah termasuk jumlah produksi listrik yang menggunakan BBM sebagai bahan produksinya.

Tercatat, pada kuartal ke-III ini BBM yang sudah terkonversi sebanyak 2,54 juta kilo liter (kL) atau bisa dibilang besaran jumlah tersebut setara dengan prosduksi listrik sebesar 8.976 GWh. Tidak cukup pada fakta penurunan konsumsi BBM, peningkatan porsi EBT nasional diketahui sudah cukup meningkat signifikan. Energi Hydro atau air, panas bumi, dan EBT lainnya tercatat telah menyumbangkan sebanyak 12,51 persen, meningkat dari target dalam APBN-P 2017 sebesar 11,96 persen. WES/LIN