Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com—Berdasarkan pernyataan Presiden Joko Widodo di akhir semester pertama, bahwa untuk Indonesia di bidang energi pola konsumtif harus digeser menjadi produktif. Dengan begitu menurutnya, RAPBN di tahun 2018 sudah mampu menjadi pondasi fiskal untuk pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut dirasa tepat lantaran diprediksikan untuk beberapa tahun kedepan, sumber daya fosil kian tahun makin defisit. Teknopreneur menelusuri, walau mengalami penurunan untuk jumlah konsumsi bahan bakar minyak di periode sembilan bulan 2017, tercatat hanya 35 persen dan itu khusus di luar Jawa, Madura, dan Bali. Tidak dijelaskan secara rinci berapa total jumlah persentase dari tahun ke tahun, untuk itu upaya pergeseran paradigma baru di bidang ketahanan energi masih sangat dibutuhkan.

Maka guna melakukan tata kelola yang tepat, hasil laporan Forum Discussion Group (FGD) Institut Teknologi  Bandung. Yang berjudul Terobosan Untuk Kemandirian Energi memaparkan, paling tidak langkah yang tepat untuk menyikapi ketahanan energi bahan bakar minyak yang makin defisit ialah dengan mengubah paradigma dan persepsi selama ini mengkonstruksikan pikiran mayoritas, bahwa Sumber Daya Alam (SDA) fosil nasional sangatlah melimpah menjadi terbatas.

Kemudian dilanjutkan dengan mengubah paradigma menguras SDA dengan melakukan “open” terhadap investasi asing pada sisi hulu, diubah dengan paradigma pengelolaan SDA lestari. Sehingga memiliki nilai tambah optimal untuk mengedepankan kedaulatan SDA nasional diiringi dengan pembuatan regulasi yang sesuai.

Laporan tersebut lebih jauh merincikan, memanfaatkan secara maksimal energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Atau bisa dikatakan Zero Carbon ialah langkah yang tepat, solusinya penggunaan nuklir energi alternatif menjanjikan, dengan catatan penggunaannya harus sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Beberapa rekomendasi pun didapatkan, salah satunya ialah melakukan promosi dan pembukaan pasar untuk komoditi energi terbarukan, guna menggantikan energi fosil di masa mendatang. Bentuknya, dengan harga yang terjangkau, mudah diakses, dan suplai yang cukup serta berkelanjutan. Nilai tambah yang diharapkan bisa mendongkrak energi terbarukan di market nasional maupun internasional, dan simpulan ditekankan adalah soal energi genting untuk disikapi secara serius oleh stakeholder terkait, lantaran energi adalah menyangkut kehidupan masyarakat. WES/LIN