Ilustrasi Inovasi
Ilustrasi Inovasi

Teknopreneur.com—Dalam menyikapi krisis migas saat ini, pemerintah mengakui bahwa dalam upaya pengembangan energi terbarukan masih dihadapkan beberapa kendala. Hal ini dapat dibuktikan dengan sumbangsih sumber daya energi terbarukan sangatlah rendah.

Tepat dibeberapa pekan lalu dipenghujung tahun ini, wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar melalui siaran pers yang disebar dibeberapa jaring media menerangkan. Untuk pengembangan sumber daya energi terbarukan, perbankan selaku pihak peminjam masih memberikan tingkat bunga yang tinggi.

Menurutnya, bunga yang ditetapkan lebih dari 10 persen dari bank nasional, berbeda dengan penetapan bunga bank luar yang hanya 5 persen. Walaupun harus diikuti dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi, seperti pengusaha yang bergerak di bidang energi dalam penggunaan infrastruktur teknologi diharuskan menggunakan teknologi dari negeri si peminjam.

Kendala lain pun diungkapkan, diseputar izin dan pembebasan lahan. Alasannya, dari penerapan teknologi dan infrastruktur energi terbarukan memerlukan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan jumlah energi yang maksimal, seperti teknologi pembangkit listrik tenaga angin dan panel surya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun turut menyikapi serius persoalan kendala pengembangan EBT untuk menghilangkan ketergantungan migas saat ini, dimuat dalam lansiran Republika Agustus lalu JK menerangkan. Sebenarnya minat investor untuk EBT nasional cukup banyak, sehingga perlu dibenahi kembali aturan investasi energi harus ditinjau kembali, guna tidak mempersulit para investor.

Hal ini dikarenakan potensi sumber daya EBT nasional masih sangat melimpah, untuk itu JK menghimbau untuk pelayanan dan prosedur investasi caranya harus lebih simple agar dengan mudah para investor masuk ke Indonesia.

“Begitu banyak sebenarnya yang hadir disini (Indonesia Red.) untuk investasi di renewable energy” terang JK, seperti yang di kutip dari Republika (2/8).

JK menambahkan, kedepannya ia berharap di bauran energi terbarukan pemerintah dapat mengupayakan hadirnya sumber daya energi efisien untuk masyarakat. Walau Jk sempat mengeluhkan biaya yang cukup besar untuk pengembangan EBT, namun baginya harga kesehatan dan menjaga lingkungan pun tak ternilai juga harganya. WES/LIN