Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com — Migas nasional saat ini ketersediaanya makin menurun, nampak menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Pasalnya, angka produksi migas nasional tidak seimbang dengan jumlah angka produksi.

Persoalan ini ditegaskan dalam Forum Discusion Group Institut Teknologi Bandung (ITB), yang berjudul Terobosan Untuk Kemandirian Energi. Bahwa untuk kebutuhan bahan bakar cair meningkat dari 1,4 juta barel/hari. Yang kemudian di tahun 2030 diprediksikan menjadi 3,3 juta barel/hari. Ini sangat kritis mengingat dengan jumlah produksi domestik yang selalu menukik. Dalam laporan FGD dijelaskan, untuk intensistas produksi migas nasional nyatanya hanya berkisar 240 ribu barel/hari.

Untuk itu Pemerintah melalui langkah Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dinilai cara tepat untuk mengatasi ketergantungan migas di masyarakat. Dilaporkan dalam Katadata, untuk potensi EBT nasional seperti energi panas bumi yang kekayaannya tercatat sudah hampir menyaingi Amerika. Memiliki potensi 29,5 Mega Watt (MW) energi listrik, Indonesia seharusnya sudah bisa dikatakan negara maju lantaran memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah.

Hal pengukuran untuk dikatakan sebuah negara maju, dalam laporan FGD ITB menyebutkan, Suatu negara dikatakan maju jika angka konsumsi berkisar 4000 kWh/kapita/tahun. Namun, untuk energi listrik nasional saat ini hanya tersediakan 900 kWh/kapita/tahun.

Ketimpangan energi nasional memang sangat nampak di generasi milenial, Indonesia yang memiliki potensi EBT geothermal melimpah masih sangat sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Lantaran, untuk infrastruktur yang terpasang masih sangat rendah. Melanjutkan laporan Katadata, dari potensi 29,5 MW hasil final energi yang didapat hanya 1,4 MW dari kapasitas infrastruktur yang terpasang.

Lebih jauh, untuk pemetaan energi geothermal sebenarnya lebih banyak tersedia di Pulau jawa. Dengan ketersediaan sebesar 1,2 MW, seharusnya untuk ketahanan energi terbarukan nasional sudah tidak perlu dipersoalkan lantaran ketersediaanya yang masih sedikit ketimbang jumlah demand di masyarakat.

Wujud realisasi ketahanan energi yang masih jauh tertinggal dari beberapa negara Asia Tenggara, Indonesia masih harus mencontoh negara Filipina. Untuk negaranya, dengan ketersediaannya energi jauh dua kali lipat dari ketersediaanya energi geothermal Indonesia. Mampu meningkatkan 78 persen hasil final energi terpasang, sangat jauh dengan Indonesia yang baru mencapai 4,8 persen di tahun 2016. WES/LIN