Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Rencana kenaikan anggaran riset yang diajukan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), sebesar 2 persen dari pendapatan PDB. Nampak harus diimbangi dengan jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan. Hal ini dikarenakan, Indeks inovasi penelitian masih jauh dari yang diharapkan.

Langkah positif yang diajukan Kemenristekdikti, tidaklah sia-sia. Namun dalam produksi output-nya, dari sebuah penelitian atau inovasi yang telah diciptakan perlu dokumentasi penulisan, sebagai bukti ontentik sebuah karya.

Perihal ini, situs indeks jurnal internasional Scimagojr memaparkan data yang cukup detail. Situs itu menampilkan, bahwa indonesia untuk jumlah total publikasi jurnal ilmiah masih sangat sedikit dan begitu jauh jaraknya dengan negara tetangga Thailand dan Malaysia.

Tercatat pada tahun 2017, Indonesia hanya bisa mempublikasikan 54.146 jurnal ilmiah. Dampaknya, Indonesia harus puas diperingkat 11, ketimbang Tahiland dan Malaysia yang sudah berada di urutan ke-8 dan Ke-9. Dengan masing-masing jumlah jurnal yang dipublikasikan sebesar 139.682 dan 214.883.

Dengan ini Indonesia pun harus terima dibawah negara Pakistan, yang poisisinya bertengger di atas negara Indonesia dengan urutan ke-10 dalam jumlah jurnal ilmiah yang dipublikasikan. Artinya, berdasarkan data tersebut Indonesia masih perlu evaluasi cepat soal kebijakan langkah untuk meningkatkan produksi jurnal ilmiah di kalangan akademisi.

Dalam laporan Antara, Reviewer Hibah Penelitian Kemenristedik Dikti, Didik Sulistyanto menerangkan. dirinya mengakui, saat ini untuk para kalangan akademisi seperti kemampuan dosen dalam membuat jurnal masih sangat kurang. Padahal, untuk produski ilmiah jurnal berbahas inggris sangat berguna untuk mendapakan apresiasi dari negara luar.

Untuk itu, disini menurutnya penting bagi Universitas untuk melakukan pendampingan intens terhadap civitasnya, terutama dalam hal produksi karya ilmiah.

Sementara Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, menambahkan. jumlah karya ilmiah dalam skala internasional masih sangat minim, ia menyebutkan untuk tahun 2015 Indonesia hanya bisa menerbitkan jurnal ilmiah sebanyak 5.421.

Namun bagi Dimyati untuk persoalan ini, Indonesia sebenarnya mengalami trennya terus mengalami kenaikan. ia merincikan, untuk tahun 2009 Indonesia berhasil memplubikasikan 1.950. Dan di tahun 2010 sebanyak 2.586, 2011 terbit 3.187.

Pada 2012, peningkatan terjadi lagi dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 3.752 jurnal. Dan yang terakhir di tahun 2013 Indonesia menghasilkan 4.881 jurnal.

Menyikapi jurnal Indonesia yang masih kalah jauh dengan negara tetangga, Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa, menilai. Persoalan ini tidak lain karena para peneliti Indonesia masih belum bisa dihargai di negeri sendiri, nyatanya itu bisa dibuktikan dari kecilnya anggaran belanja negara terkait riset nasional.

Khofifah mengatakan, perlunya Indonesia mencontoh negara sebelah. Lantaran, untuk bentuk apresiasi karya penelitian ia melibatkan pihak swasta, seperti Malaysia yang telah berhasil menerapkan cara tersebut. WES/LIN