Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com—Indonesia yang sejak dulu kaya akan potensi sumber daya alamnya, nampak sangat cocok untuk perkembangan inovasi kreatif yang mengusung kearifan lokal. Ini bisa dibuktikan, dengan produk yang berbahan baku Batok Kelapa bisa diolah menjadi perlengakapan unik dan menarik.

Siapa sangka, bahwa bahan baku batok kelapa yang biasanya lumrah disebut sebagai limbah perkebunan. Kini bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dengan sedikit keuletan dan daya kreatifitas bahan yang semula hanya sampah biasa bisa disulap dengan beragam aneka perlengkapan menarik.

Inovator yang menjalankan bisnis ini ialah Yanti, Ibu rumah tangga asal Kabupaten bantul, Yogyakarta. Menjadi contoh, bahwa inovasi kreatif Indonesia masih sangat eksis dan berkembang, Yanti dalam menjalankan usahanya telah menghasilkan banyak produk yang berbahan batok kelapa. Seperti, tas, ikat pinggang, hiasan dinding, kancing, frame, plismet, cangkir, mangkuk, bahkan sampai miniatur.

Produk yang menjadi media darling di kalangan penggiat media, membuat nama dan inovasi produk Yanti ini dapat dikenal di kancah internasional untuk penjulan ekspor.

Dijelaskan oleh Yanti, alasan mengapa ia sempat memikirkan untuk mengolah limbah batok kelapa. Tidak lain, bentuk sadar dari kebersihan lingkungan, lantaran untuk batok kelapa tersebut ketersediaanya sangat banyak disekitar rumah.

Ia menambahkan, untuk daya penjualannya Yanti telah sukses merambah pasar benua Amerika. Hal ini dikarenakan, ia telah melakukan kerjasama dengan dengan distributor barang kesenian asal Bali, yang rajin datang menarik produk Yanti untuk dipasarkan.

Tidak hanya pasar mancanegara, Yanti pun telah sukses meraih pasar lokal seperti daerah Jawa Tengah sampai Bayuwangi. Ia mengaku, untuk kisaran harga yang ditawarkan, barang aksesoris atau cinderamata dihargai Rp2.500 – Rp300.000. Dan untuk, miniatur Yanti membandrol dengan harga Rp400.000-Rp500.000.

Untuk inovasi kreatif yang ia kembangkan ini, diceritakan bahwa ia memulai sejak tahun 2002 dengan kisaran modal Rp1 Juta. Namun itu tak membuatnya patah arang, meski masih terbilang usaha kecil dengan jumlah karyawan sebanyak 10 orang.

Hasilnya, kini ia berhasil menuai hasil yang cukup menjanjikan hanya dengan mengandalkan daya kreatifitas dan keterampilan. Dengan capaian omset sebesar Rp20 juta dalam waktu sebulan, dengan rincian harga bahan baku batok saat ini Rp25.000 per karung.

“Sebulan sekali beli satu truk isi 50 karung,” tutupnya.WES