Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Tidak sedikit yang berpikiran  di kalangan masyarakat, bahwa perkembangan dalam dunia inovasi, Indonesia masih kalah dari negara luar. Padahal banyak, dari beberapa orang Indonesia yang berhasil menorehkan penemuan inovasinya. Namun, tidak dihargai oleh negara. Sehingga banyak dari inovator justru “lari” ke negara tetangga untuk mengekspresikan inovasi yang sudah dikembangkannya tersebut.

Teknopreneur berhasil menelusuri, beberapa tokoh inovator yang tidak dilirik sama sekali ialah Warsito P Toruno, penemu berbakat yang telah membuat alat pembunuh sel kanker Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT). Pria asal Karanganyar tersebut, berhasil memadukan teknologi energi berbasis rendah dengan pengobatan terapi kanker.

Hasilnya, berdasar uji lab in Vitri. Alat ciptaanya mampu mengurangi jumlah sel kanker yang aktif di tubuh penderita. Namun sangat disayangkan, hasil jerih payah Warsito dipandang sebelah mata oleh Kementerian Kesehatan. Lantaran, Warsito telah dianggap menyalahi aturan tahap yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan badan penelitian Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Sehingga, negara tetanga jauh seperti Jepang. Justru paling aktif membeli hasil inovasi Waskito untuk digunakan. Yang seharusnya Indonesia lebih dulu untuk mengembangkan dan melindungi hasil inovasi Waskito untuk kemanfaatan di masa mendatang.

Terkait dengan hal tersebut, sudah sejauh mana upaya pemerintah dalam melindungi dan mengembangkan Hak Atas Kekayaan Intelektualnya. Menyinggung hal itu, di dalam laporan Binsis.com pemerintah yang membuat Rancangan Undang-Undang hak Paten No 41 tahun 2001. Mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual, pemerintah masih terkesan lambat. Dikarenakan, Dewan Perwakilan Rakyat pada hari Juli lalu (28/7). Baru mengesahkan, RUU yang telah dibuat pada beberapa bulan sebelumnya di rapat paripurna DPR.

Direktur Jendral Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Dan HAM, Ahmad M. Ramli menjelaskan, bahwa untuk RUU yang telah disahkan oleh beberapa pihak yang terkait. RUU ini, akan diteruskan kepada Presiden Joko Widodo untuk ditanda tangani guna menerbitkan perundang-undangan baru.

Menurutnya dari RUU yang telah disahkan tersebut, ada beberapa catatan menarik yang membuatnya angkat bicara mengenai persoalan inovasi. Pertama, dari UU paten telah mengakomodasi hal-hal yang sebelumnya tidak tercantum pada UU yang lama.

Ramli mencontohkan, untuk pemeriksa paten kali ini boleh direkrut dari luar Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Yang dimungkinkan seperti sebuah lembaga pendidikan Universitas dan lembaga riset turut diperhitungkan, hal ini tentunya akan berdampak pada percepatan proses pendaftaran paten oleh para penemu.

Kedua, UU yang baru ini benar-benar menguntungkan inventor (profesi menemukan suatu yang baru) di kalangan mahasiswa dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Artinya, bagi para pemegang paten dari produk yang sudah didaftarkan. Dapat langsung disebut sebagai sang pembuat produk, yang sudah dikembangkan dan akan mendapatkan royalti jika produk yang sudah dikembangkan oleh inventor digunakan oleh pemerintah.

“Tak tanggung-tanggung royalti, bisa langsung didapatkan dari pemegang paten sebesar 40 persen dari nilai kapitalisasi” ucap Ramli, terhadap rekan media.

Ketiga, dari perundang-undangan yang baru ditetapkan nantinya akan lebih mengutamakan pada kepentingan nasional. Pasalnya, minimnya genetik lokal seperti inovasi produk jamu. Untuk jamu sejatinya sudah akrab di mata masyarakat namun, pengembangannya dari pemerintah masih terbilang cukup sulit dan hampir tidak ada.

Terakhir, menurutnya dari UU yang baru kedepannya akan sangat memberikan nilai positif bagi konsultasi Kekayaan Intelektual. Alasannya, nantinya jika ada inovasi luar yang akan masuk ke Indonesia, tahapannya mereka akan harus meregistrasi, kosultasi, dan maintenanceWES/LIN