Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com—Besarnya potensi penemu Indonesia untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat, pemerintah dirasa perlu untuk peka terhadap perkembangan dunia inovasi lokal yang seharusnya bisa bersaing dengan negara maju lainnya.

Banyaknya inovator lokal yang memiliki produk inovasi yang perlu dilindungi Hak Atas Kekayaan Intelektualitasnya (HAKI). Sehingga produk ekspresi inovasi mereka dapat dihargai dan dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah.

Untuk itu Teknopreneur berhasil menelusuri, 10 inovator lokal terbaik. Berdasarkan beberapa laporan media, 10 orang inovator terbaik tersebut didapat dari National Inovation Competition (NIC) pada tahun 2016. Yakni, NIC merupakan kompetisi inovasi lokal yang digelar oleh Tanggerang Global Innovation Forum (TGIF), dari kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung program pembangunan berkelanjutan dan sustainable.

Hasilnya, 10 orang inovator tersebut yang pertama ialah, Warsito P Toruno. Seorang penemu teknologi yang mampu menekan jumlah sel kanker aktif pada tubuh penderita, namun buah hasil karyanya Indonesia masih belum mengakui keberadaan inovasi Warsito. Lantaran, pemerintah menganggap apa yang telah dibuatnya telah menyalahi tahap prosedur untuk penyembuhan penyakit kanker.

Kedua, Suyitno seorang dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret. Ia telah berhasil mengangkat dirinya sebagai jajaran 10 inovator terbaik di Indonesia. Dengan karyanya yang bernama, zat warna alam nahecho (z-wan) yang dinilai baik untuk digunakan masyarakat.

Ketiga, Suharsono yakni seorang guru besar genetika tumbuhan dari Universitas Institut Pertanian Bogor. Untuk karyanya Suharsono berhasil menciptakan jenis ubi baru yang bernama, kentang jala Ipam untuk industri kentang French Fries beku pertama di Indonesia. Produk yang dibuatnya, adalah jenis kentang variasi baru yang memiliki bentuk bulat dan berukuran besar, sehingga memudahkan untuk dijadikan bahan makanan. Tidak hanya itu, jenis kentang buatannya pun mampu tahan penyakit dan mampu beradaptasi cepat dengan iklim indonesia yang sering cepat berubah.

Keempat, Rdyum Ikono seorang anak muda yang telah menorehkan banyak prestasi. Pria asal jakarta yang sempat selama 5 tahun di Jepang, maka tak heran jika Ikono pun berhasil mencatatkan namanya di 10 inovator lokal terbaik. Karyanya, yang bernama pigmen besi oksida hasil daur ulang limbah baja, berhasil masuk dalam kategori NIC nasional

Kelima, Sergio Loncle, walau ialah seorang inovator yang masih belum diketahui latar belakangnya. Namun, beberapa media besar mencatat bahwa hasil inovasinya yang mengacu pada program Ibu Inspirasi. Yakni, karya yang menjadikan wanita di daerah terpencil sebagai agen teknologi yang ramah.

Keenam, ialah Henry Nasution. Pria asal medan yang berprofesi sebagai dosen Teknik Mesin di Universitas Teknologi Malaysia, telah berhasil menciptakan suatu alat yang bernama Building Automation Technology Air Conditioning System (BATAC). Ia pun dikenal sebagai penemu, yang memilki konsen penghematan energi listrik. Alasannya, pemborosan energi yang marak dilakukan banyak perusahaan besar sudah terbilang kritis.

Ketujuh, Erliza Hambali seorang wanita yang aktif di bidang kajian Surfaktan dan Bioteknologi. Dalam perjalanan karirnya ia berhasil membuat inovasi Surfaktan Anionik dan minyak sawit untuk Chemical Flooding pada teknik Enhanced Oil Recovery. Inovasi ini berguna untuk peningkatan produksi minyak bumi nasional yang kian tahun jumlah ketersediaannya makin defisit.

Kedelapan, Clara M Kusharto lagi-lagi seorang wanita yang aktif di bidang kehutanan Universitas Pertanian Bogor. Sadar akan persoalan di bidang pangan, Clara berhasil membuat sebuah inovasi pangan alternatif yang tinggi akan protein. Dan Emergency Food, guna mengurangi Prevalensi Balita Kurang Gizi.

Selanjutnya, ialah Tualar Simarmata seorang Guru Besar Fakultas Pertanian di Universitas Padjajaran. Berhasil membuat sebuah inovasi intensifikasi Padi Aerob Terkendali (IPATBO) Sebagai alat Hemat Air dan Input Berbasis Bioamelioran untuk pemulihan. Hasilnya, dengan hadirnya teknologi ini di nilai dapat membuat kesuburan tanah. Dan meningkatkan produktivitas padi secara berlanjut dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

Dan untuk yang terakhir ialah, Maruf Kasim seorang kepala pusat penelitian unggulan rumput laut. Karyanya yang bernama RaJA (Rakit Jaring Apung) dan JaKA (Jaring Kantung Apung), juga diprediksi akan memajukan masa depan teknologi budidaya rumput laut Indonesia. WES/LIN