Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Pakar Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya menjelaskan, bahwa Indonesia untuk perkembangan Inovasi sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Namun saat ini, kendalanya level pendidikan Indonesia masih sangat rendah.

Perihal ini ditanggapi serius, lantaran peringkat indeks Indonesia dari tahun 2013 sampai 2017 terus mengalami penurunan. Kisaran angka indeks yang diterbitkan Business Innovation Center (BIC) Indonesia masih memperoleh 0,603. kalah telak dengan Malaysia dan Thailand yang sudah di jauh meninggalkan Indonesia.

Sadar masih rendahnya Indonesia di bidang pendidikan, Gatra melansirkan, bahwa Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pihaknya, menerima positif untuk kerjasama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dengan kerjasama ini RRT nantinya, akan memberikan besasiswa kepada 14.000 mahasiswa Inonesia. Dan kemudian akan dikirimkan untuk melakukan proses studi di Tiongkok.

Menurutnya, dengan ada kesempatan ini bisa diharapkan nanti mahasiswa setelah selesai menjalani proses studi, akan menciptakan iklim pendidikan positif, untuk dinamika pendidikan nasional.

Artinya, pemerintah telah mengambil langkah positif. Mengingat indeks yang diterbitkan BIC untuk Indonesia masih perlu ditingkatkan, namun hal yang perlu dibenahi terlebih dahulu ialah iklim pendidikan nasional. Untuk itu, Professor Andrew Rosser dari Universitas Melbourne, dalam lansiran Detik menerangkan bagaimana iklim pendidikan Indonesia.

Bahwa untuk Indonesia sebagai negara berkembang, untuk pendidikan masih sering digunakan untuk kepentingan lain. Akibatnya untuk peningkatan membaca, menulis dan matematika justru tidak sama sekali diperhatikan.

Menurutnya, tidak sedikit negara berkembang seperti Indonesia. Yang sudah berhasil memberikan kesempatan bagi warga miskin untuk menikmati jenjang pendidikan yang layak. Namun diiringi dengan jumlah anggaran yang besar, Andrew mengatakan, Indonesia tidak memiliki dampak positif untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Perkara ini pun bisa jelas dilihat dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh mahasiswa, seperti tidak hadir tepat waktu saat jam kuliah, membuang-buang waktu dengan celotehan diluar mata kuliah, mengubah jadwal kuliah seenaknya, memberi materi seenaknya (sesedikit mungkin), adalah hal yang lumrah untuk iklim pendidikan dari segi objek.

Lain halnya dari segi subjek, dikatakan Andrew permasalahan utama ialah ada di pemerintah. Biasanya pandangan pihak-pihak terkait di dalam pemerintahan, dalam membuat kebijakan. Mengarahkan orientasi pendidikan hanya di seputar politis. Kemudian yang terjadi bukanlah reformasi pendidikan yang menyeluruh, namun yang ada hanyalah memiliki, dan membelanjakan anggaran pendidikan yang besar. WES/LIN