ilustrasi peneliti
ilustrasi peneliti

Teknopreneur.com – Indonesia memiliki peringkat yang sangat rendah terkait inovasi secara global. Berdasarkan pengamatan teknopreneur.com, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya peringkat tersebut. Faktor industri, dukungan pemerintah dan iklim pendidikan menjadi penentu dalam pertumbuhan inovasi. Di Indonesia berbagai kendala terkait faktor-faktor tersebut, dan ada pula faktor teknis yang ternyata setelah ditelusuri mempengaruhi rendahnya inovasi di Indonesia.

Seperti yang dilansir vice.com, ternyata ada kendala yang paling terasa adalah bahwa inovasi di Indonesia belum terdaftar patennya, dan beberapa kendala teknis seperti informasi pendaftaran paten dan ketidaktahuan peneliti bahwa inovasinya harus di patenkan. Hal ini disampaikan oleh Nurul Taufiqu Rohman, Kepala Pusat Inovasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia sendiri sangat produktif dalam berinovasi. Setidaknya Nurul memiliki 20 paten yang setengahnya telah di komersilkan.

Nurul memaparkan, tantangan terbesar dalam penemuan teknologi dan paten di Indonesia adalah masih banyak para ilmuwan yang memiliki karya intelektual belum memahami konsep dari paten. Peneliti menganggap paten itu adalah hal yang sulit, banyak dari peneliti memahaminya bahwa yang bisa di patenkan hanya sesuatu yang jauh dari pemikiran, yang sekiranya kalau di Indonesia tak mungkin di patenkan. Banyak peneliti tidak terlalu paham bahwa yang di [patenkan itu ada hal yang sederhana untuk menemukan langkah-langkah intensif, langkah-langkah baru, yang sedikit saja memperbaiki paten yang lama bisa jadi paten tersendiri.

Ia melanjutkan, pengurusan paten mudah, persoalannya banyak ilmuwan yang tidak tahu bahwa mengurus paten mudah dan tidak tahu bahwa penelitian yang dilakukan bisa di paten. Tidak mengetahui regulasi dan secara teknis banyak ilmuwan yang tidak mengerti. Di LIPI, untuk lembaga litbang dan UMKM gratis, hanya pendaftaran saja. Gratis dalam jangka waktu lima tahun untuk klaimnya, untuk pendaftaran Rp500 ribu. Perlu waktu tiga tahun setelah pendaftaran, apabila ingin dipercepat menjadi 6 bulan bisa bayar Rp2 juta, untuk pemeriksaan Rp2juta. Dengan biaya Rp4,5 juta sudah dapat paten dengan percepatan setahun setengah, sedangkan kalau tanpa dipercepat hanya Rp2,5 juta.

Ketidaktahuan mekanisme paten berdampak besar kepada pertumbuhan inovasi. Hal ini merupakan tantangan yang besar, meskipun aturannya sangat mudah. Di sinyalir pengambil kebijakan di Indonesia juga belum memahami hal ini. Indonesia memiliki ribuan universitas dengan mengeluarkan tiga sampai lima paten saja bisa mendapat 2.000 paten, di dukung dengan litbang di institusi masing-masing bisa lebih. Potensinya sangat luar biasa apabila bisa di dorong pertumbuhan inovasi, sebab setiap penelitian berujung pada paten.

Nurul mengatakan, kalau paten di Indonesia mayoritas di bidang manufaktur, permesinan, menemukan metode baru dan alat baru. Sementara itu bidangnya luas, seperti mekanik, kimia dan lifestyle.

Ia menuturkan, terkadang lembaga litbang karena minim pengetahuan dan minim pengalaman jadi kesulitan. Kalau di mancanegara, selain lembaga litbang juga ada lembaga swasta intermediasi yang bergerak untuk non profit atau yang bergerak untuk mengalihteknologikan juga komersialisasi paten dari litbang. Di luar negeri lembaga tersebut sangat besar pengaruhnya karena punya keleluasaan mengelola hasil paten menuju industri. Sementara litbang di Indonesia punya keterbatasan sehingga alih teknologinya masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Tidak semua paten bisa di komersialkan, harus diidentifikasi lebih dalam paten di Indonesia, bukan karena sulit di komersialkan. Identifikasi peluang dan mencari mitra yang cocok, teknologi yang sesuai di Indonesia. Indonesia memiliki peluang yang besar, sebab belum banyak orang mematenkan temuannya, bersamaan dengan itu potensi sumber daya alam dan potensi teknologi penerapan merupakan hal yang mudah.

Membuat Paten di Negara Lain.

Nurul mengatakan pengalamannya mematenkan produk di Jepang. Ia mengurai pengalamannya bahwa saat itu tidak sempat bayar klaimnya, biaya yang harus di keluarkan sebesar Rp50 juta pada tahun 2000. Ia menyerahkannya ke Prefektur Kagoshima dan tidak mengetahui sudah sampai sejauh mana produksinya, ia juga menyebutkan bahwa di Jepang banyak produk yang menggunakan teknologi Indonesia.

Ia mengungkapkan, hasil penemuannya saat itu adalah pengolahan limbah timbal dari logam tembaga. Di luar negeri timbal dilarang, limbah logam selalu ada timbalnya dan harus dikeluarkan. Dengan teknologi pemurnian logam tembaga atau paduan tembaga, ia mengeluarkan timbal yang ada. Teknologi tersebut kemudian di patenkan pada tahun 2003 yang kemudian haknya diserahkan ke Prefektur Kagoshima.

Nurul mengatakan, saat itu Indonesia belum memiliki mekanisme yang memadai, di LIPI juga Indonesia secara keseluruhan. Di Jepang untuk membayar seorang peneliti sebesar Rp50 juta tanpa ada kejelasan modal kembali. Untuk pendaftarannya sekitar Rp400 – Rp500 juta dan mendapatkan hak royalty 25 persen.

Ia melanjutkan, untuk membuat paten sebenarnya di luar negeri ataupun di Indonesia sama saja. Tetapi di luar negeri kebanyakan menggunakan pengacara, apabila daftar sendiri sebenarnya mudah, ada training tersendiri cara menulis paten, untuk klaim dan lain-lain, tetapi prosesnya panjang. Saat itu belum tahu kalau membuat paten sama saja apabila di Jepang atau di Indonesia, sangat disayangkan status penemuan tersebut menjadi milik Jepang dan ia hanya tercatat sebagai penemunya saja. LIN