Ilustrasi Inovasi
Ilustrasi Inovasi

Teknopreneur.com—Hasil penelitian Indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga dekat Malaysia dan Singapura, hal ini dikarenakan pemerintah masih setengah niat dalam mengembangkan daya inovasi lokal.

Dalam laporan Tempo, hal ini dikatakan langsung oleh Staf Ahli Bidang Akademik Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, Paulina Pannen 2016 lalu. Menurutnya, ini dikarenakan jumlah peneliti Indonesia yang masih minim ketimbang Malaysia. Berdasarkan data Pannen yang ditampilkan, untuk Indonesia terhitung 1.701 peneliti per satu juta penduduk, lebih kecil ketimbang Malaysia dan Singapura yang sudah mencapai 2.590 dan 7.000 per satu juta penduduk untuk tahun 2016.

Faktor lain pun, Pannen mengutarakan bahwa angka lulusan perguruan tinggi berdasar Badan Pusat Statistik (BPS) 2015. Sudah menganggur sebanyak 374.868 orang.

Tidak hanya Pannen, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Muhamad Dimyati menegaskan, untuk perkembangan inovasi Indonesia, masih sangat jauh dari yang diharapkan. Ia mengungkapkan, bahwa dari masalah semua ini dikarenakan masih kurangnya anggaran pemerintah untuk perkembangan riset nasional, bahkan anggarannya kurang dari 1 persen per Produk Domestik Bruto Nasional (PDB).

Menyikapi perihal itu, Teknopreneur pun berhasil menelusuri perkembangan Indeks inovasi nasional. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, untuk perbandingan Indeks inovasi negara ASEAN di tahun 2017 menempati posisi ke-87, persis sama di tahun 2014 Indonesia juga menempati urutan yang sama. Kemudian, disusul dengan Malaysia di peringkat ke-37 dan Singapura di posisi ke-7.

Posisi Indonesia cenderung tidak sama sekali mengalami perubahan, seorang pakar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya. Menyimpulkan, bahwa 3 penyebab ranking Indonesia rendah di Global Innovation Index.

Penyebab pertama, bahwa pemerintah Indonesia dari segi regulasi nampak belum sepenuhnya mendukung. Kedua, Matawardaya menjelaskan bahwa tingkat pendidikan Indonesia masih rendah.

Persoalan itu, didasari oleh lembaga riset Education Development Index Indonesia memperoleh skor 0,603 masih amat jauh untuk mengejar Singapura yang memperoleh skor 0,768 dan Malaysia 0,671.

Dan yang terakhir ialah, anggaran pemerintah yang masih minim untuk perkembangan penelitian nasional. Hal itu bisa dibuktikan dengan jumlah anggaran yang masih kurang dari 1 persen dari pendapatan PDB nasional, hal ini pun diperkuat dengan persepsi pemerintah yang masih menganggap bahwa penelitian masih dilihat sebagai “belanja”. Bukan sebaliknya, yang harusnya penelitian dianggap investasi.

Eksistensi Inovasi Mahasiswa Lokal Menurun Di kancah Asia

Walau Indonesia masih harus dibawah Singapura dan Malaysia,  beberapa kampus lokal seperti Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Ternyata telah berhasil mencatat prestasi 100 Business Innovation Center (BIC) tahun 2016.

BIC mencatat, untuk kampus UI di tahun 2015 telah mengirimkan proposal 47 inovasi menarik kepada BIC. Namun dalam perkembangannya di tahun 2016, UI cenderung menurun, dengan hanya mengirimkan 21 proposal inovasi.

Berdasarkan data BIC, UI paling banyak menyumbangkan inovasi dibidang teknologi informasi dan komunikasi. Berbeda dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang nampak setia dengan basic keilmuan di bidang ketahanan pangan.

BIC menampilkan, proses perkembangannya IPB masih tidak jauh berbeda dengan UI. Di tahun 2016 saja IPB hanya bisa mengajukan 32 inovasi. Sangat jauh berbeda di tahun 2015, IPB berhasil mengajukan 45 inovasi yang diterima BIC.

Artinya, langkah Indonesia untuk menjadi negara maju dibidang inovasi dan penelitian. masih harus di evaluasi kembali, peran serta pemerintah adalah hal utama. Dikarenakan kompleksnya kendala di berbagai sektor terkait. WES/LIN