Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Tingginya alokasi dana yang dikeluarkan oleh pemerintah, berbanding lurus dengan tingkat kemajuan dalam suatu negara. Perihal ini dilontarkan, oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Muhammad Dimyati. Tahun lalu, Saat menyikapi persoalan anggaran belanja riset nasional.

Ungkapan Dimyati yang dimuat dalam laporan Pikiran Rakyat memaparkan, untuk alokasi dana yang dikucurkan dari pemerintah, secara nasional hanya 0,2 persen per Produk Domestik Bruto (PDB). Yang diperkirakan mencapai Rp16 triliun sampai Rp17 triliun untuk tahun 2017.

Menurutnya, angka tersebut masih belum cukup untuk memenuhi standarisasi pemenuhan kebutuhan penelitian. Alasannya, pendanaan ideal untuk jatah belanja riset nasional harusnya sudah mencapai 2 persen untuk penggunaan penelitian nasional.

Jatah anggaran yang sudah ditetapkan, pun masih terbilang miris jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga yang sudah cukup besar fokus mengembangkan bidang penelitian. Dimyati mencontohkan, negara Korea dalam hal ini sudah menganggarkan sebesar 4,2 persen per PDB, Singapura 2,1 persen, dan disusul Malaysia 1 persen.

Artinya, dari pendataan angka anggaran penelitian tiap-tiap negara. Indonesia masih belum bisa memfokuskan faktor kemajuan negara di bidang penelitian, dan asumsi ini pun diperkuat oleh Dimyati. Bahwa Indonesia masih menggunakan cara pandang kebutuhan penelitian sebatas “belanja”, dan masih belum memiliki prinsip bahwa penelitian adalah investasi.

Jika pemerintah fokus dengan sudut pandang bahwa penelitian adalah investasi, sangat dimungkinkan besaran anggaran akan dinaikkan sesuai kebutuhan penelitian. Kendala lainnya yang harus diselesaikan oleh pemerintah ialah, bagaimana pemerintah bisa mendorong banyak lembaga riset untuk bisa bekerja lebih baik.

Pasalnya, sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 106 tahun 2016 dan Undang-Undang No 13 tahun 2016 tentang paten. Bahwa untuk tahun 2017, peneliti sudah tidak perlu lagi mempertanggungjawabkan administrasi yang berbelit, namun harus fokus kepada hasil penelitiannya.

Untuk mendalami perkara seberapa besar anggaran pemerintah untuk penelitian. Teknopreneur berhasil menelusuri, bahwa Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Mohamad Nasir. Telah mengusulkan penambahan dana untuk tahun 2018 sebesar Rp40 triliun, artinya jumlah anggaran tersebut setara 2 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dengan lebih rinci Nasir menjelaskan, untuk tahun 2017 pihaknya telah memberikan anggaran sebesar Rp23 triliun untuk disebarkan di sejumlah kementerian atau lembaga terkait. Dana tahun ini, yang dikelola dari seluruh pemerintahan hanya sebesar 0,23% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sehingga bisa disimpulkan, setidaknya ada penambahan nilai untuk perkembangan penelitian nasional. Jatah yang semula yang direncanakan hanya 0,2 persen, kini Nasir menyebutkan sudah 0,23 persen untuk penelitian yang keduanya bersumber dari PDB nasional.

Namun jika dilihat kembali, untuk sumber anggaran penelitian 2018. APBN adalah sumber pendanaan utama. Berbeda dari perencanaan sebelumnya, untuk angaran penelitian masih bergantung pada PDB nasional yang masih cenderung fluktuatif.

Perlunya Pihak Swasta

Terkait perihal tersebut memang merupakan suatu hal positif, namun dari perubahan sumber dana penelitian masih perlu ditingkatkan dari sektor swasta yang potensinya lebih menjanjikan. dan kerjasama antar pihak swasta merupakan satu langkah penting untuk penelitian nasional.

Hal ini dikarenakan, pemerintah memiliki kewajiban untuk bisa mencarikan dana tambahan untuk perkembangan penelitian nasional. Seperti dikatakan Mohamad nasir dalam laporan Pikiran Rakyat, bahwa pemerintah dari sektor privat, telah melakukan berbagai kerjasama dengan dengan berbagai lembaga luar negeri.

Walau tidak dijelaskan seberapa besar anggaran swasta untuk perkembangan penelitian, Nasir senada dengan Dimyati. Bahwa, berapapun anggaran riset berkorelasi kuat dengan hasil penelitian yang bisa diserap dunia industri.

Bagi Nasir, mengedepankan penelitian akan berdampak pada lahirnya inovasi-inovasi bermanfaat di kehidupan masyarakat. Seperti, ketahanan energi yang menurutnya sudah harus dipikirkan mulai saat ini, ketergantungan terhadap sumber energi fosil harus dirubah dengan inovasi baru. Jika kedepannya negara menambah daftar masalah, lantaran minimnya inovasi nasional. WES/LIN