Suasana Hadirin Techtalk : Fitofarmaka Indonesia, Paduan Tradisi dan Teknologi
Suasana Hadirin Techtalk : Fitofarmaka Indonesia, Paduan Tradisi dan Teknologi

Teknopreneur.com— Bagi masyarakat Indonesia ramuan obat herbal sudah bukan lagi hal yang baru. Dikarenakan, ramuan herbal yang berasal tumbuhan alami sudah lama digunakan secara turun menurun untuk sebagai obat yang berkhasiat.

Perihal ini bisa diketahui, dari relief Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat lokal telah akrab menggunakan ramuan obat herbal. Di era saat ini, jamu adalah salah satu contoh produk obat herbal yang sudah banyak beredar di pasaran.

BPOM melaui Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen, Ondri Dwi sampurno. Mengakui, untuk sebaran produk jamu nasional sudah mencapai 7.710 produk. Dan selebihnya, ada 64 produk Obat Herbal terstandar (OHT), dan 18 jenis obat fitofarmaka.

Menurutnya, jika mengacu pada proses produksi fitofarmaka yang diharuskan memiliki syarat uji pra klinis dan klinis. Dimungkinkan, jumlah produk seperti jamu yang besar 7.710 produk, berpotensi bisa menjadi produk fitofarmaka. Namun ini bisa dilakukan, jika pemerintah serius untuk fokus dalam mengembangkan fitofarmaka, yang terbilang minim edarannya di masyarakat.

Dari 64 produk OHT yang sudah ada, ada beberapa produk terpopuler di masyarakat yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi produk fitofarmaka. Kiranti adalah satunya, produk OHT buatan Dexa Medica memiliki khasiat untuk penyakit yang sering muncul saat datang bulan pada wanita.

Berdasar lansiran Komposisi Produk, Kiranti memiliki bahan baku seperti kunyit, asam jawa, kencur, jahe, dan kayu manis. Bermanfaat mengatasi rasa letih, lesu, nyeri, dan keputihan, yang sering terjadi pada persoalan menstruasi.

Berdasar fakta tersebut, bisa dipastikan untuk produk obat herbal yang menjawab persoalan pasar yang didasari intensitas penyakit. Berpotensi akan terus mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, dan market yang positif obat untuk herbal terstandar di tahun 2025 pun, bukanlah hanya analisa belaka.

Dalam laporan Liputan6, mantan menteri kesehatan 2016 Meinarwati mengungkapkan, masih menyayangkan nihilnya keterlibatan OHT dan Fitofarmaka pada acuan resep Formularium Nasional (Fornas). Dan ditambah Fornas, masih menggantungkan obat kimia sebagai resep obat masyarakat.

Lebih jauh Meinar menambahkan, pembahasan mengenai daftar obat sudah dilangsungkan di tahun 2017. Dengan melibatkan para ahli di bidang herbal, baik itu asosiasi atau pun akademisi. Namun, kesadaran mengenai obat herbal masih sangat sulit.

Padahal, untuk obat-obatan tradisional masih diperbolehkan untuk diresepkan dari dokter kepada pasiennya. Dan tanggungan biaya pun, akan dijamin oleh Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JKN). Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang sudah ditetapkan. WES/LIN