Drs Ondri Dwi Sampurno, Deputi BPOM
Drs Ondri Dwi Sampurno, Deputi BPOM

Teknopreneur.com—Jumlah jenis obat fitofarmaka Indonesia yang beredar di masyarakat terhitung sudah ada 18 produk, dan 3 produk yang sedang dalam uji klinis. Yang dinilai masih minim, dan masih perlu dikembangkan secara optimal oleh pihak terkait.

Pernyataan tersebut ditegaskan langsung oleh Badan Pengawasan Obat dan Makan (BPOM) melalui Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Kosmetik dan Produk Komplemen, Ondri Dwi Sampurno. Menurutnya, ada banyak kendala menghambat laju perkembangan produk fitofarmaka nasional.

Dalam sajian data yang ditampilkan dalam acara diskusi Tech Talk, pada Kamis lalu (9/11). Ondri memaparkan, ada 4 poin permasalahan yang begitu menghambat. Beberapa diantaranya ialah, hasil riset yang dilakukan masih belum bisa menjawab kebutuhan pasar lokal. Hal ini disebabkan, metode uji yang masih menggunakan farmakodinamik (metode yang mempelajari efek biokimiawi), yang sudah tidak lagi digunakan untuk klaim khasiat dari satu bahan yang diuji.

Selanjutnya ialah, kendala yang masuk dalam tahap Uji klinik. Yakni, hasil data riset yang diajukan masih belum memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan. Seperti sampel inklusi, ialah ciri sampel yang harus dimiliki oleh setiap populasi. Yang menurutnya masih belum sesuai ketentuan berlaku, begitu pun dengan sampel ekslusi.

“Inilah, permasalahannya mengapa perkembangan produk fitofarmaka lambat” ungkapnya.

Ondri melanjutkan, bukan hanya faktor metode penelitian saja. Namun, faktor minimnya minat pemodal dan biaya riset yang besar turut mempersulit perkembangan fitofarmaka.

Perihal kendala, pernyataan Ketua Tim Pengembangan Obat Herbal RSUP Dr Sardjito, Nyoman Kertia, dalam laporan Pikiran Rakyat menjelaskan, untuk melakukan penelitian beberapa perusahaan harus mengeluarkan dana sebesar Rp10 miliar sampai Rp50 miliar.

Dikatakan Nyoman, sedangkan untuk angka belanja pemerintah. Anggaran penelitian masih rendah dari yang diharapkan. Besarannya pun hanya sekitar Rp60 juta untuk pengembangan produk fitofarmaka. Dan sejak tahun 2003 hingga kini, produk yang dikenal hanya Nodiar, Rheumeneer, Stimuno, Tensigard, dan X-Gra.

Padahal, jika dilihat prospek market di kalangan Dokter telah sepakat, untuk fitofarmaka akan selalu menjadi acuan resep Dokter bagi para pasiennya. Berbeda dengan negara Cina dan Thailand, yang telah fokus dalam pengembangan produk obat herbal terstandar walau harus mengeluarkan dana yang cukup besar.

“Di Indonesia harus ada kebijakan dari DPR, agar bisa menganggarkan dana untuk penelitian sampai uji kilinis dari tanaman obat sampai fitofarmaka,” tuturnya. WES/LIN