Andi Prazos, Direktur Operasional PT Kimia Farma
Andi Prazos, Direktur Operasional PT Kimia Farma

Teknopreneur.com – Dalam rangka menyukseskan gerakan masyarakat hidup sehat yang direncanakan oleh pemerintah, kementerian kesehatan mengadakan program Indonesia sehat dengan pilar utama yaitu paradigma sehat, penguatan kesehatan, dan jaminan kesehatan nasional.

Dimana secara utuh ini membantu pilar paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional, dimana secara utuh jamu ini adalah pendukung pilar kesehatan.  Dengan meminum jamu secara rutin dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran, sehingga dapat menekan biaya kesehatan.

Pada kegiatan diskusi terbuka Tech Talk yang diselenggarakan The Habibie Center bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia, Andi Prazos, Direktur Operasional PT Kimia Farma mengutarakan, pengembangan obat tradisional di Indonesia mempunyai tujuan mendorong pemanfaatan sumber daya alam, dan ramuan tradisional secara berkelanjutan, dan menjamin pengelolaan potensial Indonesia agar memiliki daya saing, dan menjadikan obat tradisional sebagai komoditi yang bagus.

Andi menambahkan, produk Jamu tradisional di Indonesia di kelompokan menjadi 3 yaitu jamu yang pembuktiannya secara empiris, obat herbal berstandar yang dibuktikan secara praklinik dan fitofarmaka yang telah melalui uji klinik. Pada saat ini kita memiliki 7710 jenis jamu, 64 produk OHT, dan 18 produk fitofarmaka.

Mengenai industri farmasi, karena fitofarmaka tidak terlepas dari industri farmasi. Walaupun masuk dalam kategori industri obat tradisional. Peluang perkembangan fitofarmaka, lingkungan, dan dukungan yang diharapkan. Kalau dilihat dari industri farmasi mempunyai karakteristik sebagai berikut yang pertama mempunyai kapital intensif.

“Jadi kalau kita ingin mendirikan industri farmasi minimal kita memerlukan biaya Rp100 miliar hanya untuk satu sediaan, memang industri farmasi itu adalah industri yang padat modal. Industri farmasi dikaitkan dengan fitofarmaka karena beberapa industri farmasi itu memproduksi fitofarmaka dan 5 industri farmasi yang mengembangkan fitofarmaka,” ujar Andi Prazos.

Ia mengungkapkan, ada dua produk yang di kembangkan oleh industri obat tradisional yang dilakukan oleh industri farmasi tetapi sangat disayangkan saat ini industri tradisional tersebut sudah beralih tangan dan kitapun sangat menyesali karena industri tersebut sudah berdiri sejak 1918. Industri farmasi termasuk herbal sale atau marketingnya itu sekitar Rp7 triliun, terdiri dari sekitar 207 industri farmasi. Dibandingkan dengan pabrik rokok yang omsetnya Rp7 triliun yang dihasilkan oleh 1 industri rokok.

Andi menjelaskan, untuk potensinya sebenarnya bagus dimana memiliki sumber daya alam yang banyak sekitar 90.000 lebih species tanaman ada di Indonesia, dan 9.600 merupakan tanaman obat, banyak fasilitas yang bisa diteliti dengan baik tetapi dihilirisasinya masih terkendala karena masih belum adanya kesepakatan antara peneliti dengan pelaku industri.

“Peluang-peluang ini bisa digunakan untuk membuat obat herbal dimana efek sampingnya bila mengonsumsi obat herbal maka pasti akan rendah di banding kita mengonsumsi obat kimia. Market industri farmasi dapat dilihat, bahwa untuk obat kimia pasar industrinya sekitar Rp67 triliun dan obat tradisional Rp20 triliun. Jika menghasilkan fitofarmaka yang bagus maka potensi pasarnya akan semakin besar,” pungkas Andi Prazos. LIN