Drs Ondri Dwi Sampurno, Deputi BPOM
Drs Ondri Dwi Sampurno, Deputi BPOM

Teknopreneur.com— Indonesia sebagai negara Megadiversity, memiliki potensi besar dari sumber daya alam tanaman obat. Sayangnya, potensi tersebut masih belum bisa dikembangkan secara maksimal yang dibentuk dalam produk obat terstandar dan teruji klinis.

Hal itu bisa didapat dalam pernyataan Badan Pengawasan Obat Makanan Dan Minuman (BPOM), melalui Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen, Ondri Dwi Sampurno. Bahwa untuk sediaan jenis produk yang sudah di edarkan pada masyarakat, terbilang masih sedikit ketimbang produk jamu yang sudah beredar sebanyak 7.710 produk.

Ondri menyebutkan, untuk produk fitofarmaka sendiri saat masih terdaftar 18 produk. Dan ada 3 yang sedang dalam proses uji kelayakan. Sehingga kedepannya, ia berharap setidaknya sudah ada 21 produk fitofarmaka yang sudah layak untuk dikonsumsi masyrakat.

Untuk jumlah Industri, Ondri menuturkan, untuk saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 7 sampai 5 industri yang masih memproduksi jenis obat fitofarmaka.

“Ada sekitar kurang lebih 7 atau 5 industri yang membuat fitofarmaka ini,” ucap Ondri, Kamis lalu (9/11).

Dalam laporan data yang ditampilkan oleh Ondri, ada beberapa contoh produk yang mulai akrab di masyarakat. Stimuno adalah contoh yang pertama, menurut lansiran ObatWiki. Produk yang diproduksi oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals memiliki khasiat untuk memperkuat sistem imun. Dengan bahan, ekstrak tanaman Phyllanthus niruri ukuran 25 miligram (mg).

Stimuno yang sudah terdaftar sebagai obat jenis fitofarmaka, diyakinkan memiliki cara kerja merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak anti bodi, guna meningkatkan daya tubuh meningkat secara optimal.

Selanjutnya ialah Tensigard, yang diproduksi oleh PT. Phapros. Produk yang memiliki khasiat yang cukup positif untuk kesehatan, dengan berbahan dasar dari Apii herba dengan takaran 92 mg dan Orthosiphonis Folium 28 mg, berfungsi menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik di tubuh manusia.

Lebih jauh Ondri menjelaskan, untuk sebab kenapa jumlah produk fitofarmaka Indonesia masih lambat untuk dikembangkan. Menurutnya, tidak lain dikarenakan biaya yang cukup besar untuk melakukan uji riset. Artinya, besar diasumsikan bahwa Indonesia sangat minim investor yang tertarik di bidang kesehatan.

“Fakta lain alasan mengapa perkembangan fitofarmaka lambat, itu tenyata hasil riset dari lembaga riset Universitas itu tidak sesuai dengan kebutuhan pasar,” tuturnya.

Terkait produk fitofarmaka, Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sangkot Marzuki. Yang dimuat dalam laporan Detik Health menjelaskan, untuk produk fitofarmaka, biaya riset dan proses uji ilmiah dinilai sangat penting untuk syarat pengujian. Baik itu pra-klinis atau klinis, ini merupakan elemen penting dalam penelitian obat-obatan dan tidak boleh dilewatkan pada tahap penelitian. WES/LIN