Narasumber Telah Duduk di Kursi Panggung. (kiri) Drs Ondri Dwi Sampurno. Andi Prazos, Barokah Sri Utami
Narasumber Telah Duduk di Kursi Panggung. (kiri) Drs Ondri Dwi Sampurno. Andi Prazos, Barokah Sri Utami

Teknopreneur.com— Produk obat herbal Fitofarmaka sebagai komoditi bisnis industri farmasi, disinyalir bakal mengalami tren kenaikan market positif di tahun 2025. Untuk itu, Badan Pengawas Obat Dan Minuman (BPOM) Akan pantau pengawasan market, guna pertumbuhan bisnis industri farmasi yang positif.

Perihal tersebut dilaporkan oleh Komite Manufacturing GP. PP.Kimia Farma, Barokah Sri Utami yang menjelaskan. Bahwa pertumbuhan industri farmasi lokal tercatat sudah mencapai Rp100 triliun di tahun 2017, dari total pemasukan Gross Domestic Product (GDP). Yang menurutnya, walau angka pendapatan ini masih kurang besar. Dimungkinkan untuk beberapa tahun kedepan sektor industri farmasi lokal mengalami pertumbuhan ekonomi positif.

Dikatakan Sri, dengan berdasar data yang bersumber, Road Map Industri Farmasi Indonesia (2015-2025). Untuk industri lokal di tahun 2025 akan meyentuh market menjanjikan, dengan catatan pendapatan akan menyentuh Rp450 triliun dan akan menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 2 juta orang.

Menyikapi tren positif, BPOM melalui Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen, Ondri Dwi Sampurno tegas mengatakan. Pihaknya, akan mengawasi secara menyeluruh dari pertumbuhan tren positif industri, dengan dua metode pengawasan.

“pengawasan Pre market dan Post Market” ucap Ondri, kamis lalu (9/11).

Untuk Pre market, Ondri telah mengupayakan evaluasi sebelum produk obat herbal beredar di masyarakat. Dan jika ada produk yang bermasalah, tindakan pembatasan peredaran adalah hal yang tepat, untuk menghentikan produksi obat herbal yang bermasalah.

Dengan tindakan tersebut, langkah selanjutnya pendataan ulang produk pun dilakukan. Untuk menerapkan peraturan yang sudah ditetapkan, dengan mencocokan kesesuaian mutu, keamanan, dan manfaat dari produk yang akan dipasarkan.

“setelah dikatakan layak, produk tersebut boleh untuk di edarkan”ucapnya.

Selain Pre market, pengawasan Post market juga dilakukan untuk menjaring produk bermasalah yang sudah beredar. layaknya seperti sidak pasar, obat herbal yang bermasalah ditarik dan didata kembali informasi produknya dari distributor. Guna dicocokan, dengan data komposisi bahan yang sudah didaftarkan sebelumnya.

“produk obat herbal yang tidak memiliki surat ijin dan tidak menuruti cara pembuatan yang baik, itu jelas akan ada sanksi tegas, karena telah melanggar undang-undang”tutupnya.WES